
Darius menggerayangi Laras seperti perempuan itu hanya boneka tak bernyawa, terlihat dia begitu menikmati perlawanan perempuan yang gemetaran menggeliat dalam pelukannya.
Laras memejamkan matanya, air matanya mengalir deras, lewat sudut matanya.
"Kamu harus menghancurkan hidup Asha dan Gading!" Gertaknya di telinga Laras.
Laras tetap tak bergeming, hanya dalam hati dia menjerit,
"Tidak! Aku tidak bisa lagi, aku tak bisa membuat mbak Asha menangis lagi. Bagaimanapun juga dia telah begitu baik padaku. Meski sejahat apapun aku, aku tak pantas membuat mbak Asha menderita lagi. Hanya dia yang cukup manusiawi memperlakukan aku di antara semua orang yang ku kenal." Laras menggigit bibirnya.
"Kenapa? Kamu lebih suka aku menyiksamu sepanjang hidupmu?" Tanya Darius dengan suara rendah, bibirnya menyentuh telinga Laras, nafas Darius terasa panas menyentuh cuping telinganya menandakan bahaimana dekatnya Darius padanya.
"Kamu boleh menyiksaku, aku sudah terbiasa dengan ini! Tapi aku berhenti menuruti perintahmu untuk menghancurkan rumah tangga mereka!" Sekarang Laras dengan segenap keberaniannya menaikkan kepalanya, menantang mata jahat Darius.
"Oh, ya?" Darius menaikkan alisnya, dengan seringai yang tak lepas dari bibirnya.
"Kita coba ingatkan lagi rasanya, siapa tahu kamu lupa..." Darius menarik kedua sudut bibirnya ke bawah.
Wajahnya menyusup di antara rambut Laras. Perempuan dalam dekapannya itu semakin kuat memejam matanya, sesungguhnya di dalam hatinya, dia sangat ingin berontak, tapi dia tahu meskipun dia melawan sekuat tenaga sekalipun, tak akan merubah keadaan. Berteriakpun tak berguna, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
Darius mempunyai surat nikah palsu yang di buatnya untuk menjadi tameng ketika ingin menguasai Laras. Orang akan menertawakannya jika dia mengatakan suaminya telah memperkosanya. Statusnya adalah istri tertulis dari laki-laki yang sedang berusaha menggaulinya dengan kasar ini.
Laras tak akan berdaya kecuali menyerahkan diri dan kehormatannya padanya, suka atau tidak.
Laras terdiam pasrah saat Darius mulai mencumbuinya, melucutinya dengan raut mengancam penuh amarah.
"Laras, kita telah sepakat mengakhiri semuanya dengan baik, bukan? hanya dengan menjadi orang ketiga dalam hubungan Asha dan gading. Tapi, kenapa kamu mau kembali pada lubang yang sama?"
__ADS_1
Laras memalingkan wajahnya, matanya masih terpejam seolah tak ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Darius padanya, dan mulutnya tetap saja bungkam, membuat Darius tampak semakin menjadi-jadi.
Dia tak tahu, apa yang menjadi dosa dan kesalahannya, hidupnya menjadi begitu sial dan menderita.
Dulu dia mengira saat Tuan dan Nyonya Giraldi mengambilnya dari Panti Asuhan sebagai puteri angkatnya, hidupnya akan jauh berubah. Di pelupuk matanya adalah kebahagiaan yang tak terbayangkan, mempunyai orangtua dan saudara, mempunyai rumah dan mendapatkan banyak kasih sayang.
Saat itu dia masih sangat belia, masih berada di kelas 7 SMP.
Pertama kali dia masuk rumah tuan dan nyonya Giraldi yang di panggilnya dengan papi dan mami itu, dia seperti melangkah masuk ke dalam sebuah istana. Atap rumahnya begitu tinggi, lantainya dari marmer yang mengkilat. Dua orang anak laki-laki menyambutnya, tiga dan lima tahun di atasnya.
"Ini adalah kakakmu, Darius dan David." Itu adalah perkenalan pertama mereka.
