
"Karena aku lah yang mengijinkan pernikahan mereka, aku hanya ingin mengatakan, apapun yang menurut mas Gading terbaik untuknya, itulah yang harus di lakukan. Termasuk menceraikan Laras malam ini juga." Suara Asha yang biasanya lembut itu terdengar dingin dan berbeda.
"Aku akan menerima apapun yang diharuskan aku menerimanya, dalam restu ibu tentunya. Karena dia adalah orangtua yang ku hormati dalam rumah ini selain bapak." Laras menyahut, nada suaranya begitu rendah selayaknya orang pasrah tetapi di ujung kalimat sangat terasa dia sedang berusaha mengambil hati bu Daniah dan pak Pramudia.
"Asha, bukankah selama ini kamu begitu dekat dengan Laras?" Bu Daniah bertanya setengah menyindir.
"Selama ini aku telah bersikap baik, tak ada hal yang kusesali karena sebagai perempuan dan istri pertama aku telah melakukan tugasku. Aku tak pernah ingin menyudutkan Laras, tetapi semua keputusan sekarang ku serahkan kepada suamiku, sebagai imamku. Karena dia tahu apa yang terbaik bagi kami setelah ini." Sahut Asha perlahan tetapi tajam.
Gading memegang bahu Asha, tersenyum tipis pada istrinya itu, menenangkan Asha yang terlihat sangat berbeda.
"Bolehkah aku berbicara denganmu Laras empat mata?" Tiba-tiba Gading menatap Laras dengan begitu misterius.
Laras terpana, tak pernah sekalipun Gading berbicara padanya apalagi secara khusus seperti ini. Antara gugup dan senang, dia membalas tatapan Gading.
"Berikan anakmu pada Asha sebentar, aku hanya ingin bicara padamu Laras, hanya berdua saja." Gading tak perduli tatapan mamanya yang tampak tak senang, papa Gading tak bergeming, dia tahu karakter Gading yang jika menjadi serius sulit di bantah.
"Kenapa kalian harus berbicara empat mata? Kamu mau mengancam Laras?" Cecar ibu Daniah dengan pias curiga.
"Mama, aku masih berstatus sebagai suaminya sebelum aku menjatuhkan talak padanya, jadi tak ada larangan jika aku mau berbicara dengannya berdua saja." Sahut Gading, terdengar sinis.
Kepalanya menoleh kepada Asha, seolah memastikan istrinya itu tak keberatan dengan permintaannya.
Asha tak berbicara apapun tapi mata itu mengirim sinyal sejuta makna, sepertinya dia sedang meraba batas perasaannya sendiri.
"Ikut aku, ke ruang kerjaku." Gading berjalan menaiki tangga, tanpa menoleh lagi.
Laras sesaat hanya mematung menatap punggung Gading, dengan ragu kemudian menoleh pada Asha, perempuan yang ada di seberangnya itu terlihat masih menatap pada kepergian suaminya.
Wajah itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya, tetapi itu hanya berlangsung tak lebih dari setengah menit karena sesudahnya Asha kembali bisa menguasai dirinya, terlihat tenang dan bersahaja.
Asha tak bergerak dari tempatnya duduk balas menatap kepada Laras, tapi seulas senyum terlihat di bibirnya, tangannya terjulur seolah memberi isyarat supaya Zyan di berikan padanya.
"Pergilah, sepertinya mas Gading sangat ingin berbicara berdua denganmu." Ucap Asha dengan suaranya yang teratur.
Beberapa waktu Laras meragu, lalu beranjak dari tempatnya duduk, terlihat sekali dia sangat enggan melepas bayinya yang masih tertidur itu pada Asha.
"Aku akan menjaganya..." Asha memeluk Zyan, wajahnya berbinar menatap bayi mungil itu.
Laras menaiki tangga menuju lantai dua di mana ruang kerja Gading berada. Dengan tangan sedikit gemetar dia membuka pintu ruangan itu, ruangan yang selama dia tinggal di rumah itu tak pernah sekalipun dia berani memasukinya.
__ADS_1
Gading berdiri membelakangi pintu menghadap meja kerjanya sendiri kedua tangannya bertaut, berada di belakang punggungnya.
Laras menutup pintu itu perlahan, suara langkah kakinya hampir tak kedengaran.
"Laras..." Suara itu begitu lunak, menghentikan semua gerakan Laras yang baru saja berbalik.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" Gading membalikkan badannya, wajahnya tanpa ekspresi.
