PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 41. Cinta Sebesar Itu


__ADS_3

Gading berbalik mendahului langkah Asha, sikap perempuan ini membuatnya sangat bersemangat.


"Sayang, tidak usah memeriksa Zyan, dia tak bangun lagi. Lihatlah dia berhenti bersuara, sepertinya kembali tidur." Ucap Gading dengan suara sedikit tak sabar. Nafasnya turun naik terdengar.


Dia tiba-tiba merasa tak sabar untuk mencumbu sang istri yang tadi terlihat menggairahkan di bawah bintang malam.


Asha tak lagi berbicara, dia pasrah saat Gading mulai menciumi lehernya dan mencecap bibirnya dengan sedikit rakus sehingga tak ada yang keluar dari sana kecuali de$@h yang terdengar tak berirama.


"Sayang, Zyan..." Nafas Asha sedikit ngos-ngosan.


Ia masih terus berusaha agar Gading bisa memberi tempat untuk Zyan di keluarga ini. Percuma jika mereka semua menyayangi Zyan tetapi Gading malah acuh dan tak peduli. Hanya itu yang terlintas di benaknya sekarang.


Wajah marah sang mertua tiba-tiba lewat di depan matanya. Membuat Asha menghela nafasnya. Sang mertua yang menuntut dia segera hamil itu sungguh mengganggu otaknya, dia tak tahu sebenarnya obsesinya sendiri menyetujui Zyan menjadi anak adopsi mereka. Apakah karena kemurahan hatinya ataukah karena ketakutannya pada kemurkaan sang mertua. Jauh di lubuk hatinya dia dilema.


"Sayang, aku rindu bermesraan denganmu, bisakah kita melupakan sejenak soal bayi itu, soal obsesi mama, soal apapun yang kini ada di kepalamu..." Gading menciumi pundak Asha, tangannya menyusup di balik tengkuk Asha dan menyeret jarinya di kulit kepala Asha di antara gerai rambut istrinya itu.


Asha tak menjawab, l3nguhnya jelas mengisyaratkan dia menikmati setiap sentuhan sang suami.


"Ayolah..." Gading menarik Asha dan mendorongnya perlahan ke atas tempat tidur lalu dengan sedikit tak sabar dia membuka sendiri satu demi satu kancing kemejanya tanpa mengalihkan tatapannya dari Asha yang terlentang pasrah menantikan apa lagi yang akan di lakukan suaminya itu.


"Sayang, aku tak pernah bosan melihatmu begitu." Gading menyeringai sebelum kemudian dia men!ndih Asha dengan tak sabar. Dengan lututnya dia menahan berat tubuhnya sendiri.


"Ugh..." Suara Asha malah membuatnya semakin bersemangat melancarkan gerakan yang lebih agresif. Ciumannya semakin liar, suara bibir yang beradu seperti suara kecapan basah membuat Gading di mabuk gairah.


"Asha, berikan aku..." Nafas Gading tersengal dia hampir tak bisa mengendalikan gairahnya. Lalu dengan tanpa meminta persetujuan Asha dia mencumbv istrinya itu. Cium@nnya kian memanas menjalari setiap lekuk tubuh Asha yang mulai mengejang.

__ADS_1


"Mas..."er@ngan Asha membuat Gading semakin liar, dan dalam sesaat kemudian keduanya sudah bergelvt seakan melupakan setiap pertikaian dan perdebatan yang belakangan membuat kehidupan rumah tangga mereka tergoyang.


Gempuran sang mama yang kian tak masuk akal serta kehadiran bayi Zyan yang membuat dilema hati Gading, benar-benar nyaris menguras kesabaran Gading tetapi saat dia merasuk dalam pelukan sang istri, dia menyadari posisi Asha sekarang tak selalu karena keinginannya.


Sebagai suami dia sudah mulai mencari jalan keluar dengan diam-diam menyelidiki kehidupan Laras.


Dia tiba-tiba curiga, bukan kebetulan Laras masuk ke dalam rumah tangganya itu.


"Tunggulah, aku akan membuktikan, ada seseorang di balik semua ini, dan aku bersumpah akan membalas setiap waktu dan air nata yang telah di ambil dari kita berdua." bisik Gading dalam hati.


Tubuh sang istri itu sudah menggeliat menggelinjang dalam dekapannya, des@h4n dan suara desis yang singgah di telinga Gading membuatnya semakin bersemangat. Dia tahu benar, istrinya itu hanya mencintai dirinya.