David anak sulung yang lebih dewasa, berwajah sedikit ramah meski tampak tak terlalu perduli dengan kehadirannya. Dia kuliah di tingkat pertama sebuah universitas.
Darius anak kedua itu jauh dari wajah antusias, tak banyak bicara, dia terlihat pendiam dan dingin.
Dari sana lah ternyata takdir baru harus di terimanya, berada dalam istana seperti puteri tetapi lebih kejam dari neraka.
Darius mencumbui Laras dengan kasar, kemudian mengagahi perempuan yang berusaha berontak itu dengan liar tanpa perasaan, menusuk-nusuk tubuhnya tanpa memperdulikan kesakitan yang di rasakan oleh Laras menerima setiap hentakan dan gigitan yang menghujam tubuh mulusnya.
Akhirnya, Laras terdiam pasrah, percuma dia berontak, Darius menindihnya dengan kuat.
Dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya, Laras menangis tanpa suara, bibirnya bawahnya bertaut dengan giginya. Dia bertahan dengan menggigit bibirnya sendiri, terasa perih karena giginya hampir merobek kulit bibirnya.
Tak ada penolakan, tak ada erangan dan tak ada reaksi apapun dari Laras untuk menyatakan bahwa dirinya adalah mahluk hidup, dia hanya diam seperti mati, terbaring dengan mata terbuka menatap langit-langit kamar itu.
Untuk kesekian kalinya, Darius melakukannya untuk menunjukkan betapa dia begitu kuat mengendalikan hidup Laras.
__ADS_1
"Hidupku sendiri sudah mati, sejak aku masuk dalam keluargamu..."Batinnya berteriak dalam lautan kesedihan yang kini dirasakannya, dadanya bergemuruh seperti hendak meledak tapi ditahannya dengan terus menggigit bibir bawahnya, sampai-sampai bibir yang pucat itu berdarah.
Darius melampiaskan semua kemarahan dan kekesalan yang tampak dari raut wajahnya, dengan hentakan-hentakan kasar. Sekujur tubuh Laras yang polos bahkan memerah oleh tiap cengkeramannya.
Darius seakan menggagahi patung tak bernyawa, setelah dia puas, Laki-laki itu berdiri dengan keringat yang mengucur membasahi dahinya.
Seringai seperti serigala yang begitu puas dengan mangsanya yang tak berkutik, tampak nyata di bibirnya.
"Kamu akan mengalaminya sepanjang hidupmu jika kamu tidak menurutiku. Kecuali aku bisa memiliki Asha, aku tak akan lagi menyentuhmu." Suaranya yang ngos-ngosan itu terlihat kejam. Dia terlihat begitu puas telah melampiaskan hasratnya pada perempuan yang kini terbaring di atas tempat sofa itu, nyaris tergeletak seperti seonggok kain, yang diam tak bergeming tanpa sekalipun berbicara maupun membuka matanya bulat-bulat dalam tubuh tak terbalut oleh apapun lagi.
"Aku tak akan lagi melakukannya, Kak. Aku rela menerima siksaanmu, sampai aku mati tapi aku tak mau melakukan hal itu lagi. Mereka adalah orang baik, Asha dan pak Gading adalah orang baik...aku tak mau lagi..." Suara itu bergetar parau dari bibirnya yang bergerak, meski tubuhnya tak bergeming.
"Kamu sekarang kebih keras kepala setelah kamu keluar dari rumah Gading, entah apa yang meracuni otakmu!" Darius berucap kesal sambil mengenakan celananya kembali.
Kemudian matanya tertuju pada bayi yang tertidur lelap di atas tempat tidur.
"Kamu mungkin bisa menahannya, tapi anakmu tidak..." Kata-kata itu hampir tak terdengar tetapi sungguh membuat Laras langsung bangun dan berdiri. Lalu meraih taplak meja di sampingnya untuk menutup tubuhnya, dengan tergesa.
"Ja...jangan...jangan menyentuh Zyanku." Laras merentangkan tangannya, matanya nyalang menghalangi pandangan Darius dari anaknya.
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all...