PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 31. AKU AKAN MERAWATNYA


__ADS_3

Sekarang, keadaan di rumah keluarga Gading kacau. Ibunya bersikeras supaya gading menerima Zyan dan merawatnya seperti anak sendiri sementara Gading benar-benar tidak terima dengan keputusan sang mama untuk menjadikan Zyan sebagai anaknya sendiri. Ia tidak bisa terima dengan hal itu, apalagi setelah kebohongan Laras yang luar biasa hampir membuat dirinya tidak menikah dengan wanita yang ia cintai.


“Laras itu perempuan jahat, dia penuh dengan tipu daya!” Gading merutuk dengan kesal.


"Ada apa dengan Mama? Kenapa dia tiba-tiba seperti tidak waras seperti ini!"


Gading memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Ia tidak sanggup untuk melihat bayi dalam gendongan Daniah. Tidak henti Gading memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Laras yang memberikan anaknya kepada ibunya itu.


“Dia kira rumah ini tempat penitipan anak apa?” Pikir Gading.  Selintas wajah Asha lewat, kemudian dia ingat ibunya mengatakan jika dia menganggap istrinya itu mandul.


"Argh! Asha tidak boleh tau ini! Aku takut dia akan lemah melihat bayi itu! Asha tak boleh tahu jika Laras telah menyerahkan bayi itu kepada mama. Astaga, Laras ini kenapa selalu saja membuat masalah dalam hidupku? Wanita ular itu pasti merencanakan sesuatu!"


Tok! Tok! Tok!


"Iya?" sahut Gading sambil membuka pintu kamarnya. Terlihat Gisel berdiri sambil menunjuk ke bawah.


"Kak Asha datang." Ucapnya dengan alis yang terlihat naik, sedikit cemas dengan ekspresi abangnya itu.


“Asha datang? Siapa yang menyuruhnya kemari?” Tanya Gading dengan gugup.


“Mama yang menelponya tadi,”


“Mama?”


“Ya.”


“Astaga mama ini. Ada apa sih dengan dia? Tadi dia bilang Asha tak perlu datang kemari, dia hanya ingin berbicara denganku. Kenapa sekarang dia malah mengundang Asha datang?”


Gading dengan cepat keluar. Ia tidak akan membiarkan Asha salah atau terhasut oleh perkataan Mamanya yang menyakitkan. Terlebih Daniah sudah menamai istrinya itu mandul. Gading tahu, mulut kasar mamanya itu bisa saja melukai perasaan istrinya itu.

__ADS_1


Daniah menyambut Asha dengan senyuman manisnya. Ia serta membawa Zyan dalam gendongannya. Asha menatap bayi yang berada dalam gendongan mertuanya. Ia mengernyitkan kening tidak mengerti.


“Ada apa mama menelponku untuk menyusul mas Gading kemari?” Tanyanya, tetapi matanya tak lepas dari bayi yang ada dalam gendongan ibu mertuanya itu.


"Ini anak siapa, Ma?" Pertanyaan itu beruntun tak sabra, tanpa menunggu jawaban ibu mertianya atas pertanyaannya sebelumnya. Asha merasa familiar dengan wajah damai bayi itu. Ia seakan melihat Zyan yang ia rasa bukan karena bagaimana juga Laras tidak tinggal bersama mereka lagi.


"Kamu tidak mengenalnya? Eh, aku tak menyangka kamu cepat sekali melupakannya.” Daniah terkekeh sambil mengelus kepala Zyan.


“Dia…” Asha terlihat ragu untuk menebak. Matanya beralih menatap ibu mertuanya itu dengan bayi yang di gendongan itu bergantian.


“Ya, dia Zyanku, dia benar-benar menjadi cucuku sekarang." Mama Gading tertawa senang.


"Apa!" Asha membuka lebar mulutnya, dia sama sekali tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Tak lama Gisel dan Gading datang dari lantai atas.


“Dik…” Gading berusaha berbicara untuk menjelaskan, dia tahu Asha pasti terkejut dan bingung dengan apa yang sedang terjadi.


"Mas, apa benar yang dikatakan Mama?" Asha membekap mulutnya tidak percaya. Setelah lama memperhatikan bayi itu, ia akhirnya sadar bahwa itu benar Zyan. Mertuanya itu tidak sedang bercanda.


