
Sebelum sempat mama gading menyela, Gading bersuara dengan intonasi yang berwibawa,
"Laras Rismawati binti alm. Hariduan , saya talak engkau. Mulai saat ini saya bebaskan engkau dan melepas tanggung jawab saya terhadapmu,"
Setelah mengucapkannya, Gading berdiri.
"Aku telah menceraimu, Laras. Dengan benar dan beradap. Tak ada hubungan apapun di antara kita." Mata Gading berkilat pada Laras yang membeku.
Dia berdiri dari duduknya seperti telah melepaskan beban yang menekan pundaknya.
"Gading...!" Bu Daniah hendak berdiri hendak menahan Gading, tetapi Pak Pramudia menahan lengan istrinya itu.
Gading berbalik pada mamanya, tatapan dalam mata merah yang kelam.
"Mama, tidak perlu bertanya lagi, tidak perlu berusaha meluruskan sesuatu yang sudah bengkok dari awal. Laras bukan lagi urusanku, anaknya pun bukan tanggungjawabku." Gading meraih lengan Asha.
"Aku lelah, bisakah kamu memijat leherku sekarang, sayang?" Permintaan itu sesungguhnya hanya formalitas saja. Gading hanya ingin membawa istrinya dari situasi yang tidak nyaman itu.
Asha menganggukkan kepalanya, dan berdiri.
"Mama, papa... selamat malam, sepertinya kami akan naik lebih dulu." Asha membungkukkan badannya. Matanya mencuri pandang pada Laras yang terdiam tak berkedip di tempatnya duduk, seperti orang yang shock berusaha mencerna apa yang kini terjadi padanya.
"Selamat malam, pa...ma..." Gading berucap seraya meraih tangan Asha, membawanya meninggalkan ruangan itu.
"Sebaiknya kamu beristirahat sekarang Laras, besok aku akan membantumu berkemas." Asha berucap pelan saat Gading menggandengnya melewati kursi yang di duduki oleh Laras.
Laras termangu menatap punggung dua orang yang bergandeng tangan lewat depan mukanya.
...***...
"Apa yang membuatmu murung, sayang?" Gading memeluk Asha dengan penuh kasih sayang, di ciumnya ubun-ubun istrinya itu.
__ADS_1
Mereka berdua baru saja menunaikan sholat subuh, Asha melepaskan mukenanya dan naik ke tempat tidur karena Gading memanggilnya untuk mendekat.
Seperti biasa, mereka berdua selalu bangun untuk sholat subuh ketika adzan terdengar berkumandang, sholat dalam keadaan suana pagi yang hening itu terasa lebih khidmat.
Setelah sholat subuh mereka akan tetap berada di dalam kamar, mungkin berbincang atau sekedar mengobrol sesuatu hingga fajar menjelang.
"Aku tidak murung, hanya sedang berfikir..." Asha meringkuk di pelukan gading seperti bayi.
"Apa yang kamu fikirkan?"
"Kenapa Laras melakukan ini semua kepada kita?" Asha bergumam.
"Akupun penasaran, kenapa Laras menjebakku dan membuat kita salah paham begitu besar." Gading menghela nafasnya.
"Aku merasa bersalah tak memberimu kesempatan lebih banyak untuk menjelaskan di awal." Asha menggigit bibirnya, penuh rasa bersalah.
"Aku yang bersalah Asha, aku melakukan satu kesalahan dengan bersikap kekanak-kanakan. Aku tak harus membuat semuanya kacau dari awal." Pelukan Gading semakin era, dia mencium puncak kepala Asha dengan penuh sesal.
Mereka berdua telah melihat bersama hasil tes DNA yang menyatakan bahwa Gading bukanlah ayah biologis Zyan, semua kesalahpahaman antara mereka selesai.
"Jika kamu marah pada Laras, kamu tidak perlu menahannya, kamu berhak melampiaskannya." Kata-kata itu selalu di ucapkan Gading pada Asha, tetapi istrinya ini menggeleng.