"Me...melakukan apa?" Pertanyaan itu keluar dengan nada suara terbata-bata.
"Kenapa kamu datang ke dalam hidupku?" Gading mendekat sampai mereka hanya berjarak sedepa, mata itu tak berkedip.
Laras menggigit bibirnya, tak pernah dia merasa panas dingin seperti ini.
mereka begitu dekat, sangat dekat, bahkan Laras bisa mendengar suara nafas Gading.
Laras menelan ludahnya sendiri, Gading dalam balutan kaos warna cokelat muda hampir kuning itu terlihat begitu menawan dalam dingin rautnya.
"Aku...aku..."
"Kamu yang telah merusak hidupku." Laras menjawab dengan gugup.
"Aku yang telah merusak hidupmu?" Gading menatap Laras begitu dingin.
"Aku adalah korban di sini! Aku yang lebih menderita dari semua orang! Kamu menyetubuhiku dengan kejam, aku yang mengandung anakmu dalam penderitaan, aku yang di abaikan dan aku yang diperlakukan tidak adil!" Tiba-tiba Laras menggeram kepada Gading, matanya berkilat dengan berani.
"Korban? Bagaimana bisa kamu menganggap dirimu korban?"
"Tuan Gading yang terhormat, aku tidak perlu memaparkannya berkali-kali, kamu kira aku mau seperti ini? Aku seharusnya tidak terdampar di dalam rumah ini, menelan kebencianmu sepanjang waktu seolah-olah dosa ini hanya aku yang mengawalinya dan hanya aku yang harus menanggungnya."
Melihat Gading hanya menatapnya saja tanpa banyak bicara, Laras semakin berani, dia berusaha menyudutkan Gading supaya merasa berdosa padanya.
"Memang kamulah yang harus menanggungnya Laras..." Ucapan Gading terdengar begitu datar, sama sekali tak terpengaruh oleh emosi yang ditunjukkan oleh Laras di hadapannya.
"Kamu adalah laki-laki yang tak punya hati."
__ADS_1
"Jika aku tak punya hati lalu kamu kusebut apa?" Telunjuk Gading teracung di depan hidungnya, terlihat gemetar.
"Hentikan semua sandiwaramu ini, Laras. Hentikan semuanya. Sebelum aku berubah fikiran padamu." Suata Gading begitu menusuk.
"Sandiwara? sandiwara apa???" Laras membeliakkan matanya, ini adalah kali pertama dalam hidupnya menantang wajah Gading.
"Kamu tahu mengapa aku bersikap kejam padamu selama ini? Karena aku tahu perasaanku tak pernah membohongi diriku. Aku hanya sedang sial, terjebak pada semua sandiwaramu ini, sayangnya aku tak pernah bisa membuktikannya saat kamu datang seperti seorang korban perkosaan di depan calon istriku, saat hari pernikahanku. Tapi, demi Tuhan, Aku tak pernah yakin jika kita berdua pernah melakukan hubungan intim." Mata Gading memerah, rahang bergemerutuk.
Laras ternganga, memandang mata yang berkilat menunjukkan amarah yang dipendamnya selama ini.
"Apa yang kamu katakan? kamu menuduhku berbohong?"
"Kamu tidak hanya berbohong tapi kamu juga sakit jiwa!" Gading mengeluarkan sebuah amplop coklat dari saku bajunya dan menyodorkannya dengan kasar ke depan hidung Laras.
"Apa ini?" Laras mengambilnya dengan mata melotot.
Gading tak menyahut, dia membuka amplop surat itu, mengambil lembaran kertas yang terlipat rapi di dalamnya.
Kertas itu di bukanya dan di pampangkan di depan hidung Laras, yang seketika melotot dengan tubuh gemetar seperti orang baru saja melihat hantu.
(author berterimakasih untuk semua readers yang masih sabar sampai bab ini, meskipun sudah emosi tingkat dewa dengan author🤭
Please, percayalah...author tak pernah membuat cerita yang memenangkan orang ketiga dalam semua novel akak, karena othor tahu rasanya sakit di duakan🤣
Tetap setia di novel ini, author janjikan sebuah jalan cerita yang tak pernah terbayangkan oleh reader😅
Yang pasti, kita akan memetik banyak hikmah dari setiap konflik yang di suguhkan🙏😊
Maaf ya, kadang komennya gak bisa author balas satu persatu, tapi author usahakan selalu responsif dengan semua pembaca kesayangan🥰)
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all...
__ADS_1