PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
PART 19 AKHIR SANDIWARA


__ADS_3

Gading tak menyahut, dia membuka amplop surat itu, mengambil lembaran kertas yang terlipat rapi di dalamnya.


Kertas itu di bukanya dan di pampangkan di depan hidung Laras, yang seketika melotot dengan tubuh gemetar seperti orang baru saja melihat hantu.


Di sana tertera judul kepala surat itu,


...HASIL INDENTIFIKASI DNA...


Terduga Ayah : Gading Pramudia


No sampel : EPF-18-0003-001-AZ


Jenis sampel : Darah


Terduga Anak : Zyan putra


No sampel : EPF-18-0003-002-CN


Jenis sampel : Usapan selaput lendir pipi.


Laras tak bisa berkata apa-apa kecuali melongo karena shock, di sana tertera tanggal pengambilan sampel, tepat sehari setelah kelahiran Zyan.


Di situ tampak huruf dan angka berderet-deret dalam bentuk kombinasi yang begitu sulit di mengerti, tertera dalam tabel pada dua nama pemilik yaitu Gading dan Zyan, dengan keterangan "Laporan Variasi Alel".


Pada tabel nama Zyan putra terlihat angka yang ditulis dalam warna merah lebih dari separuhnya.


Keterangan di bawahnya lah yang membuat Laras terjajar ke belakang, hampir jatuh.

__ADS_1


"Penentuan profil DNA dilakukan dengan metode standar terhadap sampel darah atas nama GADING PRAMUDIA sebagai terduga ayah dan sampel usapan selaput lendir pipi atas nama ZYAN PUTRA, bukti ilmiah yang diperoleh dengan mengacu pada sampel yang diperiksa, menunjukkan bahwa 6 dari 21 sampel loci marka STR yang di analisis dari terduga ayah GADING PRAMUDIA tidak cocok dari alel paternal dari anak ZYAN PUTRA.


Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas GADING PRAMUDIA sebagai ayah biologis dari ZYAN PUTRA adalah 0%.


Oleh karena itu, GADING PRAMUDIA sebagai terduga ayah dapat di singkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis ZYAN PUTRA."


Tak ada hal yang lebih mengejutkan bagi Laras setelah membaca isi surat itu. Tubuhnya terasa menciut, dia hampir tak bisa bernafas.


"Jelaskan padaku tentang ini, Laras..." Suara Gading serak, nyaris tak kedengaran tapi di telinga Laras seperti suara bom. Wajah Laras pucat pasi dengan badan gemetar.


"Apakah perlu aku mengatakan padamu siapa penjahat dan siapa korbannya?" Gading melemparkan surat itu ke wajah Laras.


"Peganglah duplikat surat keterangan ini, untuk kamu baca dan selami. Andai kamu tetap berulah, aku punya dasar hukum untuk menyeretmu sebagai penipu ke meja hijau." Gading menyorongkan setengah badannya kedepan, seolah memberi ancaman pada Laras yang gemetaran dengan wajah pucat, matanya hampir tak berkedip menatap Gading sambil bersandar pada pintu yang tertutup itu.


"Apakah kamu penasaran, bagaimana bisa aku melakukan tes DNA ini? Seharusnya kamu berterimakasih pada Asha, orang yang benar-benar menjadi korbanmu dalam hal ini. Dialah yang melakukannya untukku sehari setelah kamu melahirkan, meminta dokter mengambil sampel itu untuk memuaskan rasa ingin tahuku." Gading berucap dengan suara rendah setengah menggeram.


"Tapi, jangan pernah kamu mengira Asha pernah berbuat jahat padamu, hatinya itu bersih, dia melakukannya dengan harapan aku akan bisa mengakui Zyan dan mencintai anakmu itu dengan benar tanpa alasan lagi jika dia memang darah dagingku. Tapi Tuhan tak pernah tidur, Laras...Dia tahu cara membela orang yang tak bersalah. Lihatlah, endingnya? Sekarang apakah kamu punya alasan untuk tetap menyudutkan Asha? Dengan caramu berbicara di depan mama, aku tahu benar niatmu, Laras...kamu berusaha menghasut mama dengan bersikap begitu menyedihkan."


