PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
PART 6 KUNCI SAJA PINTUNYA


__ADS_3

Asha menempati kamar Gading, sementara Laras tinggal di kamar sebelahnya, sebuah kamar kosong yang biasanya menjadi kamar tamu bagi keluarga atau teman Gading yang menginap di rumah mereka.


Selama dua hari kepulangan mereka, suasana rumah itu mendadak lebih tegang dari biasanya. Laras tak berani keluar dari kamarnya kecuali jika Asha memanggilnya keluar.


Dua malam ini pun, mereka makan tak pernah benar-benar lengkap di meja makan. Laras selalu menolak hadir dengan alasan dia sedang mual dan pusing akibat hamil muda.


Dan Gading terlihat menyibukkan diri dengan pekerjaannya, dia lebih banyak di depan laptopnya sampai tengah malam, karena dia sedang cuti kerja, kalau tidak di dalam kamar dia akan keluar entah kemana.


Tak ada suasana kebahagiaan pengantin baru di dalam rumah itu, karena ada dua istri yang tinggal bersamanya, salah satunya istri yang sangat di inginkannya tetapi begitu dingin padanya, di lain pihak ada istrinya yang lain, yang terpaksa di nikahinya karena kesalahan satu malam yang di bencinya.


Di atas meja makan sudah tersedia makan malam, semua orang telah duduk di kursinya masing-masing.


Ibu Daniah menarik kursi roda pak Pramudia lebih dekat padanya.


Pak Pramudia, ayah Gading memang sudah masuk purna tugas, apalagi kesehatannya tak cukup baik setelah terserang stroke ringan beberapa bulan lalu.


Gading menarik kursi di seberangnya,


"Mana Asha?" Tanyanya sambil melirik kursi di sebelahnya yang kosong.


Gisel duduk di sebelah ibunya dengan wajah tak bersahabat, matanya tertuju pada Asha yang tiba-tiba muncul bersama Laras.


"Itu..." Gisel menunjuk dengan ujung mulutnya yang meruncing.


Gading menoleh saat Asha duduk di sampingnya, tersenyum hangat. Wajah itu terlihat berbinar dari biasanya yang seperti langit mendung.


"Duduklah..." Asha memberi isyarat pada Laras untuk mengambil tempat di sebelahnya.


Laras yang tak pernah keluar itu segera duduk dengan wajahnya yang tertunduk, di ikuti tatapan semua orang.


Tanpa banyak bicara Gading memimpin do'a makan, kemudian menyantap makanan.


Laras tak berani mengangkat wajahnya, pada keluarga mertuanya, tak ada yang bersikap ramah padanya.


"Makan yang banyak, Laras...bayimu memerlukan banyak asupan nutrisi." Ucap Asha sambil meraih mangkok sayur ke hadapan Laras.


"Terimakasih, mbak..." Laras menganggukkan kepalanya.


"Tidak usah melayaninya berlebihan, dia bisa melayani dirinya sendiri." Tegur ibu Daniah.

__ADS_1


Asha sesaat menatap mertuanya, kemudian mulai makan tanpa menyahut apa-apa.


"Ma, dia juga istri Gading, tidak usah terlalu ikut campur." Pak Pramudia menoleh pada istrinya, dengan suara hampir tak kedengaran.


Beberapa hari ini, atmosfir di dalam rumah mereka pasca pernikahan Gading menjadi sedikit panas.


"Mas, mau tambah nasinya?" Asha tiba-tiba menyentuh bahu Gading, tersenyum manis pada suaminya itu.


Gading sejenak menatap Asha, ini adalah sikap pertama Asha yang di tunjukkannya begitu baik pada Gading setelah beberapa hari ini dia begitu dingin. Saat Gading masuk kamar pun, biasanya Asha terlihat sudah berpura-pura tidur dan memunggunginya. Bicaranya pelit bahkan kadang tak menyahut saat Gading bertanya.


"Ya..." Meskipun sebenarnya Gading sudah merasa kenyang, tetapi karena Asha menawari mengambilkan nasi ke piringnya, mau tidak mau Gading mengiyakan. Ini adalah moment langka, Asha mungkin sedang berusaha mencairkan suasana hubungan mereka yang sedingin es beberapa hari terakhir ini.


Asha menyendok nasi untuk Gading, kemudian mengambilkan potongan ayam rica kesukaan Gading.


