
(Area agak panas, harap pembaca bijak🙏☺️)
"Aku akan melakukan ibadahku dengan menjadi isterimu seutuhnya."
"Apa...apa maksudmu?"
"Kunci saja pintunya suamiku..."
Gading terpana, menatap Asha seolah sedang meyakinkan dirinya dengan apa yang di dengarnya.
Melihat mata yang berbinar hangat itu, seketika Gading menyadari kalau Asha sedang serius.
Dengan tergesa dia mengunci kamar. Ketika dia berbalik Asha duduk di pinggir tempat tidur, di tempat semula seperti sedang menunggunya.
Gading mendekatinya dengan ragu, dia tak yakin dengan perubahan sikap Asha.
"Apakah kamu tahu, aku sangat tersiksa beberapa hari ini." Gading menelan ludahnya sendiri.
"Kamu kira aku tidak tersiksa, mas? Menjawab semua pertanyaan di hatiku sendiri, rasanya aku begitu kewalahan. Apakah pernikahan kita ini bisa kupertahankan atau tidak." Asha menghela nafasnya.
"Tapi kemudian aku meyakininya, aku telah berjalan sejauh ini, tak harus ada penyesalan." Asha tersenyum tipis, tangannya terangkat, jemarinya menelusuri pipi Gading dengan gemetar.
"Aku mencintaimu, mas. Karena itulah aku harus mempercayaimu."
Gading menangkap pergelangan tangan Asha, diciumnya jemari kekasih yang kini jadi istrinya itu.
Wajah Asha yang merona antara gugup dan sedikit itu, menatap nanar pada wajah yang sedari tadi tertuju lurus ke depan. Dadanya tiba-tiba berdebar tak menentu.
Lalu perlahan Gading membaringkan tubuh Asha di atas tempat tidur berseprai katun motif bunga sakura pink sangat muda itu.
"Asha, andai aku menyentuh orang lain, aku tak pernah melakukannya dengan hatiku, aku bersumpah. Aku hanya memikirkanmu." Gading menurunkan wajahnya perlahan, suara nafasnya terdengar semakin dekat dan jelas.
"Apakah kamu benar-benar mengijinkan aku menyentuhmu?" tanya Gading serak.
"Jika aku tak mengijinkanmu sekarang, maka aku akan menjadi istri yang berdosa." Sahut Asha, sambil menggigit bibirnya.
Asha memejamkan matanya sesaat, menunjukkan kepasrahannya atas apa yang selanjutnya akan di lakukan Gading padanya.
Asha tak sempat membenarkan letak kepalanya pada bantal karena dengan Gading mulai menciumi leher sampai bawah telinganya. Berkali-kali menjelajah pipi dan bibirnya dengan gerakan lembut dan aneh sementara tangannya sedikit sibuk menyasar ke sana kemari.
Asha menggelinjang karena geli, tapi tak sempat bersuara, bibirnya sekarang dalam kekuasaan Gading. Kadang di tekannya dengan lembut, kadangkala lidahnya yang terasa panas itu menyusup lewat celah bibirnya.
Asha sungguh tak pernah menerima cumb*an sedemikian sampai-sampai sekujur tubuhnya menegang dan menggeliat dengan dada berdebar seperti di hantam ombak.
"Bolehkah...?" Gading menurunkan tangannya ke bawah. Matanya mengerjap saat menemukan gundukan di balik dress tidur Asha.
Asha tak menyahut, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan penolakan.
__ADS_1
Jemari Gading mulai meremasnya lembut, menikmati tatapan Asha padanya.
Dengan sedikit rikuh Asha memeluk badannya sendiri, wajahnya merona begitu saja ketika jemari Gading diseretnya dengan lembut dari area dada itu sampai bagian pusar Asha.
"Ukh..." Asha memejam matanya, bibirnya yang setengah terbuka dan berkilat basah itu tampak menahan gairah yang tiba-tiba datang itu.
Ketika Gading menyibak penutup tubuh Asha, reflek tangannya berusaha menutupinya dengan canggung.
"Tidak apa-apa...aku akan perlahan saja." Gading berbisik dengan suara parau.
Melihat Asha yang tampak malu, Gading berisiatif mematikan lampu kamar. Cahaya kamar itu menjadi remang hanya datang dari lampu sudut yang bersinar temaram.
"Aku tak pernah melakukannya." Asha menggigit bibirnya dengan malu, di depan suaminya dia tak tahu harus bersikap bagaimana.
