
Asha mengetok pintu kamar Laras, pintu itu segera terbuka dan tampak wajah Laras yang tersenyum menyambutnya.
"Aku baru pulang dari belanja di supermarket, aku membelikan ini..." Asha menyodorkan sebuah plastik besar berisi susu kota untuk ibu hamil dan beberapa macam biskuit serta buah-buahan.
"Oh, terimakasih, mbak...maaf jika aku merepotkan." Laras menyambut kantong belanjaan itu dengan wajah sumringah.
"Boleh aku masuk?" Tanya Asha, yang di sambut anggukan kepala Laras dan memberi jalan untuk Asha masuk.
Kamar Laras tak seberapa besar, hanya sebuah tempat tidur ukuran nomor dua, lemari pakaian, sebuah meja dan kursi rias. Kemudian sebelahnya ada pintu kamar mandi.
"Maaf sedikit berantakan, mbak. Sepertinya mualnya kambuh lagi jadi aku lebih banyak berbaring saja. Sepertinya lebih nyaman kalau sedang berbaring."
"Tidak apa-apa, beristirahat saja." Sahut Asha kemudian menarik kursi untuk duduk, sementara laras dudk di pinggir tempat tidurnya.
"Sebenarnya aku ingin bicara denganmu." Asha menghela nafasnya sesaat.
"Ya..." Wajah Laras terangkat menatap pada Asha, wajahnya yang sedikit bulat itu tampak chubby. Mungkin karena kehamilannya yang sudah memasuki trimester kedua. Perutnya semakin terlihat membuncit.
"Laras..." Asha menatap tajam perempuan yang kini tak berkedip memandang ke arahnya.
"Kamu tahu kenapa aku mengijinkan pernikahanmu dengan mas Gading?" tanya Asha dengan hati-hati.
Laras terdiam sesaat, lalu kepalanya menggeleng perlahan, sedikit menunjukkan keraguan.
"Sebagai perempuan, aku sebenarnya tak pernah memaafkan apa yang telah terjadi antara kamu dan mas Gading. Tak ada perempuan yang benar-benar bisa menerima perempuan lain sebagai madunya, tak ada perempuan yang bisa menahan rasa cemburu jika di hadapkan pada poligami meskipun mungkin bibirnya berkata tidak apa-apa, tetap saja hatinya menangis..." Asha menghela nafasnya sekali lagi, sepertinya begitu berat dia mengatakannya.
Laras mengerjapkan matanya, tetap berusaha mendengar.
"Aku hanya ingin menyelamatkan anak yang ada dalam kandunganmu itu, supaya bisa hidup dengan keadaan terhormat, biar bagaimanapun dia tak punya dosa apapun. Karena itulah dengan erat hati saat kamu datang padaku, aku menikahkanmu pada laki-laki yang telah menjadi suamiku." Asha merapikan roknya, membiarkan Laras tetap diam menatapnya dengan tatapan aneh dan membeku.
__ADS_1
"Apakah kamu pernah disentuh oleh mas Gading, setelah pernikahan kita beberapa bulan yang lalu?" Tanya Asha tiba-tiba, pelan tetapi menyengat sampai ke jantung.
Laras mematung, dia menggigit bibirnya sendiri tapi dia tak perlu menjawab Asha, karena siapapun tahu gading tidak pernah menghampirinya apalagi berbicara padanya. Bahkn mertua dan adik iparnyaselama ini memperlakukannya dengan tidak baik.
Satu-satunya orang yang bersikap baik di dalam rumah ini hanya Asha seorang.
Setiap sebulan sekali Asha akan mengantarnya ke klinik untuk memeriksa kandungannya.
Asha pulalah yang membeli semua kebutuhannya.
Begitu ironis memang kehidupan mereka sebagai dua orang perempuan yang berbagi suami, perlakuan Asha pada Laras sebagai madunya sungguh luar biasa. Mungkin tak banyak perempuan di dunia yang begitu baik sepertinya.
Dan sebagai orang yang ditolak, tidak banyak perempuan yang sekuat laras menghadapi perlakuan mertua dan iparnya yang kadang kala memperlakukannya seperti orang asing bahkan layaknya pembantu.