"Aku memasaknya tadi dengan mama, rasanya enak kan?" Tanya Asha. Gading memasukkan potomgan ayam itu sambil menganggukkan kepalanya, entah angin apa hari ini Asha kembali normal seperti Asha yang di kenalnya selama ini.


Mungkin Asha, mulai berdamai dengan hati dan kenyataan atau dia sudah memaafkan Gading, apapun yang mendasari sikap Asha, Gading merasa senang.


Acara makan malam itu berakhir, di mana Asha tampak berusaha mencairkan suasana, dia banyak ngobrol dan berbicara dengan semua orang, sekali lagi tal biasanya. Sementara Laras duduk di sampingnya, makan hampir tanpa suara, seperti berlindung pada Asha atas tatapan tak suka hampir semua orang padanya.


Yang menyelamatkannya bisa berada di sana adalah dia sekarang adalah istri kedua Gading yang sah atas ijin istri pertama.


"Sayang..." Gading tak tahan untuk tak memeluk Asha dari belakang, yang baru saja berganti pakaian tidur dengan sebuah daster pendek tanpa lengan.


Malam ini usai makan malam, Gading merasa respon Asha begitu hangat.


"Jangan begini, mas...aku susah bernafas, di peluk seperti ini." Asha menggeliat melepaskan diri.


Sesaat kemudian dia berbalik pada Gading, berdiri mendonggak pada suaminya itu.


"Aku mau bicara dengan kamu sebentar, mas." Asha menggandeng tangan Gading dan duduk di pinggir tempat tidur. Dengan raut bingung, Gading menurut duduk di samping


Asha.


"Aku ingin bertanya satu hal padamu,lqw mas... aku harap menjawabnya dengan jujur." Asha menatap wajah Gading lekat.


Gading tak bergeming, matanya tertuju pada wajah Asha yang nampak serius.


"Aku hanya ingin memastikan diri, untuk kelangsungan hubungan pernikahan kita selanjutnya."

__ADS_1


"Kamu ingin bertanya apa?"


"Apakah benar mas menghamili Laras di luar kesadaran mas?"


"Astaga, Asha...sudah berapa kali harus ku katakan, aku benar-benar mabuk sampai-sampai tak menyadari apa yang ku lakukan, semua terjadi begitu saja." Gading mendelik pada Asha. Rasanya dia kehilangan akal untuk menjelaskan semuanya.


"Kamu benar tidak pernah menjalin hubungan apapun dengannya?"


"Aku bersumpah, Asha...aku bersumpah, aku tidak mengenalnya. Hanya saja kesalahanku tak bisa menjaga kesadaranku dengan benar, aku menyesalinya."


Asha menghela nafas sesaat, wajahnya menghangat.


"Aku sudah merenungkannya beberapa hari ini, setiap orang mungkin mempunyai kesalahan dan setiap orang berhak di beri kesempatan, apalagi mas Gading mengatakan semuanya tidak di bawah kesadaran." Asha memegang lengan Gading, yang melongo menatap pada Asha.


"Aku minta maaf atas sikapku pada mas beberapa hari ini, menerima semuanya tidak mudah, jadi aku perlu waktu untuk beradaptasi dengan kenyataan.. "


"Sayang..." Belum sempat Asha menyelesaikan kalimatnya, Gading telah memeluk Asha dengan erat.


"Aku yang bersalah padamu, aku yang harus minta maaf padamu telah mengacaukan pernikahan kita seperti ini."


"Aku juga minta maaf, mas...mungkin ini takdir Tuhan. Aku..."


Bibir Asha yang merah itu tiba-tiba saja sudah terbungkam, bibir Gading menempel di sana dengan begitu lekat.


"Um..." Asha yang tidak dalam keadaan siap atas perlakuan mendadak itu hanya melotot dengan tegang, mulutnya tersumpal begitu saja.


"Aku hanya mencintaimu, Asha..." Gading menarik tubuh Asha pada tubuhnya, keduanya menyatu sesaat, sebelum Asha mendorong tubuh Gading dengan perlahan.


"Kunci pintunya dengan benar..." Ucap Asha pelan.


"Hh..."


"Aku akan melakukan ibadahku dengan menjadi isterimu seutuhnya."


"Apa...apa maksudmu?"


"Kunci saja pintunya suamiku..."


...Terimakasih sudah membaca novel ini, love you buat semua readers...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....


__ADS_2