
Asha mencari keberadaan bayi Zyan yang sudah tidak ada di ruang tengah. Tadi ia menitip bayi itu pada Daniah, mertuanya.
"Apa dia ada di kamar Mama?"
Tak lama seorang menarik ujung baju dress yang Asha kenakan. Seorang gadis yang masih menuju dunia remajanya, Gisel. Gadis itu mendongak menatap Asha.
"Ada apa, cantik?" Asha menatap Gadis itu yang terlihat seperti akan menangis. Namun, mata Gisel memang berkaca-kaca yang terkadang bisa mengecoh Asha atau pun Gading.
"Bayi itu, kakak yakin mau menerimanya? Aku setuju dengan pendapat Kak Gading. Bagaimana kalau wanita ular itu---"
"Ssst! Siapa yang kamu sebut wanita ular?" Gisel menunduk. Ia tidak menyukai Laras sama sekali apalagi saat ketahuan bahwa Laras membohongi semua orang.
"Jangan mengatakan itu kepada orang lain, sayang. Perkataan itu hanya bisa keluar ketika kita terlalu marah dan tidak memahami situasi, seperti kamu sekarang. Ini bukan masalahmu, kamu tidak usah ambil pusing, oke?"
Gisel menggeleng.
"Aku takut kakak dan Kak Gading pisah karena anak itu." Gisel menangis. Asha memeluk adik iparnya itu.
"Sudah, jangan berpikir seperti itu. Kenapa bisa kamu berpikir kakak akan pisah dengan kakakmu? Apa kamu pikir kakakmu yang pemarah itu bisa hidup tanpaku?" Gisel melepas pelukannya dan mengangguk.
"Janji?" Mata gisel nampak mengerjap.
"Janji apa?"
"Janji jangan meninggalkan Kak Gading." Ucap Gisel dengan tatapan memohon.
Asha mencolek hidung Gisel dengan gemas. Pemikiran anak ini sudah matang padahal baru masuk di bangku putih abu-abu.
"Tergantung, untuk hal seperti itu tidak akan ada yang bisa berjanji, sayang. Kakak mau cari Bayi Zyan dulu, ya," ucap Asha sembari mengacak rambut Gisel asal.
Langkah Asha terarah pada kamar Daniah. Asha berpikir bahwa tidak mungkin Daniah membawa Zyan keluar. Bayi itu masih sangat rawan untuk diajak keluar rumah apalagi mertuanya gemar shoping.
Tok! Tok!
Asha mengetuk pintu dan ternyata tidak dikunci. Dari balik pintu, Asha bisa melihat Daniah yang menimang Zyan seperti cucunya sendiri. Wanita yang tak kunjung memberi keturunan pada mertuanya itu sedih melihat pemandangan mengharukan ini.
"Mama sangat menginginkan cucu," gumam Asha sambil kembali tersenyum dan melangkah masuk ke dalam kamar.
"Ma."
__ADS_1
Daniah mendongak. Ia tersenyum pada Asha seperti mertua yang Asha kenal sebelumnya.
"Duduklah." Asha lega melihat kehadiran Zyan membuat Daniah sedikit kembali seperti dulu lagi. Ia menatap Zyan yang ternyata tertidur lagi.
"Mama kasih dia susu formula?" Daniah mengangguk.
"Kamu belum hamil, produksi asi di buah dadamu itu belum ada."
Skakmat! Asha merasa tersindir dengan perkataan Daniah, tapi ia mencoba untuk menghiraukan saja. Dia berusaha sabar menghadapi mertuanya ini yang semakin hari seolah-olah benar-benar ingin mencampuri semua urusan rumah tangganya dengan sangat.
"Bagaimana dengan Gading? Apa dia sudah menerimanya?" Asha terdiam sejenak. Suaminya sangat kekeh untuk menolak kehadiran Zyan dalam rumah mereka apalagi sampai menjadi anggota keluarga.
"Masih belum, Ma." Jawab Asha. Tetapi diam-diam dalam hatinya dia merasa tak perlu membujuk Gading lagi. Jikapun akhirnya Gading tetap pada pendiriannya maka itu adalah hak sang suami. Dia mungkin merasa tertipu begitu banyak oleh Laras selama ini. Andai Asha pun di posisi Gading, belum tentu dia bisa menerima semuanya itu.
“Huh!” Daniah mendengus kesal.
"Mau tidak mau, Zyan akan tinggal di sini. Kamu harus mencoba untuk memancing kehamilanmu itu. Jadikan Zyan sebagai pancingan."
Asha tersenyum getir dan paham dengan pikiran sang Mama yang egois itu. Namun, ia tak bisa memungkiri dengan Laras yang secara cuma-Cuma dan sangat tak di sangka memberikan anaknya pada ibu mertuanya itu mengingat terakhir kalinya, Laras sangat bersikeras mempertahankan Zyan.
"Ma, apa aku boleh bertanya?" Tiba-tiba Asha berbicara.
Asha menatap dalam bola mata mertuanya sesaat menimbang kata-kata yang ingin di ucapkannya.
