
"Tidak perlu mengambil hati ucapan mama." Gading menarik tubuh Asha ke dalam pelukannya, mereka baru saja naik ke tempat tidur, setelah makan malam yang berlangsung tiba-tiba canggung itu.
"Aku tidak mengambil hati. Hanya saja mama mungkin benar, seharus aku sudah memberinya cucu." Asha berucap lirih sambil menyusup ke dada suaminya, menikmati rasa nyaman, pelukan Gading adalah tempat favoritnya.
"Urusan hamil itu Allah yang punya wewenang, kita hanya mengusahakannya saja" Tangan Gading menggelitik leher Asha, berusaha menggoda istrinya yang raut wajahnya tidak ceria seperti biasanya. Dia tahu benar Asha terpengaruh dengan ucapan mamanya di meja makan tadi.
"Kamu marah dengan mama?"Tanya Gading sambil menarik punggung Asha lebih menempel padanya.
"Kenapa aku harus marah?"
"Mama mengatakan hal-hal yang tidak enak di dengar." Gading berbicara lebih hati-hati.
"Mama mungkin hanya cemas saja, aku tidak terlalu memikirkannya, mas." Sahut Asha, sambil menggedikkan bahunya, meski nada suaranya sungguh kontras dengan kalimat yang di ucapkannya.
"Tapi kenapa mama bersikap aneh malam ini."Gading menekan-nekan pipi Asha sambil mengernyit keningnya seolah sedang berfikir.
"Aneh bagaimana?"
"Tumben dia bersikap lunak pada Laras, bukankah selama ini mama sangat tidak menyukai Laras?"
Asha terdiam, hal yang sama sesungguhnya sedang menganggu fikirannya, sikap mama yang tiba-tiba berubah arah menyisakan tanda tanya yang aneh di hati Asha.
"Tetapi bukankah itu baik? mungkin mama baru menyadari tidak pantas menyematkan panggilan bin@tang pada Laras, dia juga manusia." Asha berusaha menghibur hatinya sendiri, meskipun dia sendiri menjadi tidak nyaman dengan perubahan yang di tunjukkan sang mertua.
"Aku tidak terlalu senang dengan perubahan mama" Sahut Gading kemudian, Asha tidak menanggapi, dia sibuk larut dalam fikirannya sendiri.
"Tapi, tak apalah...mungkin itu sekedar pecut untuk kita berdua lebih keras berusaha."Gading mengedipkan matanya saat istrinya itu mendonggak padanya.
"Berusaha apa?"
"Berusaha membuat bayi."
Gading terkekeh melihat wajah Asha yang segera tersipu mendengar jawaban yang di lontarkan olehnya.
__ADS_1
Lalu tanpa aba-aba, Gading menyusupkan tangannya ke balik pakaian tidur Asha yang tipis dari satin lembut itu.
"Malam ini, kita harus membuatnya dengan bersemangat." Gading mulai bergerak liar, kepalanya menunduk meraih wajah Asha, bibirnya segera menyasar bibir istrinya yang setengah terbuka.
Selimut tebal yang semula menutupi tubuh mereka berdua, sekarang merosot ke bawah kaki, Gading mulai beraksi, tubuh ramping Asha yang menggeliat benar-benar semakin membuatnya bergairah.
Asha tak mampu menolak sentuhan Gading yang begitu meresahkan, hembusan nafas Gading yang memburu membuat kulit Asha menghangat. Aliran darah di balik kulit mulusnya itu seperti mendidih mengikuti nadi.
"Aku mau seorang anak..." Bisik Asha dengan suara manja, matanya setengah terpejam ketika jemari Gading menyusuri setiap lekuk tubuhnya, melepaskan kaitan bra yang menutupi sepasang bukit kembar yang begitu menarik untuk di jelajahi itu.
"Aku akan memberimu anak banyak, sayang...sampai-sampai kamu tak bisa tidur mengurus mereka."
Kata-kata Gading di sela kegiatannya mencumbui Asha, membuat Asha tak bisa menahan kikiknya.
