PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
PART 28 HARUS BERBICARA


__ADS_3

Asha dan Gading baru saja pindah rumah, ke rumah yang di bangun oleh Gading dari awal pernikahan mereka.


Gisel bergelayut manja di lengan Asha, mereka baru saja tiba setelah menemani Gading membeli beberapa perabot baru mumpung hari libur kerja di sebuah toko bangunan yang berdekatan dengan mall.


"Makasih, kak Asha, Icel sudah di belanjain." Ucapnya riang di tangannya ada tiga paper bag berisikan pakaian dan sepatu.


Asha meskipun sudah tidak lagi bekerja sebagai sekretaris direktur di perusahaan tempat suaminya bekerja tetapi orang tua angkat Laras cukup berada meski tidak kaya, tetapi dia adalah pewaris satu-satunya dari beberapa toko kain grosiran milik keluarga Batara.


Selain itu, Asha mengelola toko orangtuanya itu lewat olshop yang cukup berpengaruh dengan penghasilan harian yang lumayan, di kelola oleh beberapa anak buahnya, dengan kantor di setiap toko kain milik orangtuanya itu, yang sekarang sudah berjumlah 3 di kota yang sama.


Asha secara finansial juga cukup mapan dan tidak terlalu tergantung dengan sang suami dalam hal biaya hidup, meskipun demikian Asha tetap memperlakukan suaminya itu dengan hormat dan penuh penghargaan, itu yang membuat Gading benar-benar menyukai Asha, selain dia adalah istri yang sangat ideal.


"Gisel harus pintar, nurut sama mama dan papa. Belajar yang rajin, kalau mau di shoppingin kak Asha lagi." Asha menepuk pipi adik iparnya itu dengan sayang.


"Ashiap, kak." Jawabnya sambil menyeringai. Gisel memang sangat menyukai Asha, karena dia tidak memiliki adik perempuan, tentu saja dia sangat dekat dengan Asha, kakak iparnya.


Baru saja mereka menghempaskan diri di atas sofa ruang keluarga, handphone Gading berbunyi.


"Hm..." Gading menatap layar handphone, panggilan itu dari mamanya.


"Hallo, ma...Assalammualaikum..."


"Walaikum salam! Gading, sepertinya kamu harus ke rumah sekarang."


"Ada apa, ma?"


"Mama ingin berbicara denganmu."


"Mama bisa berbicara lewat telpon saja, kami baru sampai rumah."


"Mama mau bertemu denganmu sekarang."


"Mama kenapa? Papa sakit?"


Gisel dan Asha saling tatap, mereka sejenak terpaku, urung membuka tas belanjaan, kalimat cemas yang terlontar dari mulut Gading sedikit membuat kedua perempuan itu saling pandang.


"Papamu baik-baik saja. Tapi aku perlu bicara padamu."

__ADS_1


"Mama bisa bicara sekarang."


"Tapi, aku harus bertemu denganmu." Jawaban Bu Daniah terdengar tegas.


"Mama tunggu kamu pulang sekarang dan tanpa istrimu!"


Kalimat itu mengakhiri pembicaraan via telpon itu.


Gading terdiam, handphonenya masih mengambang di udara.


"Ada apa?" Asha menatap suaminya yang terdiam seperti patung.


"Mama ingin bicara denganku."


"Oh, ya. Semua baik-baik saja, kan?" Mata Laras terpicing sedikit menyelidik dalam nada cemasnya.


"Semua baik-baik saja, mungkin mama perlu merundingkan sesuatu soal papa...atau..." Kalimat itu menggantung tampak ragu sendiri.


Asha terdiam, menunggu Gading menyelesaikan kalimatnya tetapi sepertinya Gading memang tahu apa yang menjadi lanjutannya. Mamanya tak mengatakan apa-apa perihal topik yang ingin di bicarakannya


"Pulang? Tapi kak, aku belum ingin pulang. Kami berdua Kak Asha mau bikin cake dulu..."


"kakak akan mengantarmu pulang sekarang, nanti sore aku ada urusan."


Sahut Gading dan melirik pada Asha yang menatapnya tak berkedip. Dia sangat mengenal Gading dan gelagat suaminya itu sedikit aneh, tak seperti biasanya mengakhiri telponan dengan mamanya tanpa mengucapkan salam.