"Kita mempunyai bukti untuk menjerat Laras dalam pasal penipuan , dia telah membuat kita berdua menderita. Jika kamu ingin aku melakukannya, cukup katakan padaku. Aku berjanji padamu, Laras akan berada di balik penjara." Tawar Gading.
"Aku tak lagi punya rasa marah, aku hanya kasihan padanya, dia telah menyia-nyiakan hidupnya." Jawab Asha.
"Jika kita melaporkannya, siapa yang akan mengurus anaknya? Ibunya mungkin tak bisa di maafkan tapi anaknya tak bersalah. Sebuah hukuman tidak harus dengan menghajarnya..."Asha menyunggingkan senyum tipis dan semakin menyusup ke balik pelukan Gading.
...***...
Asha mendorong pintu kamar Laras perlahan, dia masuk tanpa mengetuk pintu dulu karena ketika dia keluar dari kamarnya, pintu itu sudah terbuka sedikit.
Di dalam ruangan itu, Laras sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Dia tampak terkejut, dan terlihat sedikit gugup tetapi dia tak segera berdiri dari duduknya, seperti berusaha melawan ketakutannya sendiri. Laras hanya mengangkat wajahnya sebentar tetapi segera menunduk lagi, tangannya sibuk melipat beberapa pakaian dengan gemetar yang tak bisa di sembunyikannya.
__ADS_1
"Aku harap tidak mengganggumu." Suara Asha terdengar tenang.
Laras sesaat tertegun, di angkatnya wajahnya, sebelum kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah bawah.
"Kamu akan datang untuk menghakimiku? Marah padaku? Mencaci maki aku atau mungkin ingin menghajarku? Aku telah siap untuk itu." Suara Laras terdengar berusaha tenang dan tak menunjukkan ketakutan meskipun dia sebenarnya begitu cemas dengan apa yang akan dilakukan Asha.
Jika dia berada di posisi Asha, dia tahu seperti apa rasanya. Semakin dia merasa wajar untuk tidak menerima perbuatannya, senakin dia takut Asha akan bersikap tegas padanya.
Asha menarik kursi rias di sudut, duduk dengan perlahan, suara derit kaki kursi bergesek di lantai terasa begitu provokatif di telinga Laras.
Orang yang tahu dengan kesalahannya, tentu saja akan merasa takut.
"Jika aku ingin mengamuk padamu, sudah kulakukan sejak dua minggu yang lalu. Kamu telah membuat kejahatan yang besar Laras, memfitnah dan menipu." Jawab Asha tanpa terlihat emosi sama sekali di raut wajahnya.
"Kamu ingin melaporkan aku pada polisi? kamu akan memasukkan aku ke penjara? Lakukan saja aku sudah tak perduli lagi apa yang terjadi padaku." Laras berucap lagi, terlihat tak gentar meski suara yang keluar gemetar, mukanya semakin memerah.
Asha menyilangkan kakinya menatap Laras yang masih duduk di lantai sambil memasukkan barang-barangnya, bergantian melihat pada Zyan yang tertidur lelap di atas tempat tidur.
"Aku sebenarnya sangat ingin mempolisikanmu, Laras...sangat ingin..." Asha melipat kedua tangannya di atas paha.
"Tapi aku sekarang kehilangan seleraku melakukannya. Melihatmu seperti ini, aku merasa tak pantas nenghakimimu. Tuhan itu ada, aku tak perlu capek untuk membuka semua kebenaran. Aku hanya perlu melakukan apa yang menjadi bagianku sebagai manusia dan Tuhan akan melakukan bagianNya." Asha berucap dengan suara yang begitu teratur.
Laras terdiam, bibirnya gemetar hendak mengucapkan sesuatu tetapi dia kehilangan kata-kata.
"Aku hanya ingin bertanya padamu, Laras...kenapa kamu memilih mas Gading dan aku sebagai orang yang harus menanggung semua ini? Aku yakin kamu mempunyai alasan kenapa kamu melakukannya." Mata Asha menyorot tajam pada Laras yang mendadak tak bergeming di tempatnya.
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all...