PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
PART 30. MAAFKAN MAMA


__ADS_3

"Siapa yang meminta mama melakukan ini?" Gading akhirnya duduk di kursi, berusaha bersikap tenang. Dia tahu, jika dia berdebat dengan mamanya, bukannya menyelesaikan masalah tetapi malah semakin memperkeruh suasana. Dia akan membujuk mamanya untuk tidak mempertahankan sikap keras kepalanya.


"Mama tidak di minta oleh siapa-siapa, ini murni keinginan mama. Mama ingin Zyan menjadi anak pancingan untukmu dan Asha."


Gading menghela nafasnya yang berat, menatap mamanya itu demikian lekat dan lama.


“Mama benar-benar menginginkan Zyan untuk menjadi anakku?” Tanya Gading kemudian. Daniah tak menyahut hanya saja matanya jelas mengatakan keinginannya yang tak ingin di bantah.


"Baiklah kalau begitu, Terserah mama saja tetapi biarkan aku berbicara dengan Laras.” Ucap Gading kemudian dengan nada masih saja ketus. Dia yakin, ada Laras yang berada di balik semua itu, karena itu dia harus menemui Laras. Daniah tertegun di tatapnya Gading seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Benarkah? Benarkah kamu mau mengambil Zyan untuk tinggal menjadi cucuku?”


 “Aku akan membicarakan ini dengan Asha, entah dia setuju atau tidak soal ini, tetapi bawa Laras padaku juga.”Sahut Gading.


“Kamu tidak perlu bertemu Laras!”


“Bagaimana bisa aku dan Asha mengasuh anaknya tanpa berbicara denganya? Aku harus tahu apa motif di balik ini semua.”


“Kamu tidak perlu mencemaskan Laras, dia tak akan muncul di depan kita kecuali aku yang meminta” Senyum Daniah mengembang, dia merasa telah menang atas perdebatannya dengan Gading.


 "Kalau begitu aku juga tak mau bayi itu menjadi anakku!"


"Terserah kamu mau bilang apa, Zyan akan tetap menjadi cucuku sampai kamu dan Asha bisa memberikanku seorang cucu."


Gading terperangah, dia tak tahu harus mengatakan apa lagi pada ibunya itu. Daniah sama sekali tak perduli, mata tuanya berbinar menatap bayi yang kini berada di pangkuannya sementara gading menatap mamanya itu dengan tatapan tajam, dia tak tahu apa yang membuat ibunya menjadi terlihat tidak waras hanya karena dia sangat


menginginkan seorang cucu.


***


 (Sebelumnya)


"Ada apa Ma-- eh Tante memintaku bertemu?"


Raut wajah Laras ketakutan sambil menggendong Zyan yang tidak berani ia tinggalkan di rumah. Bagaimana tidak, dia tahu benar Darius bisa saja melakukan sesuatu terhadap anaknya itu. Laraspun keluar rumah memakai topi dan juga masker agar tidak bertemu dengan Darius di luar sana, Dia takut sekali Darius akan menyiksanya lagi dan ancaman Darius yang ingin mencelakai anaknya masih saja terbayang di benaknya. Ia tidak akan bisa kabur dengan Darius, tetapi mantan mertuanya ini memaksa ia untuk bertemu dengan menghubunginya lewat telfon beberapa saat yang lalu di taman kota.

__ADS_1


"Berikan Zyan pada kami."


Mata Laras membulat sempurna, ia semakin kuat memeluk Zyan dalam dekapannya. Ia sama sekali tak ingin memberikan Zyan, anak itu adalah satu-satunya yang dimilikinya sekarang.


 "Untuk apa? Kenapa aku harus memberikan Zyan?" lirih Laras bertanya dengan nada sendunya. Ia menunduk gelisah karena takut Darius dan mencari dirinya.


 "Anggap saja itu sebagai imbalan karena kami telah menampung selama berapa bulan dan tidak menuntutmu ke polisi."Ucap Daniah sinis. Laras terperangah, matanya nanar menatap mantan mertuanya yang pernah berbuat kejam padanya tetapi di akhir kepergiannya malah menjadi orang yang paling ingin mempertahannya tinggal. Tetapi, tatapan mantan mertuanya hari ini membuatnya takut, mata itu terlihat licik dan dingin. Ia semakin ketakutan. Air matanya mengalir begitu saja.


 "Hei, jangan menangis. Serahkan saja bayimu pada kami, jangan khawatir Laras,  kami akan merawatnya


seperti dia adalah cucu kandungku sendiri. Zyan akan baik-baik saja dan tak akan kekurangan apapun bersama kami." Tawar Daniah.


