PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 37. Mengurus Adopsi


__ADS_3

Pagi hari terlihat cerah seperti suasana di rumah tengah keluarga Gading. Mama dan Ayah mertua dari Asha berkumpul bersama dengan bayi kecil yang akan menjadi anggota keluarga mereka. Asha tampak tulus menyayangi Zyan kecil, dia tak namapak kebereratan sama sekali mengasuh bayi lucu ini.


"Dia sepertinya tampan." Ayah Gading berujar dengan gemas, dia sudah cukup sehat sekarang tidak lagi memerlukan bantuan kursi roda. Baru kali ini Asha melihat Ayah mertuanya sangat bahagia seperti ini. Asha seakan merasa Zyan memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Semua berkumpul kecuali Gading yang masih berada di dalam kamarnya. Hari ini hari minggu, Gading dan Ayahnya tak akan berangkat ke kantor. Mereka sedang menikmati weekend bersama keluarga.


"Lihat, bukankah mata ini mirip matanya Laras?" ujar Asha tanpa beban. Ia mengucapkan nama itu tanpa ada rasa yang akan menyakiti hatinya. Sungguh, Asha sangat lembut hatinya.


"Ma, bagaimana kalau kita mengurus segera akte kelahiran Zyan?" Pertanyaan Asha itu sontak mengalihkan perhatian semua orang.


Sejenak mertua perempuannya menatap Asha dengan penuh selidik sebelum kemudian dia mengangguk setuju.


“Kamu yakin?” Daniah malah balik bertanya.


“Ya, kalau Laras benar-benar menyerahkan Zyan ke dalam pengasuhan kita, kenapa tidak? Bukankah mama yang bilang sendiri kalau Laras yang menyerahkan anaknya dengan suka rela bahkan dia tampaknya tak menginginkan anaknya ini. Jika dia terkatung-katung seperti ini tanpa kejelasan identitas bukankah nanti malah akan menyulitkannya kalau dia sudah mulai besar?” Ucap Asha dengan nada bertanya di sertai argument yang masuk akal.


“Aku rasa Asha benar.” Ide itu di sambut Daniah dengan senang.


“Tapi,” Terlihat keraguan di wajah ayah mertua dari Asha.


“Heh, ini itikad baik, lho pa! jangan menghalangi itikad baik anak-anak.” Daniah cemberut menatap suaminya yang terlihat keberatan.


“Keputusan sepenting ini, tidak bisa di ambil hanya sepihak.”Tukas ayah mertua Asha.


“Ya, masa ini sepihak. La wong Asha ngomong dengan kita!” Daniah kesal dengan suaminya yang selalau saja memiliki banyak pertimbangan yang di anggapnya tidak perlu.


“Maaf, pa…Asha cuma sekedar terlintas saja tadi, kefikiran dengan kepastian hukum untuk Zyan…” Asha terlihat menyesal, pernyataannya membuat kedua mertuanya itu terlibat sedikit ketegangan.

__ADS_1


“Alah, papamu terlalu sensi. Acuhkan saja. Kamu sudah benar, kok.” Daniah melirik pada suaminya yang terlihat diam sesaat.


“Kamu bicarakan saja segera dengan Gading dan jika sudah membuat keputusan, kamu dan Gading saja pergi mengurusnya. Ini hari libur, dia pasti tidak kemana-mana, coba kamu beri pengertian padanya. Awas saja kalau anak itu menolak. Dari kemarin dia selalu saja ribut soal anak ini."Daniah terlihat menggerutu sambil berbicara pada Asha.


Asha terpaku, menatap bayi yang kini berpindah ke pelukan mertuanya itu. Dia sedikit ragu sekarang, kuatir idenya ini malah menyulut perselisihan antara dirinya dan suaminya, Gading.


"Kak Asha, Kak Gading belum bangun?" tanya Gisel mencari kakaknya yang tidak terlihat diantara mereka. Dia baru saja datang dari arah belakang.


“Sudah tadi, tapi dia sepertinya sedang malas-mlasan di atas, katanya mumpung libur.” Jawab Asha semabari mengernyit dahinya.


