PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 38.Tak Ada Pilihan


__ADS_3

"Kamu bilang akta? Untuk bayinya orang lain, bagaimana bisa?" tanya Gading gusar. Ia tidak tahu kemana arah pikir Asha sekarang.


"Kenapa? Kita adalah orang tuanya."


"Kita butuh Laras kalau begitu. Data dari dokter pasti akan didata dengan nama Ibunya."


"Ah, apa perlu itu?" Gading terdiam. "Kenapa kamu serius sekali, Sha. Aku tidak paham jalan pikiranmu dan Mama."


Gading beralih memegang kedua pundak Asha. "Kalau kamu mau mengadopsi anak untuk menjadi anak pancingan seperti yang dikatakan oleh Mama, maka kamu bisa mengambil anak orang lain saja yang ada di panti, jangan bayi itu!"


Asha meraih kedua tangan suaminya yang berada di pundak. Matanya menatap dalam ke arah Gading.


"Mas, kamu tahu ada beberapa hal aneh yang kurasakan tiap bersama bayi itu. Zyanmencuri perhatianku, Mas. Aku tidak akan melepaskan dia."


"Jadi, aku minta sama Mas untuk bisa perlahan menerima Zyan. Lihat Mama dan Ayah di bawah sangat senang? Mereka ingin sekali melihat cucu mereka."


Sreet! Gading menarik tangan Asha dan menindih nya dengan bertopang menggunakan sebelah tangannya agar tidak menjatuhi Asha.


"Mas, kamu--"


"Semalam aku tidak dapat jatah. Kamu sudah tidur dan bayi itu ada di sini."


"Ini yang sangat kutakutkan jika kita punya anak." Asha tersipu malu dengan rona merah yang kembali datang di kedua pipinya. Gading mengusap pipi kemerahan Asha dengan lembut.


"Bayi orang lain saja kamu sudah tidak melihat suamimu ini juga perlu belaian," bisik Gading tepat di telinga Asha. Buku kuduk Asha mulai meremang karena Gading yang meniup-niup telinganya.


"Mas, kamu mau?" Asha mengedipkan sebelah matanya. Dalam hati Asha bersorak girang karena suaminya telah berada dalam kendali sepenuhnya.


"Mau apa?" Suara serak Gading membuat Asha harus menahan wajah Gading yang mendekat.


"Ini masih pagi, Mas." Asha berbisik nyaris tidak terdengar. Ia takut Gading malah bertindak jauh.


"Tapi aku---"


"Kak Asha-- Eh!" Gisel langsung berbalik badan saat melihat posisi Asha dan Gading yang saling menindih. Asha dengan cepat mendorong dada bidang suaminya.


"Iya, sayang. Ada apa?"


Asha berjalan mendekat. Gading berdecak kesal karena kehadiran Gisel yang mengganggu aktivitas yang ia inginkan setiap malam. Tentu saja memadu kasih dengan istrinya agar bisa mendapatkan hasil dengan cepat.


"Dipanggil Mama buat sarapan. Kak Gading juga! Huuu!" Gisel bersorak di ujung katanya.

__ADS_1


"Dasar bocah itu! Menyebalkan!" Gading kembali merutuki adiknya. Asha berbalik sambil bersandar di pintu. Tatapan mereka bertemu.


"Sabar, ya. Malam nanti aku kasih, Mas."


"Apa?" Gading berpura-pura tidak mendengarnya karena Asha mengatakan itu dengan nada pelan dan kecil.


"Hei! Apa yang kamu katakan!" Gading menyusul Asha yang sudah terlebih dahulu jalan ke bawah.


Suasana pagi di keluarga Gading masih tetap hangat, meski Gading yang belum bisa menerima Zyan. Berbeda dengan keadaan Laras yang berada di ruangan bawah tanah milik Darius.


"Ini sepertinya sudah pagi," ucap Laras di tengah kegelapan. Matanya seakan tidak bisa berfungsi karena seluruh yang ia lihat hanyalah gelap.


"Ah, sepertinya punggungku masih sakit." Laras merasa darahnya belum selesai mengalir. Darah setelah melahirkan membuat ia meminta Darius meninggalkan pembalut untuknya, tetapi apa yang lelaki itu lakukan? Ia menurut. Heran, tetapi Laras juga bersyukur untuk itu.


Kreek!


Pintu terbuka. Cahaya matahari masuk dari luar. Terlihat Darius datang dengan wajahnya yang baru bangun.