"Bagaimana bisa saya percaya?" tanya Laras. Di satu sisi, ia terpikir untuk memberikan Zyan karena situasi yang tidak memungkinkan untuk Zyan bersama dengannya karena Darius bisa kapan saja mencelakai anak mereka sendiri tetapi di saat yang sama dia tak rela anaknya itu dirawat oleh Daniah yang diketahuinya dari awal sangat membencinya. Saat dia hamil Zyan, tak pernah bsekalipun Daniah memperlakukannya dengan baik.


Laras menatap lama Zyan yang tertidur dalam dekapannya. Ia kembali menangis di hadapan Daniah. Mama Gading itu tersentuh melihat tangisan Laras yang terasa menyakitkan, hatinya yang keras merasa sedikit tersentuh oleh tangisan Laras.


 "Aku tidak tahu siapa ayah dari anak ini, tapi aku juga ingin memiliki cucu." Daniah berujar dengan sungguh. Laras menghapus air matanya. Ia beralih menatap Daniah dengan matanya yang sembab.


 “Tante…”


 Laras terkesiap, dia menatap Daniah dengan raut tak percaya. Baru kali ini Daniah memperlakukannya dengan lembut.


 “Aku tahu kamu akan kesulitan merawat Zyan seorang diri, jadi alangkah baiknya jika aku yang akan merawatnya, aku berjanji padamu aku akan memperlakukannya dengan baik. Zyan tak akan kekurangan apapun.” Kalimat itu di ucapkan Daniah dengan begitu lunak.


Ditatapnya wajah bayinya itu sesaat kemudian wajah jahat Darius lewat dipelupuk matanya. Laras menggigit bibirnya, hatinya diliputi kebimbangan tetapi jelas sekali nasib Zyan dipertaruhkan sekarang.


"Aku akan menyerahkan Zyan." Suara Laras bergetar, ditatapnya lama bayi yang kini tertidur di pelukannya. Dia lebih rela Zyan tinggal dengan oranglain dari pada bersamanya tetapi setiap waktu mungkin saja Darius akan


mencelakainya. Lalu, wajah Asha melintas di benaknya, Asha adalah perempuan yang baik dan berhati lembut, dia yakin Asha tak akan menyakiti Zyan.


 "Maafkan mama, sayang," Ucap Laras dalam hatinya, persaannya seolah tersayat-sayat. Daniah berdiri dan menyerahkan sebuah amplop coklat di depan Laras.


"Ambillah ini untuk kebutuhan kehidupanmu, tidak banyak, tetapi cukup untuk menghidupimu selama beberapa bulan."


Laras terdiam matanya menatap lurus pada Daniah.

__ADS_1


“Aku tak meminta uang, bu. Jika Zyan dirawat dengan baik, itu sudah cukup bagiku.” Desisnya lirih.


“Sudahlah, ambil saja, itu hanya sedikit yang bisa ibu beri. Bukankah kamu sedang membutuhkannya sekarang?” Tanya Daniah sambil menyorongkan tangannya meminta bayi yang ada di pelukan Laras.


Laras menciun kening Zyan lama, airmatanya menetes begitu saja. Ia bangkit dan memberikan bayinya pada Daniah. Dengan sumringah, Daniah menerima Zyan sambil menatap Laras.


"Apa kamu dalam keadaan susah?" Tanyanya saat melihatan pelipis laras yang sedikit membiru.


Laras mendongak, ia tidak fokus karena terus memperhatikan Zyan yang sudah tidak bisa tinggal bersamanya.


"Ya?"Dia meminta daniah mengulang pertanyaannya, tetapi Daniah hanya menggedikkan bahunya.


"Tidak, aku harap kamu tidak muncul di keluargaku. Gading mungkin akan marah besar, tetapi aku juga butuh cucu. Aku sangat ingin menimang seorang cucu sementara si Asha itu tak bisa memberikannya padaku. Dia mungkin sudah mandul." Ocehnya sambil menimang Zyan yang tiba-tiba menggeliat.


"Tapi dia bukan anak Mas Gading," lirih Laras sambil mengelus pipi Zyan. Laras tidak tahu alasan dari perbuatan Daniah, yang ia mau agar Zyan bisa bahagia tinggal bersama dengan mereka daripada tinggal menderita


dengannya.


"Pergilah sebelum aku berubah pikiran," Ucap Laras takut berubah pikiran. Daniah tertegun sesaat lalu tanpa diminta dua kali Daniah segera berjalan keluar dari taman itu. Laras memalingkan wajahnya menahan isakannya. Namun, tak bertahan lama saat ia benar-benar luruh ke tanah dengan tangisan yang pecah tak terhahan. Pilihan terbaik yang ia bisa putuskan saat ini hanya tentang apa yang terbaik untuk Zyan.


"Mama tidak bisa membesarkanmu, maafkan Mama, nak."


(mulai hari ini novel ini UP tiap hari, ya...)



 ***


Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


Biar author tambah rajin UP...


Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all...


__ADS_2