
"Mbak..."
Tangan Laras tiba-tiba meraih lengan Asha, menahan langkah Asha yang akan beranjak pergi.
"Ya?"
"Kenapa mbak begitu baik padaku?"?"
Asha tak berkedip menatap Laras, lalu dengan sedikit gemetar di pegangnya tangan Laras yang melekat pada lengannya.
"Karena aku tahu rasanya menjadi yatim. Aku hanya tak ingin anak itu merasakan seperti apa yang kita berdua alami, dibesarkan di panti asuhan dan menangis melihat anak-anak lain mempunyai orangtua yang lengkap sementara kita hanya bermimpi untuk melihat ayah dan ibu. Jika aku tidak menikahkanmu dengan mas Gading, nasib anak itu akan lebih dari penderitaan kita, dia tidak hanya kesepian tetapi akan menjadi cemoohan semua orang." Kalimat itu terdengar halus dan teratur, dalam ritme yang jelas.
"Apakah hanya karena itu?" Laras menggigit bibir bawahnya, seakan dia berharap Asha mengatakan hal-hal lain lagi.
"Kamu ingin mendengar apa lagi?"
Asha balik bertanya dengan nada yang tajam.
"Apakah aku harus punya alasan lain? Ataukah kamu berharap aku mempunyai kata-kata yang lain?"
"Bukan begitu..." Laras melepas tangannya dengan ragu.
"Laras..." Asha menyebut nama perempuan di depannya itu dengan penuh penekanan.
"Aku juga perempuan Laras, jangan kamu kira aku mati rasa dengan yang namanya cemburu, aku bersumpah hampir gila saat mendengar kamu hamil anak mas Gading. Tapi, aku berusaha bersikap bijak. Tidak semua hal harus di lakukan dengan mengedepan kepentingan sendiri. Meski untuk itu kita harus mengorbankan perasaan kita sendiri." Asha tersenyum tipis.
"Jika kamu merasa enakan, kita akan ke dokter, kesehatanmu lebih penting sekarang." Asha berjalan menuju pintu.
"Apakah...apakah mbak Asha yang akan mengantarku?"
"Ya, siapa lagi?" Asha berbalik saat tangannya sudah menyentuh gagang pintu.
"Oh..." Laras menyembunyikan raut wajahnya yang berubah tiba-tiba.
Entah mengapa, Asha menangkap ada sebuah harapan di mata itu tertangkap berkilat, seolah berharap bukan Asha yang mengantarnya pergi.
...***...
TOK! TOK! TOK!
Ketukan di pintu kamar Asha tepat saat jam 22.00 malam.
Asha yang baru saja akan naik ke tempat tidur, mengernyit dahinya.
"Siapa itu?" Gading yang sibuk dengan ponsel di tangannya sambil berbaring, bertanya dengan acuh tak acuh.
TOK!TOK! TOK! TOK!
Ketukan itu terdengar semakin keras dan lama.
"Mbak..." Terdengar suara perempuan, sejenak Asha tercengang, itu suara Laras.
__ADS_1
Setelah 7 bulan lebih, sejak pernikahan mereka tak pernah sekalipun Laras berani mengetuk kamar Asha dan Gading, meskipun kamar mereka berseberangan.
Tapi malam ini, mendengar Laras melakukannya, membuat Asha terkejut.
"Siapa?" Sekarang Gading mengalihkan pandangannya dari layar handphonenya dan menatap Asha yang sesaat mematung di pinggir tempat tidur dengan piyama pendeknya.
"Itu suara Laras..." Asha menelan ludahnya sendiri. Matanya tak berkedip memandang ke arah pintu, terlihat bimbang.
"Mbak...ini aku Laras..." Suara itu terdengar lirih.
Dengan langkah panjang Asha mendekati pintu, membuka kuncinya dan ketika pintu itu terbuka, Laras di depannya dengan wajah pucat pasi sambil memegang perutnya.
"Tolong aku, mbak..."
"Hah..." Asha melongo memandang Laras yang setengah membungkuk seakan sedang menahan sesuatu.
"Aku merasa perutku sakit sedari tadi sore. Ku kira...hanya sakit perut biasa...tapi...tapi sakitnya semakin sering..." Laras berpegangan di pinggiran pintu dengan tangan kirinya, sementara tangannya yang lain masih memegang perutnya.
