PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 43. Sakit Hati


__ADS_3

Di rumah Keluarga Gading, pagi itu Asha menggendong Zyan untuk membawanya turun agar bisa bersama seluruh orang yang berada di dalam rumah. Berbeda dengan biasanya, pagi ini begitu cerah secerah hati Asha.


"Mbak, biar saya yang gendong adek Zyannya?" Bi Irah menyonhsong nyonya mudanya itu dengan riang.


"Mbak Asha makan saja dulu, semuanya sudah menunggu mbak turun untuk makan." Tambah Bi Irah sembari mengambil Zyan dari dekapan Asha.


"Tentu saja, Bi. Tolong gendong Zyan, ya sementara aku makan. Dia baru saja bangun dari tidurnya. Sedikit rewel tadi." Sahut Asha sambil tersenyum manis.


"Masak apa hari ini, bik?" Tanya Asha dengan basa basi, pipinya merona, dia terlihat sangat bahagia.


Bik Irah menjawab beberapa menu kesukaan keluarga yang di masaknya untuk sarapan, tentu saja tak terlalu diperhatikan oleh Asha.


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di meja makan. Gading, suaminya sudah ada di sana. Mereka masih terus membicarakan persoalan tentang Zyan, sang mama tak berhenti membujuk anak lelakinya itu untuk menerima Zyan sebagai anak pancingan bagi mereka.


Sementara Gisel tentu saja menjadi pembela kakak lelakinya itu, dia terus saja mengoceh dengan wajah bertekuk tak jelas, tentu saja Gisel tak pernah menyukai Laras karena itu baginya anak Laras sama saja dengan perempuan ular yang masuk ke dalam rumah tangga sang kakak.


"Maaf, apa aku lama? Zyan kehausan jadi aku harus memberinya susu terlebih dahulu. Bangun dari tidurnya yang hampir semalaman pulas membuatnya kelaparan." Asha segera mengambil tempat di sebelah sang suami.


"Tak apa-apa, kamu memang harus berlatih menjadi ibu. Jika kamu siap maka rahimmu segera akan berisi bayi. Begitu kata orang tua jaman dulu." Daniah tersenyum sambil menatap ke arah Bi Irah yang menggendong cucu angkatnya itu sembari tersenyum lebar. Dia senang sekali melihat Zyan yang tak bisa diam di dal gendongan Bik Irah.


Tubuh montok bayi itu terlihat menggeliat, sesekali suaranya mengoceh tak jelas.


"Dia tidur nyenyakkan semalaman?" Mata mertuanya itu berpindah pada Asha, di sambut anggukan sang menantu. Dia terlihat puas dengan senyum sumringah sang mertua.


Setidaknya pagi ini sang mertua tidak menunjukkan wajah kesal padanya.


"Bagaimana denganmu, Gading?" tanya Daniah pada Gading yang terus melanjutkan makannya. Tatapannya menyelidik pada puteanya yang terlihat acuh tak acuh.


"Memangnya kenapa denganku?" Gading menyuap satu sendok nasi ke mulutnya, dia memang tak menunggu Asha untuk makan karena istrinya itu terlalu sibuk mengurus bayi Zyan yang sedikit rewel setelah bangun tidur dan di mandikan.


"Tidurmu nyenyak?"


"Tentu saja, apa yang menggangguku?" Gading menjawab sekenanya.


"Asha bilang Zyan sedikit rewel." Sahut sang mama kurang suka.


"Apa urusanku? Asha mengurusnya dengan baik, kok." Gading terlihat kurang suka dengan kalimat yang keluar dari mulut ibunya.

__ADS_1


"Seharusnya kamu membantu Asha mengurus Zyan."


"Astaga, Ma..." Gading menyela dengan kesal.


"Ma, sudahlah..." Wajah Asha memelas dan tak enak dengan situasi yang tiba-tiba menegang itu.


"Bisakah kalian membiarkan aku tenang? Setiap saat pertanyaan yang sama terus saja kalian tanyakan. Aku sudah tidak berselera makan." lanjutnya dengan raut yang mendadak berubah masam.


Asha menahan lengan suaminya. Ia menggelengkan kecil kepalanya.


"Jangan seperti itu, hargai makanan yang sudah Bi Irah buat untuk kita. Tetap duduk, Mas." Gading menghentakkan tangan Asha dan kembali duduk setelah sang suami menunjukkan gejala akan berdiri dan meninggalkan mejanya.


Gading menghempaskan pantatnya dengan kesal di kursi, dia duduk kembali dengan wajah masam.


"Kamu akan keras kepala seperti ini terus, Gading?" Mamanya terlihat kesal.


Gading tidak menatap mata sang Mama. Daniah sudah mendengus kesal dengan sikap Gading yang kekanakan menurutnya. Untung saja papanya tak ada di meja makan, jika tidak Gading harus menahan kekesalannya lebih lagi karena emosi yang membuncah tetapi harus memilih bersikap tenang. Tanpa papanya dia lebih leluasa mengeluarkan emosinya.


"Terserah kamu. Bisa saja Mama yang akan mengusirmu dari sini jika kamu begini terus." Sontak hal itu memicu Gading menatap tak percaya pada apa yang baru saja keluar dari mulut Daniah. Asha tidak bisa berkomentar. Kekuatan Daniah di keluarga ini kuat. Ia tidak akan bisa meredakan amarah yang berbeda diantara keduanya.


