PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 42. Dendam Salah Alamat


__ADS_3

Krekk!


Pintu kamar mandi terbuka. Laras sudah berpakaian di dalam kamar mandi. Tubuhnya terlihat lebih kurus sekarang, apalagi sejak dia melahirkan. Mata Darius nyalang, lalu menyipit melihat perempuan yang berjalan menunduk dari kamar mandi itu. Lengannya masih terlihat kemerahan bekas tali yang di ikat Darius ke tempat tidur tadi.


"Hmmm..." Mata Darius merah mengawasi Laras yang seperti kucing ketakutan itu.


Darius telah menggagahinya dengan paksa sambil menyumpah serapah perempuan itu karena kehilangan bayinya, senjata terakhir utuk menghancurkan rumah tangga Gading, lelaki yang tak pantas menjadi istri Sinta menurut Darius.


Laras harus kembali ke rumah itu dan bayi itu adalah sandera terbaik untuk mengendalikan Laras yang mulai bertingkah karena merasa memiliki bayi itu sebagai kekuatannya.


"Lama sekali kamu di dalam sana? Mau bunuh diri. Hey, untuk matipun kamu harus ijin denganku. Mana bisa kamu mati tanpa ijin dariku. " Oceh Darius sambil mendekat ke arah Laras. Wanita itu sudah seperti patung hidup. Tak ada lagi ekspresi di wajahnya. Dia diam seperti Arca membiarkan Darius mendekatinya lebih dekat lagi.


"Aku...aku..." Laras tergagap ketakutan.


"Kamu mandi atau pingsan, hah?!" gertak Darius. Laras tak menjawab, dia membeku di tempatnya. Seperti orang yang pasrah di perlakukan apa saja sekarang.


"Katakan padaku..." Darius mengangkat dagu Laras tinggi hingga perempuan yang terlihat lemah itu terdonggak.


"Dimana bayimu?" Cecar Darius dengan mata yang membara.


Laras menggelrlengkan kepalanya dengan pelupuk mata yang membasah. Air mata seakan ingin berlompatan keluar, di antara ketakutan dan kepasrahannya.

__ADS_1


"Kamu harus melakukan sesuatu, kamu harus menemukan bayi sialanmu itu!" Umpatnya dengan suara keras. Laras sejenak memejamkan matanya sebelum kemudian membuka matanya yang memerah dan telah basah kuyup itu. Tetapi mulutnya terkatup rapat.


"Apa kamu bisu?" tanya Darius sambil mencengkram dagu Laras kuat. Keduanya beradu pandang. Satu dengan mata menyala miliknya, satunya dengan mata kosong yang sudah tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"Katakan sesuatu dengan mulut sialanmu itu! Jawab aku!!! atau aku akan mengikatmu lagi dan menyabet belt ini ke kulitmu hingga berdarah-darah?" Ancam Darius, dia terlihat kesal dan marah dengan sikap Laras yang seakan mengabaikan semua ucapannya.


"Bagaimana aku mendapatkannya? kamu tak mengijinkan aku melapor ke polisi. Apa yang harus kulakukan?" Laras akhirnya angkat suara meski hanya berdalih, dia mencoba untuk tidak goyah dalam mengambil keputusan untuknya dan juga semua orang.


"Omong kosong! Sialan! mulutmu itu pintar berdalih, kamu semakin lama semakin pintar melawanku, ya?" Darius semakin menangkup rahang Laras dengan kasar menggunakan tangannya yang besar.


"Anakku tidak bersalah, pak Gading dan bu Sinta juga tidak bersalah. Dendammu salah alamat." Suara Laras bergetar.


"Diam! Jangan sok tahu dan sok mengguruiku!" Teriak Darius.


"Aku tak berbohong, bayi itu hilang di taman saat aku menitipkannya kepada seseorang untuk ke toilet." Laras masih bersikukuh dengan alasannya, tak gentar dengan cengkeraman rahangnya yang hampir membuatnya tak bisa menggerakkan mulutnya berbicara. Matanya yang berair itu menantang mata Darius seakan melawan rasa takutnya sendiri.


"Pembohong! kamu kira aku mudah di tipu olehmu, perempuan sund@l! Aku akan mencari sendiri bayi itu, dan jika aku menemukannya maka aku akan membuatmu menangis sepanjang hidupmu demi anakmu itu!!!" Darius berteriak dengan kemarahan yang tak lagi bisa di tahannya.


"Dia anakmu juga. Dia adalah anakmu, darah dagingmu..." Suara Laras tertahan, matanya yang basah kuyup itu mengerjap. Dia menangis tanpa suara, tetapi pundaknya gemetaran.


"Dasar perempuan naif! Apa kamu sudah merasa dirimu lebih pintar dariku sekarang, hah?!" Darius mengumpat panjang pendek, sedikit putus asa dengan sikap membangkang Laras.

__ADS_1


"Baiklah. Aku sudah memperingatkanmu. Kau sendiri yang akan menanggung esok hari seperti apa, Laras." Laras terkulai lemas saat Darius melepaskan cengkeraman rahangnya dengan kasar. Membuat Laras terjajar ke belakang.


"Aku tak tak hanya menggertak, Laras. Aku tak segan-segan menyiksamu, bahkan jika harus membuat bayimu terluka." Ucapan itu terdengar berdengung di telinga Laras seiring Darius yang melangkah keluar kamar.


Laras merasa dengkulnya lemas, dia merasa begitu tak berdaya hingga kedua kakinya gemetaran menopang tubuhnya.


"Apa yang harus kulakukan? Apakah benar dia akan melakukan itu pada bayinya sendiri?" Laras terduduk di lantai, airmatanya meleleh, sekarang dia tak bisa menyembunyikan ketakutannya.


Masih lekat di bayangannya, menyisakan trauma yang tak berkesusahan, beberapa jam yang lalu, Darius kembali menyiksa Laras dengan perbuatan kasarnya. Ia bahkan menawarkan pilihan yang sama disertai ancaman. Masih terbayang ucapan demi ucapan jahat yang di lontar Darius sebelum menggagahinya.


"Jadi kamu tidak memilih apapun? Hebat!" Darius bertepuk tangan.


"Kau ingin melihat bayi itu mati di hadapanmu saat ini juga?" Laras mendongak, menatap Darius pilu. Ia tidak bisa membayangkan nasib bayinya di tangan sang ayah biologisnya yang kejam ini.


"Kalau aku jadi kamu, aku tak akan mempertaruhkan nasib bayiku demi orang-orang asing yang tak ku kenal. Tapi, ini semua terserah padamu. Kamu ibu yang baik tampaknya, tahu bagaimana mengambil keputusan." Ucapan Darius masih berdengung memenuhi kepalanya.


"Silahkan siapkan pilihan terbaikmu. Kau tau aku tidak pernah bermain-main dengan ucapan sendiri, kan?" Darius kembali dan menagih janji itu lagi. Namun, Laras hanya bisa kembali menerima hukuman yang sudah kebal di badannya.


Darius sudah beraksi dengan segala perbuatan kejamnya. Laras tidak bisa berbuat apalagi. Hanya bisa memohon pada Tuhan agar bisa menyelamatkan bayinya.


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Tangisan Laras tersendat, dia tak tahu sampai kapan menanggung penderitaannya yang sepertinya tak berkesudahan menghampiri dirinya bertubi-tubi.

__ADS_1


"Beri aku jalan..." bisiknya lirih di sela isakan tangisnya.


__ADS_2