
"Ja...jangan...jangan menyentuh Zyanku." Laras merentangkan tangannya, matanya nyalang menghalangi pandangan Darius dari anaknya.
"Aku tak akan menyentuhnya, jika kamu tidak keras kepala, Laras..." Darius tertawa.
"Aku mohon, kak...aku hanya punya Zyan dalam hidupku, yang benar-benar mencintaiku. Jangan sakiti Zyan...dia anakku, dia juga...dia juga darah dagingmu." Laras membiarkan air matanya turun, melewati pipinya.
"Baiklah...baiklah...aku mengerti, aku sangat mengerti...tapi tolong bekerjasama lah denganku, atau..." Darius menjinjitkan kakinya, berusaha melongok ke belakang punggung Laras.
"Aku rasa aku bisa mengasuhnya." Darius menatap Laras sesaat dengan seringai yang kejam.
Tangan Laras terkepal memeluk taplak meja yang menutupi sebagian tubuhnya yang tanpa busana itu. Dia benar-benar kehilangan tenaga, bahkan juga energinya untuk bernafas terasa menghilang separuhnya. Darius seolah-olah memegang kelemahan Laras sekarang.
"Mbak Asha tak pernah mencintaimu, kak...Dia hanya mencintai suaminya." Suara Laras bergetar.
"Tak perlu mengatakan apapun padaku, Laras. Soal cinta, soal perasaan, aku tak butuh itu. Aku hanya cukup memilikinya saja." Senyum yang sinis menghias bibir Darius yang di majukannya dengan gaya mengancam.
Darius mundur sambil merapikan jaketnya.
"Ku beri waktu padamu untuk memikirkannya!"
"Tapi...aku tak bisa kembali ke sana, aku sudah di ceraikan."
"Aku tak perduli statusmu apa, untuk kembali ke sana bagaimanapun caranya itu urusanmu. Tapi, aku hanya ingin melihat mereka berpisah." Darius merogoh saku celananya mengambil kunci kamar itu.
"Aku akan kembali, jadi jangan coba-coba lari dariku, Laras...sampai ujung duniapun aku bisa mencarimu." Darius membuka pintu kamar itu tanpa menoleh pada Laras, lalu menghilang di balik pintu yang di bantingnya dengan suara berdebam.
Laras sesaat seperti patung kemudian terduduk di lantai dengan tubuh polosnya, menangis sejadi-jadinya dalam kesedihannya.
__ADS_1
Dulu, Darius tak seperti ini, saat pertama kali mereka bertemu, dia adalah remaja pendiam yang tak banyak bicara.
Keluarga Giraldi adalah salah satu dari orang terpandang di kota ini, mereka pemilik beberapa restoran italy yang tersebar di beberapa kota besar karena Pak Giraldy memang masih ada keturunan Italy.
Tuan dan Nyonya Giraldy memiliki tiga orang anak sebenarnya, dua orang putera David dan Darius serta satu puteri bernama Belleza.
Sayangnya, Belleza meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat saat kembali dari Italia menuju Indonesia, usai liburan ke tempat kakeknya di Firenze, italia.
Mami Darius terguncang dengan meninggalnya Belle yang masih muda dalam usia 14 tahun, masih berada di tingkat akhir Sekolah menengah pertama.
Belle adalah anak kesayangan nyonya Giraldy, kepergian puterinya itu membuat mami Darius depresi, bahkan tak berbicara dengan siapapun selama berminggu-minggu.
Sampai kemudian, Tuan Giraldy memutuskan untuk mengadopsi seorang anak perempuan untuk mengalihkan perasaan sakit sang istri .
Dia mengajak istrinya berkeliling beberapa panti asuhan dan kemuadian Nyonya Giraldy tersenyum untuk pertama kalinya saat melihat Laras, seorang remaja cantik dengan rambutnya yang panjang bergelombang dan sedikit pirang, mengingatkannya pada rambut Belle.
Laras, tinggal di panti asuhan, setelah pulang sekolah akan membantu bekerja mengantarkan pesanan kue ke beberapa pelanggan, karena di samping panti tempatnya tinggal ada sebuah toko bakery.