"Jika bukan karena Asha, bahkan aku sendiri tak ingin melihatmu sejak dua minggu yang lalu, saat surat ini ku terima. Tapi Asha, yang seharusnya sebagai orang pertama yang berhak menendangmu dari rumah inipun tak pernah berbicara apa-apa untuk membongkar ini semua, kamu tahu kenapa? Karena Asha tetap ingin menutupi aibmu sampai waktu perceraian yang di sepakati. Supaya kamu keluar dengan baik-baik dari rumah ini, supaya psikologis anakmu itu tidak rusak di kemudian hari karena demi menghalalkan dirinya, ibunya sendiri menjadi penipu dan menjadi parasit dalam rumah tangga orang." Gading menegakkan badannya, wajahnya kembali menjadi sedingin batu es dengan sorot mata tajam menghujam.


"Asha memberimu kesempatan meninggalkan anakmu dalam pengasuhannya semata karena kasihan pada anak itu, terlepas siapapun ayah dari anak itu di luar sana. Tetapi jika kamu tahu diri aku sarankan, keluarlah baik-baik dari rumah ini, bawalah anakmu itu. Jika selama ini aku membiayai hidupmu, menutupi aibmu dengan menikahimu, anggaplah aku telah beramal dan berbuat baik padamu. Setelah itu jangan pernah muncul lagi di hadapanku, apapun alasannya." Gading begitu berapi-api, seolah dia begitu jijik pada Laras.


"Aku...aku minta maaf...aku sungguh tak tahu, jika...jika ini bukan...bukan" Laras menghambur ke hadapan Gading, dia menangis sejadi-jadinya, sambil berusaha menegang kaki Gading, semua kalimat yang keluar dari bibirnya menggantung tak sanggup diselesaikannya sendiri.


Gading mundur dua langkah, menghindari tangan Laras.


"Laras, aku melihat bagaimana caramu membalas kebaikan Asha, kamu mulai mempergunakan situasi membuat istriku itu dipandang mama sebelah mata. Selama ini jika bukan karena dia, aku sudah mengusirmu jauh sebelum mama berusaha melakukannya. Untunglah aku tak perlu membuat diriku tergoda untuk mempergunakan status suami itu dengan terlibat lebih jauh darimu. Jadi malam ini kita keluar, kita sudahi semuanya dengan benar tanpa pidatomu yang mengiba-ngiba itu. Mintalah aku menalakmu, sebelum aku mengucapkannya!" Gading melangkah menuju pintu, untuk keluar tanpa perduli isakan Laras yang bersimpuh di lantai.

__ADS_1


...***...


Laras menuruni tangga dengan kaki yang gemetar, tubuhnya bergetar hebat. Tak ada yang bisa menjabarkan raut mukanya, kecuali Gading yang tahu pasti apa yang telah terjadi antara mereka berdua.


Ketika berhadapan dengan Asha, saat dia hendak mengambil bayi itu dari tangan Asha, dia sempat bersirobok pandang dengan perempuan yang terlihat tanpa ekspresi apa-apa itu.


Semua hal terlihat samar di raut wajahnya. Sungguh dia adalah perempuan baik berhati malaikat, perempuan yang ingin di bodohinya itu tahu segalanya tapi dia diam saja, hanya menunggu Laras menepati janjinya untuk bercerai dengan suaminya setelah dia melahirkan.


Perempuan itu tak ada apa-apsnya di banding Laras, tetapi karena itulah Laras merasa dia semakin membenci Asha. Benci yang datang dari kedengkiannya.


Asha menyerahkan bayinya tanpa suara, lalu mengitari pandangan, membalas tatapan mama dan papa Gading yang tak lepas mengawasi gerakannya.


Tanpa suara, dia duduk di kursi yang telah ditinggalinya.


"Aku...telah mantap untuk bercerai dengan pak Gading. Malam ini, aku minta pak Gading membebaskanku dari pernikahan ini." Ucapnya dengan suara yang jelas tapi masih bergetar.


Sebelum sempat mama gading menyela, Gading bersuara dengan intonasi yang berwibawa,


"Laras Rismawati binti alm. Hariduan , saya talak engkau. Mulai saat ini saya bebaskan engkau dan melepas tanggung jawab saya terhadapmu,"



...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all...


__ADS_2