"Kita telah menunda malam pertama kita begitu lama. Seharusnya ini kita lakukan dari kemarin." Gading menciumi leher Asha dengan penuh semangat.
"Malam pertama?"Bibir Asha gemetar sendiri, meskipun dia sangat mendambakan sentuhan suaminya itu tapi mendengar dua kata itu cukup membuatnya merinding.
Telapak tangan Gading menempel pada kulit punggung mulus milik Asha.
Tubuh Asha sekarang panas dingin, sementara jemari Gading bergerak menyisir tiap lekuk tubuhnya, merengkuhnya dengan lembut.
Nafas Gading terasa hangat menghembus kulit wajahnya, tersengal-sengal tetapi membuat Asha semakin pusing.
Dengan gemetar Asha mengumpulkan keberanian membalas ciuman panas suaminya itu.
"Mas..." Asha mendesah sambil menerima setiap sentuhan Gading dengan pasrah.
"Aku mencintaimu...aku sungguh menginginkan ini. Aku mencintaimu..." Mulut Gading meracau, lanjutnya dengan bibir yang kemudian langsung menghujani Asha dengan ciumannya yang semakin liar.
"Ugh..." Hanya itu suara yang keluar dari mulut Asha, seperti nada menyerah saat tangan suaminya itu kemudian berkeliaran penuh gairah dari bagian dadanya sampai sela kakinya.
Sekali tarik saja penutupnya sudah meninggalkan tubuh Asha, menyisakan pemandangan indah yang membuat darah Gading merasa darahnya sampai di kepala dalam sekejap.
"Kita akan melakukannya..."bisik Gading, pernyataan itu membuat Asha menegang sesaat. Seoerti ancaman kecil tetapi tak membuat Asha merasa ciut.
Dalam sekejap kain yang menutupi tubuh mereka segera terlepas.
Dada Gading yang bidang dan kuat itu menindih Asha, membuat kulit mereka bergesek, menyisakan rasa panas dan kesemutan yang tiba-tiba. Panas itu menjalar ke seluruh tubuh mereka.
Kemesraan mereka seperti kobaran api, terus menjalar semakin lama semakin tak terkendali, saling memagut dan saling membalas.
Suara desah mereka beradu, berpadu dengan keringat yang membasahi tubuh.
Secara naluriah, Asha berusaha mengimbangi setiap gerakan suaminya.
Sampai pada suatu ketika, Gading mendesis kuat, sementara Sarah terpekik.
__ADS_1
Seprai yang berantakan itu tampak bernoda merah, bersamaan dengan keduanya mengakhiri semuanya.
Malam itu, percintaan panas sepasang suami istri itu berakhir dengan keduanya terkapar.
Gading memandang Asha dengan rasa puas, malam pertama yang tertunda itu, Asha telah menyerahkan dirinya secara utuh dan sempurna, sebagai bentuk pengabdiannya pada seorang suami.
"Aku mencintaimu..."Gading membelai rambut hitam Asha yang tergerai di bawah dagunya dan basah oleh keringatnya sendiri
Asha hanya memejam matanya, mengatur nafasnya sendiri.
"Aku akan menceraikan Laras segera." Ucap Gading pada Asha.
Sesaat Asha membuka matanya, dengan nafas yang masih satu-satu.
Kemudian dia berucap dengan suara hangat,
"Kamu tak perlu melakukannya segera, biarkan saja anakmu lahir, dia berhak melihat wajah ayahnya saat dia melihat dunia. Dia berhak mendengarkan adzan yang dilantunkan oleh ayahnya ditelinganya."
"Seharusnya aku tidak menurutimu untuk menikahinya..."
"Aku tidak menyesalinya, mas."
Jawaban Asha membuat Gading terbungkam, memandang langit-langit kamar mereka, sambil mengatur nafasnya sendiri.
"Aku yang menyesal..." Bisiknya parau.
...***...
Malam merayap, seorang perempuan di kamar seberang dua orang yang sedang memadu cinta itu, duduk di atas tempat tidurnya.
Matanya tampak sembab, tangannya tak henti mengelus perutnya sendiri.
Dengan kasar di hapusnya air matanya yang turun lagi tanpa di sadarinya.
Entah apa yang ada di benaknya, hanya saja airmata itu jatuh terus saja, semakin dia menghapusnya, semakin seperti air hujan.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1