"Mbak Asha tidak perlu menanyakannya, mbak Asha lebih tahu soal itu." Jawab Laras dengan nada canggung.
"Aku tahu." Akhirnya Laras menyahut, suaranya terdengar datar, seolah yang sedang dibicarakan mereka itu bukanlah hal yang besar baginya.
Mata Asha mengerjap sesaat mendengar ucapan Laras.
"Aku sangat tahu keadaanku, mbak. Di rumah ini aku bukann siapa-siapa. Aku hanya seorang perempuan yang tersesat dalam rumah orang lain hanya karena nasib burukku. Mendapat status terhormat sebagai istri dari pak Gading saja, aku sudah sangat bersyukur, karena dengan begitu untuk sesaat aku bisa menyembunyikan aibku ini."Laras memegang perutnya yang terlihat sedikit membuncit dari balik daster longgarnya.
Asha terdiam di atas kursinya, baru kali ini dia benar-benar meluangkan waktunya untuk berbicara panjang lebar soal hubungan mereka dan Laras meresponnya pembicaraan itu dengan kalimat yang panjang.
Selama ini, Laras lebih banyak diam dan bersikap penurut dengannya tanpa banyak keluhan.
"Tanpa perlu aku mengatakannya, aku adalah orang yang begitu beruntung mendapat belas kasihan dari mbak Asha. Jika mbak bertanya itu untuk mencari tahu tentang perasaanku pada pak gading, mbak Asha tidak perlu kuatir, hubungan percintaan satu malam tidak bisa serta merta membuat kami saling jatuh cinta. Anggaplah malam itu aku sedang sial, dan aku harus menanggung kesialan itu..." Laras terkekeh, tawanya terdengar garing.
"Sekarang mbak Asha bisa langsung saja berbicara padaku tentang maksud mbak Asha, tidak perlu canggung. Aku sudah menganggap mbak Asha adalah kakakku di sini, satu-satunya orang yang masih menganggapku sebagai manusia." Kalimat itu terdengar ngilu di telinga Asha.
__ADS_1
"Laras, aku tahu sebagai suami, mas Gading tidak melakukan kewajibannya padamu dengan benar, tetapi melihat latar belakangnya tak ada yang bisa memaksakannya melakukannya. Aku tidak tahu apakah pernikahanmu dan mas Gading ini adalah keputusan yang benar ataukah sebenarnya hanya menjebakmu dalam kepalsuan. Tetapi niatku sesungguhnya hanya ingin menyelamatkan keadaan yang tiba-tiba memburuk pada saat yang tidak tepat. Aku telah membicaralan hal ini dengan mas Gading, dia menyetujui tetap menjadi suami bagimu sampai bayimu lahir." Asha mengatakannya dengan intonasi yang lugas.
"Mas Gading bersedia menceraikanmu, setelah kamu bersalin. Dan..." Asha membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering dengan salivanya sendiri.
"Dan..." Mata Laras tak berkedip, terpaku pada air muka Asha yang tiba-tiba bimbang.
"Dan...aku bersedia merawat anakmu setelah kamu di ceraikan oleh mas Gading." Lanjut Asha kemudian.
Laras terpekur, membisu. Mulutnya terbuka sedikit tapi kemudian terkatup lagi.
"Aku akan merawat dan membesarkannya seperti anakku sendiri." Kalimat itu terdengar begitu tegas seolah ingin membuang semua keraguan Laras.
Beberapa saat mereka berdua saling diam dan saling pandang. Laras dengan gemetar menyentuh perutnya sendiri, menunduk sejenak lalu mengangkat wajahnya.
"Aku...aku juga mungkin...tak menginginkan anak ini. Aku bahkan sudah berusaha menggugurkannya. Tak ada yang penting darinya, aku akan melakukannya jika mbak Asha menginginkannya." Laras menggigit bibirnya, mata itu bulat menekan perasaannya yang di simpannya diam-diam dalam hati.
"Ku rasa kita sudah menyepakati hal ini. Terimakasih sudah bisa mengerti." Asha mengucapkannya dengan lega, sementara Laras menundukkan wajahnya, tak lagi bicara.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1