Keringat sebesar biji jagung menghias wajahnya yang pucat pasi.
"Apakah...kamu akan melahirkan?" Mulut Asha terbuka, setengah kebingungan, kemudian mendadak menjadi panik.
"Mas! Mas! Kemarilaaah....!!!" Asha berteriak sambil menyangga tubuh Laras.
"Ada apa, sih?" Gading muncul di belakang Asha, melihat dua perempuan itu dengan bingung.
"Asha sepertinya akan bersalin mas, dokter sudah memperingatkan seminggu yang lalu jika persalinan Laras sudah menunggu hari." Asha menjawab gugup.
"Tapi mas, bagaimana membawanya? dia tidak kuat berjalan sepertinya." Asha menatap Gading memelas.
"Mas kita antar Laras ke klinik bersalin sekarang..."
"Tapi..."
"Tak ada tapi-tapian, mas Gading mau melihat dia melahirkan di depan pintu kamar?" Asha melotot pada Gading yang nampak enggan.
Yah, semenjak Gading menggendong Laras yang pingsan dari sofa sampai dengan kamarnya kemarin, Gading tampak tak enak sekali jika harus bersinggungan dengan Laras.
"Aku tahu, meskipun kamu diam, kamu tak menyukai aku menyentuh Laras." Itulah alasan Gading, setelah saat itu benar-benar menghindari kontak dengan Laras meskipun kadang hanya sekedar berpapasan.
"Mas...!"
"Hah..."
"Jangan cuma bengong begitu..." Asha menarik tangan Gading.
"Iya...tapi aku harus bagaimana?" Gading sesaat bingung sendiri.
"Bawa dia ke mobil, mas...Aku akan mengambil tas perlengkapan bersalin, sekaligus mengganti bajuku."
"Tapi..."
__ADS_1
Belum sempat Gading berkata-kata lagi, Asha telah menyerahkan tubuh Asha yang lemas itu kepada Gading.
"Bawa dia sekarang..." Pinta Asha dakam nada tak bisa di bantah, mukanya yang tegang begitu serius. Lalu tanpa bicara lagi di tinggalkannya Laras yang sempoyongan di dalam pelukan Gading.
...***...
Asha memegang tangan Laras kuat-kuat. Sementara Laras nampak kesakitan.
"Ini baru pembukaan 6 Laras kamu harus kuat." Asha berusaha menguatkan perempuan yang kini duduk duduk melengkung di atas bed pasien itu.
Dokter baru saja memberikan suntikan bius epidural untuk meredakan rasa sakit kontraksi. Sepertinya kesakitan yang di alami Laras cukup kuat.
Gading setelah mengantarkan Asha dan Laras ke klinik, tanpa banyak bicara pamit pulang.
"Aku tidak perlu berada di sini..."
"Tapi, mas...Laras akan melahirkan."
"Yang menguruskan orang melahirkan adalah dokter, aku bisa apa?" Wajah Gading terlihat dingin.
"Nanti kalau Laras melahirkan, siapa yang menemani?"
"Bukankah ada kamu?"
"Orang akan bertanya suaminya?"
"Siapa yang bertanya? Siapa yang perduli dia itu istri siapa?"
Perdebatan kecil itu sempat terjadi saat Asha berusaha menahan Gading untuk pulang.
"Ini..." Gading menyodorkan sebuah kartu ATM ke tangan Asha.
"Aku harap semuanya akan baik-baik saja, kabari aku jika kamu mau di jemput pulang." Gading tanpa rasa berdosa ngeloyor pergi, tanpa sempay lagi Asha berkata apa-apa.
"Mbak..." Laras menyentuh lengan Asha, menyadarkan Asha dari lamunannya.
"Aku mau turun untuk mengambilkan minum..." Laras berucap lirih.
"Biar aku saja." Asha segera beranjak menuju meja, mengambil sebotol air mineral, membukanya dan menyerahkannya ke tangan Laras.
"Apakah...apakah... pak Gading akan kemari?" Bibir Laras bergetar saat menanyakan kalimat itu, sebuah pertanyaan yang membuat Asha terdiam, hanya mengerjap matanya menatap Laras yang dengan salah tingkah meminum air dari botol itu dengan sedotan yang di berikan Asha.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all❤️...