Laras memilih bekerja paruh waktu di sana demi mendapatkan uang, dia ingin suatu saat akan meninggalkan panti asuhan itu dengan memiliki tabungan yang banyak, mencari pekerjaan yang layak dan hidup mandiri.
Tapi takdir berkata lain, nyonya Giraldy yang kaya raya itu menyukainya, dia akhirnya di adopsi oleh keluarga Giraldy.
Hari itu saat dia pulang dari sekolah, Ibu Nining, pengelola panti asuhan itu sekaligus ibu angkatnya menggandeng tangannya menemui dua orang tamu yang sedang melihat-lihat fotonya.
"Laras sayang, mulai hari ini, Tuhan mewujudkan mimpimu, kamu akan memiliki orang tua yang sangat kamu inginkan...kamu akan hidup senang tanpa harus bekerja lagi dengan sepeda minimu di bawah terik matahari...kamu akan memiliki semua kehidupan terbaik di dunia ini. Kamu tak akan kelaparan lagi, kamu tak akan kesepian lagi...kamu akan menjadi anak yang paling beruntung di dunia." Bu Nining berceloteh sambil menggandeng tangan Laras sepanjang lorong yang menjadi jalan karena di kiri kanan lorong itu terdapat banyak kamar, suara anak-anak terdengar riuh dari petak-petak kamar memantul sampai lorong yang mereka lewati.
"Apakah aku harus pergi?" Tanya Laras saat melihat tas berukuran sedang tak terlalu besar di tangan bu Nining yang lain, tas itu berisikan beberapa potong pakaian Laras.
__ADS_1
"Sayang, Kamu akan menemui keluarga barumu, mereka akan membuatmu bahagia, kamu akan tercukupkan. Kamu pasti akan sekolah tinggi dan sukses di kemudian hari. Tak ada apapun yang membuatmu menangis lagi karena ketakutan dengan masa depanmu."
Kalimat itu terekam jelas di memorry Laras, sebuah janji dan harapan yang dipegangnya. Terdengar begitu indah.
Itu adalah hal terindah yang di dengarnya, setelah semua kisah usang masa lalunya yang buruk. Dia adalah bayi yang di buang orang tuanya di depan pintu panti, dalam sebuah tas bayi, dengan pakaian lengkap. Seorang laki-laki tiba di sana, saat subuh memegang keranjang bayi dan menyerahkan bayi yang baru berumur 11 hari itu kepada Bu Nining.
"Aku adalah ayahnya, namaku Hariduan, aku minta tolong menitipkan anakku ini di sini karena aku tak bisa mengasuhnya sendiri. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Aku akan bekerja ke Kalimantan, dan mengirimkan biaya untuknya. Jika anakku ini cukup besar dan aku sudah mampu, aku akan kembali untuk mengambilnya." Sebuah janji yang di ucapkan laki-laki yang mengantarkan Laras ke panti asuhan itu.
"Ini adalah uang terakhir yang aku punya, semoga bisa meringankan biaya untuk merawat bayiku ini. Sampai aku mengirim uang berikutnya, setelah aku bekerja."
Pak Hariduan yang mengaku ayah Laras, meninggalkan uang sebesar 3 juta rupuah dalam amplop lusuh.
"Oh, iya...namanya Laras...Laras Rismawati, ibunya sangat ingin menamai anaknya dengan nama itu..."
Bertahun-tahun hingga Laras berusia 7 tahun, setiap tiga bulan sekali Pak Hariduan akan mengirim uang ke panti itu secara teratur, meski tidak banyak tapi setidaknya ketika uang itu tiba, Laras akan merasa punya harapan untuk bertemu sang ayah, yang entah di mana berada, di pulau kalimantan tempatnya bekerja itu.
Itulah cerita dari Bu Nining, saat dirinya masih kecil. Setiap hari Laras akan duduk di teras panti melihat ke jalan berharap sang ayah segera menjemputnya. Dia tak pernah lelah duduk di kursi rotan yang reyot itu, berharap sang ayah tiba dan membawanya pergi dari panti itu.
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all...