"Aku juga punya rumah sekarang, ma. Tidak apa-apa jika mama ingin mengusirku. Aku dan Asha akan segera angkat kaki." Sahut Gading dengan berani. Gisel yang sudah menyelasaikan makannya, buru-buru angkat kaki dari meja makan yang semakin tegang dan memans itu. Jika mamanya memulai pertengkaran, Gisel tahu benar perdebatan itu tak akan selesai dengan cepat. Dari pada malah dia yang di sumpah serapahi sang mama, Gisel memilih kabur dari ruangan itu.


Kepala Gisel rasanya mau pecah mendengarnya.


"Mama tak bilang kamu boleh pergi dengan Asha. Tentu saja Asha harus di sini untuk merawat Zyan. Kamu saja yang pergi, mama tidak masalah dari pada harus ribut setiap hari denganmu." Sahut sang mama dengan wajah merona.


Kalimat yang tak masuk akal itu membuat Gading merasa murka.


"Astaga, mama! Asha itu istriku! Dia tentu saja harus ikut denganku." Suara Gading mengeras. Dia tak bisa lagi menahan kemarahannya.


"Asha itu adalah menantuku, seorang menantu juga harus mendengarkan mertuanya." Suara Daniah tak kalah kerasnya.


"Apa mama sudah gila?" Gading benar-benar sudah tak tahan dengan sikap mamanya itu.


"Begini saja terus, aku akan pastikan mama akan menyesal." Gading benar pergi dari meja makan, dia beranjak meninggalkan piringnya yang belum habis isinya. Lalu beranjak naik ke kamar dengan wajah merah padam.


"Mama, aku mohon...jangan bertengkar lagi dengan mas Gading." Pinta Asha dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Anak itu benar-benar keterlaluan sekarang!" Umpat Daniah dengan raut tak kalah marahnya dengan Gading.


"Dia berani sekali menentangku, seolah-olah dia itu lahir dari batu." Tambahnya dengan kesal.


"Mama tidak boleh mengatakan hal yang seperti itu. Tolong Mama jangan terlalu mendesak Mas Gading, aku yakin Mas--"


"Ini semua tidak akan terjadi jika kamu cepat hamil! Apa kamu benar-benar mandul, hah!" Sergah Daniah malah melampiaskan amarahnya pada sang menantu. Kembali mengungkit kehamilan membuat Asha diam seribu bahasa.


"Jika kamu hamil segera tentu saja aku tak akan memaksa Gading untuk menerima anak Mayang itu. Kamu kira enak jadi bahan gunjingan orang soal menantu yang yang tak kunjung hamil?" Tuding Daniah sekarang pada Asha yang menjadi kebingungan sendiri.


Mertuanya itu mengarahkan kemarahan padanya setelah menerima sikap Gading yang tak menyenangkan.


"Mama..." Asha merasakan matanya panas, ucapan sang mama seolah memanggil air matanya turun.


"Apa???" Mata Daniah melotot besar, tak terima kalau menantunya itu hendak menangis.


"Kamu lah yang membuat pertengkaran ini terjadi, Asha. Setidaknya jika kamu tak bisa memberikan aku cucu segera, bujuklah suamimu yang keras kepala itu untuk menerima Zyan. Kamu kira mama tidak lelah selalu saja berteriak pada Gading?"


Asha terhenyak, ucapan sang mama untuk kali ke berapanya ini begitu menyayat hatinya.


"Maafkan aku, Ma," Ucap Asha pelan kemudian tanpa menyentuh piring yang masih kosong di hadapannya dia berdiri, sembari menahan air matanya yang akan keluar.


"Tidak bisakah kamu menjadi menantu yang berbakti?" Pertanyaan berikutnya itu benar-bebar meruntuhkan pertahanan Asha, dia berbalik sambil menutup wajahnya, berlari menyusul Gading ke atas. Tepatnya di kamar mereka.


Asha harus menelan pahit kenyataan. Ia juga ingin merasakan keistimewaan seorang wanita dengan bisa mengandung dan melahirkan anak. Tentu setiap istri akan menginginkan hal itu, tapi apa kehendak kita bisa berpengaruh kepada kehendak Yang Maha Kuasa.


"Mas!"


Pintu itu terkunci dari dalam, Gading benar-benar tak membuka pintu kamar untuknya, mungkin suaminya itu sedang sangat marah.


"Mas, buka pintunya..." Panggil Asha setengah menangis.


Asha berdiri nyaris sepuluh menit, pintu kamar terkunci dari dalam. Ia memutuskan membiarkan Gading untuk sendiri. Tak ada hal lagi yang bisa ia bicarakan. Ujungnya hanya perdebatan tak usai. Tetapi dia tak kuasa beranjak dari depan pintu, hatinya terasa begitu hancur. Kata demi kata yang di lontarkan oleh mertuanya itu seakan terngiang terus di telinganya.


"Mandul! Sial! Menantu yang tak berbakti!"


Airmatanya turun begitu saja, dia merasa begitu sakit, kenapa begitu banyak percobaan dalam pernikahannya, bahkan Tuhan tak memberinya kesempatan tersenyum lebih lama.

__ADS_1


"Kenapa aku harus menerima perlakuan seperti ini?" keluhnya dalam hati.


"Apa salah dan dosaku? kenapa aku harus hidup begini?"


__ADS_2