"Laras, dia tidak apa-apa, kan?" Tanya Asha tiba-tiba.
Daniah sedikit terkejut dengan pertanyaan Asha.
“kenapa kamu tertarik menanyakan kabar Laras? Bukakankah kalian berdua Gading sangat tidak menyukainya?”
Asha menghela nafasnya sesaat.
“Aku mungkin tidak terlalu menyukainya setelah kejahatan yang di lakukannya padaku dan mas Gading tetapi…” Asha terdiam sejenak.
“Aku tak mengatakan kalau aku membencinya.” Lanjut Asha kemudian.
“Apa perdulimu padanya? Aku juga tak terlalu memikirkannya, kecuali hanya ingin mengambil bayi ini darinya saja.” Kalimat itu di ucapkan oleh Daniah, terdengar sangat jujur dan tanpa sesal.
"Aku hanya merasa perlu tahu, sebelum aku memutuskan benar-benar merawat Zyan.”
__ADS_1
“Kamu merasa keberatan dengan permintaanku, supaya kamu merawat anak Laras?” Daniah menyela dengan mata yang terpicing tak senang.
“Bukan begitu, ma…” Asha mengalihkan pandangannya dari mata sang mertua yang berapi-api, dia menyembunyikan perasaannya dari hadapan sang mertua, tak akan ada yang tahu sebenarnya hati Asha bagaimana. Di depan Daniah dia bersikap lunak meski diam-diam hatinya menjadi sedikit mengeras sejak merasakan egoisme yang di tunjukkan oleh mertuanya soal mengatur rumah tangganya. Sedikit demi sedikit ada rasa tersinggung dan terhina ketika sang mertua begitu sering menyindirnya soal tak kunjung memberikan keturunan, seolah-olah dia benar-benar memalukan karena hal itu.
“Kamu tak perlu tahu soal Laras. Dia baik-baik saja. Dia mungkin sudah bosan dengan anaknya, lalu memintaku untuk merawatnya. Sejak awal aku jelas tahu, Laras belum mampu merawat seorang bayi. Sudahlah, tak usah kamu perdulikan dia, anggap saja dia sudah mati karena dosanya pada Arman. Dia juga sepertinya tidak punya biaya untuk dirinya ditambah Zyan. Jadi, karena itu dia dengan mudah menyerahkan anaknya begitu saja," Ucap Daniah sambil berbalik badan tepat ke arah Asha.
"Kamu harus bisa menjadi Ibu yang baik untuknya. Belajarlah menjadi ibu dengan kehadiran bayi ini meskipun bukan anak kandungmu. Dengan begitu mungkin saja kamu akan segera mempunyai anak. Menantu kawan mama juga begitu kemarin, setelah dia merawat bayi orang lain, mengadopsinya, tidak lama setelah itu dia hamil.”
Asha terdiam, dia tak begitu perduli dengan kalimat panjang lebar yang di ucapkan sang mertua yang jelas-jelas sangat terobsesi dengan cucu itu. Asha hanya menatap teduh wajah Zyan yang menggemaskan. Perasaan yang bergejolak kembali muncul tiap melihat Zyan. Dia tak bisa memungkirinya, entah mengapa dia seperti pernah melihat mata yang sehitam milik Zyan, dalam dan misterius. Dia berusaha mengingatnya, di mana dia pernah melihatnya. Tapi dia sungguh lupa.
"Ma, aku boleh bertanya satu lagi?" Laras mengangkat wajahnya.
“Apa lagi?”
"Di mana Laras sekarang? Apa dia punya tempat tinggal?"
Daniah mengedikkan bahunya. Ia pun tidak tahu masalah itu. Ia hanya bertemu di luar bersama dengan Laras.
"Boleh aku menggendongnya?"
Daniah memberikan bayi Zyan pada Asha.
"Asha, Mama benar-benar berharap dari kalian berdua. Tolong bujuk suamimu itu, dia sudah tidak mau mendengarkanku lagi." Asha mengangguk dan merasa senang saat Zyan berada dalam pelukannya. Ia seakan merasa Zyan adalah anaknya yang tidak lahir dalam rahimnya. Seolah ada ikatan yang menghubungkan
dirinya dengan Zyan.
"Mama akan keluar sebentar untuk membeli keperluan Zyan. Kamu jaga dia baik-baik."
"Iya, Ma."
Daniah meninggalkan Asha bersama Zyan dalam kamarnya. Tak henti Asha bersenandung untuk membuat tidur Zyan nyaman, meski sesungguhnya hati Asha sedang mengambang di udara yang pengap. Benaknya tertuju pada sang suami.
"Sebenarnya kamu anak siapa, Zyan? Kenapa kita begitu dekat?" Bisiknya perlahan.
Asha memeluk Zyan dengan erat. Ia berjanji dalam hatinya untuk merawat Zyan seperti anak sendiri.
"Kamu harusnya merasakan ini juga, Mas...memeluk seorang bayi itu sangat menyenangkan."
. VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
I love you all...