"Kita bisa membuat cake minggu depan, saat kamu libur sekolah. Mungkin mama perlu kamu pulang sekarang..." Asha mengalihkan pandangannya pada Gisel yang tiba-tiba cemberut.


"Ayo, kita antar Gisel sekarang, aku akan mengganti baju dulu..." Asha beranjak hendak berbalik,


"Tidak perlu, sayang...Kamu tidak perlu ikut. Aku akan mengantar Gisel sendiri." Gading menjawab kaku, dia berusaha bersikap normal, supaya dia tidak mengatakan apa yang diminta oleh mamanya. Dia tak bisa memberitahu Asha jika mamanya tidak ingin dia ikut beserta dengannya.


"Oh..." Asha mengerutkan dahinya sedikit, terlihat bingung, tak biasanya Gading tidak membawanya ke rumah orangtuanya jika memang ada perjalananan ke sana.


"Setelah mengantar Gisel, aku ada janji bertemu Pak Gusti... jadi kurasa kamu tidak perlu ikut, aku hanya sebentar di rumah mama." Tolak Gading, dia bukan orang yang pandai berbohong dan Asha tau ada sesuatu yang tak beres saat Gading mengatakan alasan kenapa dia tak bisa ikut dengannya.


Beberapa saat Asha terpaku pada wajah Gading, sebelum kemudian dia tersenyum dan menggedikkan bahunya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, mas. Lebih baik aku tinggal saja kalau mas Gading sedikit sibuk hari ini." Asha menyahut lalu menepuk bahu Gisel yang masih cemberut.


"Ayo, Gisel...cepat bersiap-siap, kasihan mama terlalu lama menunggu." Asha memasukkan beberapa barang belanjaan Gisel kembali ke dalam paper bagnya.


Gisel tak menjawab tetapi segera berbenah meski sambil sedikit menghentakkan kakinya karena masih keberatan dengan permintaan Gading yang ingin membawanya pulang mendadak itu.


"Aku akan memasak makan malam untuk kita, mas...Semoga urusan mas kelar sebelum jam makan malam." Asha tersenyum lebar saat Gading mendekatinya, di julurkannya tangan dan mencium tangan suaminya itu ketika suaminya itu mengucapkan pamit dan salam dengan volume rendah.


"Aku akan pulang sebelum magrib." Sahut Gading sambil mencium dahi sang istri lalu beranjak pergi di ikuti oleh Gisel di belakang punggungnya setelah mengucapkan salam pada Asha tetap dengan wajah manjanya yang masam.


Asha menatap kepergian dua orang itu, sebersit penasaran bergelayut di benaknya. Tak biasanya, Gading begitu hati-hati dan terkesan menghindar setelah menerima telpon dari mamanya.


...***...


Gading turun dari mobil dengan tergesa, sama sekali tidak perduli dengan ocehan adiknya yang tampak sedikit kesulitan membawa beberap tas di tangannya. Di kepalanya hanya ingin segera bertemu dengan mamanya, dia tak pernah mendengar suara sang mama yang demikian sinisnya saat mengatakan tak ingin Asha ada saat dia berbicara padanya.


Memang, sejak perceraiannya dengan Laras, mamanya sedikit uring-uringan. Dia masih tak percaya jika Laras telah menipu Gading untuk bisa menjadi istrinya.


Mamanya itu memang aneh, dulu dialah orang nomor satu yang nenentang pernikahannya dengan Laras, bahkan membenci perempuan itu setengah mati lebih dari orang lain. Tetapi pasca perceraian, di mana Gading mengucapkan talak pada Laras di depan semua anggota keluarganya, mamanya lah yang paling keberatan.


Bahkan, setelah Gading dan Asha mrnjelaskan bahwa hasil DNA itu membuktikan Zyan bukan putra biologis Gading, mamanya tetap berharap bayi itu di tinggalkan oleh Laras.


"Jika Asha tak bisa memberi anak, paling tidak putra Laras itu sudah kau beri nama belakangmu, setengah dari anak itu adalah anakmu!" Itu yang di katakan mam Gading, yang menurut Gading di ucapkan mamanya karena dia hanya terobsesi dengan kehamilan Asha yang belum kunjung tiba.


"Assalammualaikum..." Gading mengucapkan salam, saat pintu terbuka, dan di depan pintu, mulutnya melongo pada sang mama yang berdiri menyambutnya dengan bayi yang tertidur meringkuk di pelukanya.



...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all...

__ADS_1


__ADS_2