"Iya, dia memang bayi Laras, Zyan." Gading berujar dengan nada dinginnya dan menatap sang Mama tidak suka.


"Mama membawa bayi itu kembali. Entah untuk apa," Gading menyentuh pundak Asha. Ia masih belum mengerti dengan perkataan suaminya itu.


"Biarkan Mama yang menjawab pertanyaanmu, menantuku." Daniah mendekat dan memberikan Zyan kepada Asha yang terpaksa menggendongnya. Keadaan yang sulit dimengerti ini membuat Asha merasa ada yang tidak beres, dengan kebingungan dismabutnya bayi yang diberikan oleh ibu mertuannya itu.


"Sebenarnya ada apa ini, Ma? Kemana mama dari anak ini? Laras? Dimana Laras? Dia kembali kemari?”Asha menatap sekeliling ruangan mencari sosok Laras dan dia tak melihat ada tanda-tanda jika Laras ada di sana.


Daniah menghela napasnya sambil menatap Gading dan Asha bergantian. Gisel kembali masuk ke kamarnya setelah diberi kode oleh sang Mama, dia tak suka anak bungsunya itu berada di tengah perdebatan yang mungkin akan dimulai lagi oleh Gading.


"Mama sudah meminta ijin dengan Ayahmu. Dia mengizinkan bayi ini menjadi anggota keluarga baru kita, tidak lain cucuku." Daniah mengelus permukaan kulit halus bayi Zyan. Matanya berbinar-binar begitu bahagia saat melakukannya seolah begitu lama dia mendambakan kehadiran bayi itu.

__ADS_1


"Dan kamu Asha." Daniah menatap Asha penuh harap. "Akan menjadi Mama untuk Zyan." Asha langsung menoleh pada Gading yang akan kembali membantah karena tetap tidak terima.


"Maksudnya Mama? Laras bagaimana?" Asha berkaca-kaca. Hatinya perih entah karena apa, meskipun hati kecilnya kasihan dengan Zyan dari awal tetapi hati seorang istri tetap saja terluka ketika menerima seorang anak yang bukan darah dagingnya di bawah permintaan ibu mertuanya sendiri bukan karena keinginan Asha yang sebenarnya. Gading benar-benar tidak tahan melihat kabut yang menggelayut di mata Asha.


"Cukup, Ma. Jangan seperti ini. Bersabarlah, kita tidak perlu bayi dari siapapun untuk menjadi cucumu, kami akan memberikanmu cucu segera." Pungkas Gading, berusaha sedikit menghibur hati Asha.


“Sabar? Sampai kapan? Ini sudah hampir dua tahun, lho?”  Daniah melirik sinis Gading.


"Kamu mau terus seperti ini? Menunggu terus tetapi tak pernah ada hilalnya kamu akan memiliki bayi dengan Asha.”


“Mama!!” Gading menyela smabil matanya melirik pada Asha, terlihat jelas semburat merah di wajah istrinya itu.


“Setidaknya Mama berusaha agar Asha bisa hamil melalui Zyan. Dia bisa menjadi pancingan untuk kalian agar lebih cepat mendapatkan buah hati, Mama tidak tahan jika terus ditanya oleh orang-orang kenapa menantuku belum hamil juga," jelas Daniah sembari menyindir Asha yang tetap sukarela menggendong Zyan.


"Ma!"


"Mas, jangan besarkan suaramu," tegur Asha membuat Gading menarik napasnya dalam, dia tahu istrinya itu mengucapkan dengan gemetar karena hatinya tentu saja tergores dengan perkataan ibunya itu. Sayangnya, hati Asha itu begitu lembut. Bahkan untuk mengatakan dia sakit hati, istrinya itu tak pernah bisa melakukannya.


"Tetap saja, Ma. Aku tidak bisa Terima ini. Kalau mau mama saja yang merawatnya, aku dan Asha tidak akan--"


"Aku akan merawat Zyan, Ma." Asha memotong perkataan Gading yang membuat suaminya terperangah tidak percaya.



.Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


   Biar author tambah rajin UP


Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...

__ADS_1


VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all...~~~~


__ADS_2