"Apa kamu menyukai malammu di sini?" Darius melepas ikatan di tangan Laras. Wanita itu lekas berdiri meski sempoyongan. Darius keluar membuat Laras mengikutinya.


"Makanlah, sebentar lagi juga kamu akan kukirim ke suatu tempat."


"Kamu lapar?" Darius tertawa. "Bersihkan dulu badanmu itu. Darah sudah penuh dengan ruangan itu, seolah aku sudah membunuhmu." Perkataan itu sangat menusuk telinga Laras.


"Pergilah mandi dulu!" Darius menatap Laras yang berjalan dengan pelan sambil memegang perutnya.


"Wanita itu akan menjadi sumber emas untuk mendapatkan Ashaku. Tidak akan kubiarkan mati begitu saja."


Darius tersenyum miring. Ia semalam sudah mencari beberapa hal yang bisa ia temukan dalam keluarga Gading. Hal mengejutkan yang ia tak seharusnya tahu membuat ia puas bukan main.


"Ternyata kau menyimpan bayi itu pada mereka. Apakah kau pintar atau bodoh sebenarnya?"


"Tunggu dan nikmati saja semuanya secara perlahan, Belle palsuku."


Darius kembali keluar dari ruangan pengap itu. Bau darah dari Laras masih tercium dengan jelas.


Laras yang selesai berganti baju tiba-tiba kembali melihat Darius yang masih ke dalam kamarnya. Laras menunduk, tatapan Darius padanya tidak pernah berubah. Jijik, marah, dendam, dan sedih itu jelas terbaca dari tatapan Darius pada Laras.


"Ada apa?" cicit Laras ketakutan. Tubuhnya bergetar hingga kakinya terasa mati rasa.


"Apa kamu takut?" Darius mendekat. "Seharusnya kamu tidak meninggalkan rumah itu, bodoh!" Laras memejamkan matanya. Ia akhirnya luruh ke lantai. Kakinya tak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Aku akan kembali mengirimmu ke sana dan kau pasti akan dengan sukarela ke sana." Darius dengan cepat berjongkok di hadapan Laras.


"Haruskah aku mengatakan ini atau kau akan mengatakannya sekarang padaku?"


Laras melirik takut ke arah Darius. "Tentang apa?" balasnya cepat.


Darius mendekatkan wajahnya. Meletakkan mulutnya tepat di depan telinga Laras. Menjilat telinga Laras membuat sensasi aneh yang sudah biasa Laras rasakan kembali muncul.


"Bayi kita, kau meletakkan dia di mana?" Pertanyaan Darius membuat Laras membelalakkan matanya, dengan cepat Laras menoleh.


"Kamu tau?" ujarnya dengan takut. Darius tersenyum miring.


"Apa yang tidak kuketahui, sayang." Laras perlahan mundur dan menatap Darius.


"Tidak, Darius. Jangan, kumohon."


Laras memegang lutut Darius yang sudah berdiri. Pria itu hanya menatap datar Laras.


"Kau sangat menyedihkan, Belle palsu."


"Tidak, Darius. Jangan sakiti bayi itu. Dia tidak bersalah, kumohon padamu." Suara Laras parau. Ia sudah hampir kehabisan suaranya.


"Aku tidak akan menyakiti bayi itu." Darius kembali berjongkok. Ia memegang kedua pipi Laras dengan sensual. "Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Aku akan memberikan dua pilihan yang akan menguntungkanmu." Darius terkekeh. "Pilihan pertama, kau akan kembali ke rumah itu dengan cara apapun dan merayu Gading. Pilihan kedua, aku akan membunuhmu bayi itu, jika kau masih tetap tidak bergerak melakukan pilihan pertama."


"Darius!"


Darius melangkah ke depan sampai di pintu ia berhenti.


"Aku menanti jawaban terbaik darimu, Laras."


Laras termangu. Ia tidak bisa memilih keduanya. Tidak ada yang menguntungkan dirinya.


"Bagaimana bisa aku kembali ke sana untuk menghancurkan rumah tangga Mbak Asha? Aku tidak bisa...."


"Apa yang harus kulakukan. Dia akan membunuh anakku, kenapa tidak membunuhku saja?" Laras memeluk kedua lututnya. Tangisannya bahkan senyap dalam ruangan. Tubuhnya bergetar kuat. Tak ada pilihan lain yang bisa ia ambil.


"Apa aku harus mengambil salah satunya?"

__ADS_1


__ADS_2