“Anak itu, sudah menikah dan jadi ayah, masih saja bangun kesiangan.” Daniah menatap ke atas lantai dua dengan pandangan tidak suka.


"Apa anak itu belum bisa menerima bayi ini? Aku saja bisa, kenapa dia susah sekali." Tambah Daniah.


Asha terkekeh untuk mencairkan suasana. "Tenang saja, Ma. Mama tau Mas Gading itu keras kepala, sebentar dia akan melihat Zyan yang menggemaskan dia akan luluh." Asha tetap berusaha meyakinkan Gading, tetapi pria itu memilih diam saja sedari pagi. Dia sama sekali tak bergeming atau terpengaruh dengan kehadiran Zyan.


"Benar, cucuku sangat imut!" Ayah Gading menggendong Zyan dengan senang hati. Sikap ayah mertuanya itu di sambut riang ibu mertuanya. Asha menghela napasnya pelan. Ia menoleh ke arah tangga yang belum menunjukkan tanda-tanda adanya Gading yang akan turun.


"Ma, aku ke atas dulu. Mau melihat keadaan mas Gading, dia belum turun dari tadi."Ucap Asha kemudian.


Daniah mengangguk singkat, kemudian kembali bermain dengan cucu barunya. Asha segera berjalan naik ke atas tangga agar bisa memastikan suasana hati Gading sudah membaik atau belum.


"Mas, kamu--"


Gading sudah berdiri di hadapan Asha saat pintu terbuka, suaminya itu barusan mandi, dia terlihat macho hanya meneganakan celana pendek dan bertelanjang dada, di tangannya sebuah baju kaos tipis yang belum lagi sempat di kenakannya. Rambutnya terlihat setengah basah. Degup jantung Asha meningkat berkali-kali lipat. Sudah lama ia mengenal Gading dan jantungnya masih sama saat berpapasan seperti ini dengan suaminya sendiri.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Gading sambil mendekatkan wajahnya. Jangan tanya lagi bagaimana raut wajah Asha kalau itu. Sudah pasti merah merona bak kepiting rebus. Dia segera menyusup lewat bawah ketiak suaminya yang masih memegang pintu setengah terbuka itu dan beberapa saat kemeuadian di tutup oleh Gading dengan suara derit yang halus.


"Mas, aku ingin bicara." Gading kembali berdiri tegak dan melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Duduklah di sini, kamu mau bicara, kan?" tanya Gading. Asha maju melangkah mendekat dan ikut duduk di samping suaminya, tepatnya di pinggir ranjang mereka.


"Mas, aku mau bicara tentang Zyan."


"Ada apa dengan bayi itu lagi?" tanya Gading dengan nada ketusnya. "Aku sudah berkali-kali mengatakan hal yang sama Asha, aku tidak menerima orang asing dalam rumah ini."


Bukan itu sebenarnya yang ingin Asha bahas, tetapi karena Gading sendiri yang membuka pembahasan itu, ia pun akan menanggapinya.


"Pertama, aku mau Mas Gading atur emosi dengan tarik napas, Mas. Ikuti aku, Mas," ujar Asha sambil melakukan tarikan napas dalam di depan Gading. Hal itu malah membuat Gading tersenyum dalam hatinya. Namun, ia tetap mengikuti.


"Oke, lalu buang dan ucap istighfar, Mas. Astaghfirullah!"


"Astaghfirullah," gumam Gading. Ia kemudian menatap mata Asha yang berbinar padanya. "Bagaimana? Sudah baikan? Sudah reda emosinya?" Gading berdehem singkat.


"Sudah."


"Aku akan memberi waktu untuk Mas menganggap Zyan sebagai anak kita, tetapi pokok utama yang ingin aku bicarakan adalah tentang proses akte kelahirannya. Mas, bukankah kita harus mengurus itu terlebih dahulu?" Gading membulatkan matanya.


"Kamu bilang akta? Untuk bayinya orang lain, bagaimana bisa?" tanya Gading gusar. Ia tidak tahu kemana arah pikir Asha sekarang.


"Kenapa? Kita adalah orang tuanya."

__ADS_1


"Kita butuh Laras kalau begitu. Data dari dokter pasti akan didata dengan nama Ibunya."


__ADS_2