"Aku maunya dua saja." Asha cemberut ketika Gading menghentikan gerakannya meremas bagian yang di sukai Asha jika Gading melakukannya, dia benar-benar sangat menyukainya.
"Dua terlalu sedikit, aku mau lima anak." Goda Gading lagi, sekarang kepalanya menyusup ke area dada istrinya, tubuh Asha melengkung sambil menggigit bibirnya semdiri.
Sejenak masalah mereka terlupakan, percintaan panas yang di suguhkan Gading membuat mereka berdua larut berjam-jam, di akhiri dengan ******* sampai keduanya kelelahan dan bersimbah keringat.
Gading tahu cara melunakkan perasaan istrinya itu, memberinya perhatian dan kemesraan akan menenangkan Asha.
Hati istrinya itu begitu lembut, kadang kala tak memikirkan dirinya sendiri demi orang lain. Itulah yang membuat Gading jatuh cinta pada Asha.
...***...
...
...GADING...
Setelah 40 hari pasca Laras melahirkan, tepatnya pada hari ke 42 dari waktu Laras bersalin, Gading mengumpulkan seisi rumah untuk berkumpul karena dia ingin berbicara.
__ADS_1
Di ruang keluarga itu, ada pak Pramudia yang kondisi kesehatannya semakin membaik, Ibu Daniah yang duduk dengan kaki bersilang, Gisel sambil memeluk boneka bearnya, Laras dengan bayi yang di peluknya terlihat erat, Asha duduk di di satu kursi panjang dengan Gading.
Ruang keluarga itu mendadak tegang, saat Gading berdiri dengan sikap tegas meskipun masih terlihat hati-hati. Rautnya begitu serius.
"Papa, mama...aku minta maaf jika harus meminta papa dan mama meluangkan waktu sebentar. Tapi Ada hal penting yang ingin aku sampaikan dan aku rasa hal ini tak bisa di tunda lagi." Gading memulai pembicaraan, sambil sedikit membungkukkan badan tegapnya.
Ibu Daniah menatap Gading, tajam dan lurus, jauh berbeda dengan pak Pramudia yang terlihat tenang.
"Mama dan papa tentunya tahu, apa yang selama ini terjadi di dalam rumah tanggaku yang tak biasa ini." Lanjut Gading sambil menghela nafas, mencuri pandang kepada Laras yang duduk tak bergerak di tempatnya.
"Papa mengerti, nak." Pak Pramudia yang sedari awal mengerti duduk kejadian sebagai dasar pernikahan itu menyahut sementara Ibu Daniah tak bersuara sedikitpun, tapi dia mengamati Laras dan anaknya dalam pandangan lekat.
"Aku menikahi Laras karena terpaksa untuk mempertanggungjawabkan kehamilannya. Dan sekarang Laras sudah melahirkan serta telah melewati 40 hari setelah bersalin, sudah waktunya aku melepaskannya demi menjaga hubungan rumah tanggaku dengan Asha sebagai istri yang kupilihkan dari awal." Gading terdiam sesaat, semua sejenak hening, karena bukan rahasia lagi jika memang setelah pernikahan itu, Gading telah menjanjikan perceraian pada Laras setelah dia melahirkan.
"Dengan maksud itu aku meminta semua yang hadir menjadi saksi, jika pada hari ini aku akan menjatuhkan talak pada Laras. Maka sesuai dengan hukum agama yang saya pahami bahwa atas dasar itulah maka jika aku sebagai seorang suami menjatuhkan talaknya kepada Laras sebagai istri siriku setelah melebihi 40 hari dari masa nifasnya, maka hukum asal dari talak tersebut adalah sah, jika Laras tidak ingin mengasuh anaknya, aku dan Asha bersedia mengambil hak asuhnya. Dengan demikian aku berharap tak ada lagi hubungan antara aku dan Laras di kemudian hari" Gading melanjutkan kalimatnya dengan pasti.
Asha tampak menunduk sambil meremas tangannya sendiri, melirik pada Laras yang tak berkedip menatap Gading.
...Laras...
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all...
__ADS_1