Malam turun, suara l3nguh sepasang suami istri yang sed@ng menunaikan ibadah berbalut hasrat itu memecah hening, memenuhi udara. Cinta mereka sesungguhnya sebesar itu.


...***...


Suara guyuran di dalam kamar mandi itu telah lama berhenti tetapi Laras tak jua muncul dari sana.


Wanita itu memang sekarang tengah mandi.


Tadi, beberapa saat yang lalu, baru saja Darius kembali menyiksa ia tanpa ampun. Tangisan perempuan itu begitu nikmat di telinganya. Yah, dia tak punya rasa apapun kepada Laras kecuali rasa dendam dan kemarahan. Perempuan ini hanyalah pelampiasan baginya.


Demi mendiang adiknya, Darius telah di abaikan oleh ibunya dan kehadiran Laras semakin membuatnya kehilangan perhatian ibunya, baginya Laras pantas menerima setiap kemarahan yang di tumpahkannya sekarang.


"Si@l!" Darius tiba-tiba mengumpat, dia merasa kesal setiap kali ingatannya pada masa lalu itu muncul.

__ADS_1


Setiap hukuman yang di terimanya dari sang ibu, kalimat-kalimat pembanding sang ayah yang membandingnya dengan David masih terasa berdengung di telinga.


"B@ngs4t!" Puntung rokoknya di lemparkannya begitu saja ke dinding.


Dulu kala, dia pernah mendapatkan kasih sayang dari pembantu mereka dan cinta seorang adik polos yang berasal dari anak pembantu itu. Darius merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang tulus dari dua orang itu. Kemudian, entah mengapa rasa simpatiknya berubah menjadi rasa posesif untuk memiliki gadis kecil itu. Diabahkan ingin memiliki gadisbm kecil bernama Asha itu selamanya.


Ketika gadis kecil yang sempat hilang jejak itu di temukannya, dia telah terlambat, gadis kecil yang tumbuh menjadi Asha dewasa itu telah menemukan sandarannya, seorang laki-laki yang di cintainya.


BUK!!!


Sebuah tinju melayang ke tembok kost Asha itu menimbulkan bunyi berdebuk. Buku jari Darius terkelupas dan berdarah, tetapi ekspresinya tak menunjukkan rasa kesakitan sama sekali.


Rahangnya tertangkup, bergetaran.


Darius benci memikirkan ada lelaki lain yang di sukai Asha melebihi dirinya.


Sakit hati yang bertumpuk , kemarahan, cemburu yang menggunung telah membentuk pribadi yang kejam tanpa sedikitpun rasa iba dari seorang Darius.


Nafsu kejinya baru saja di lampiaskannnya pada adik angkatnya itu, rasanya menyenangkan saat melihat Laras begitu tak berdaya di bawah kendalinya. Selama ini dia tak punya kuasa atas apapun, ibunya yang tak perduli padanya, ayahnya yang lebih menyukai kakak lelakinya dari pada dirinya, dan ketika dia sedikit saja membuat kesalahan maka sang ibu tak akan segan untuk menghukumnya.


Tetapi atas Laras, dia bisa melakukan apapun, tanpa banyak perlawanan, itu membuatnya candu untuk terus menyiksa gadis itu.


"Dia pasti akan memilih itu. Tidak ada jalan lain baginya kecuali menurutiku." Darius mendengus sendiri. Kesal dan puas menyelusup ke dalam dadanya. Wajah Laras yang sekarang mulai berani padanya, sedikit banyak membuatnya jengkel. Seperti seorang joki yang terlepas kekang dia merasa perlu menanamkan kembali perasaan takut pada Laras.


Krekk!

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka. Laras sudah berpakaian di dalam kamar mandi. Tubuhnya terlihat lebih kurus sekarang, apalagi sejak dia melahirkan. Mata Darius nyalang, lalu menyipit melihat perempuan yang berjalan menunduk dari kamar mandi itu. Lengannya masih terlihat kemerahan bekas tali yang di ikat Darius ke tempat tidur tadi.


(Terimakasih sudah membaca kisah ini๐Ÿ™๐Ÿ˜… agak kejam ceritanya memang, mungkin rada beda dari novel author yang lain๐Ÿ™๐Ÿ˜ Hanya sebagai referensi bacaan, semoga masih ada yang bacaโ˜บ๏ธ tetap dukung ya, like, vote, komen dari yang mampir adalah kebahagiaan author๐Ÿ™๐Ÿ˜˜)


__ADS_2