PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
PART 21 MENGHUKUM DENGAN MAAF


__ADS_3

"Aku hanya ingin bertanya padamu, Laras...kenapa kamu memilih mas Gading dan aku sebagai orang yang harus menanggung semua ini? Aku yakin kamu mempunyai alasan kenapa kamu melakukannya." Mata Asha menyorot tajam pada Laras yang mendadak tak bergeming di tempatnya.


"Aku akan keluar dari rumah ini, mbak. Aku akan mengingat setiap kebaikan mbak Asha padaku. Tapi aku tidak harus punya alasan untuk melakukan semuanya. Aku hanya jahat dan anggap saja pak Gading dan mbak Asha adalah korban random dari perbuatanku yang sedang kalap karena laki-laki yang sesungguhnya menghamiliku tak bertanggungjawab. Karena itu aku tak perlu membuat alasan." Laras mengangkat wajahnya.


"Jika aku melaporkanmu kepada polisi, apakah kamu akan mengatakannya?" Ekor mata Asha meruncing.


"Aku tak akan mengatakan apapun, meskipun mbak Asha memenjarakanku." Sahut Laras pendek.


"Laras, jika kamu berada dalam penjara, pernahkah kamu memikirkan nasib anakmu?" Asha bertanya dengan tajam.


"Nasib seseorang tak ada yang bisa meramalkannya, bahkan nasibku sendiri. Jika Zyan harus mengalaminya, maka aku tak bisa mengubah apapun." Laras menundukkan wajahnya, menutupi matanya yang berkaca-kaca.


Asha menghela nafasnya yang terasa berat.


"Baiklah, jika kamu tetap bersikukuh menyembunyikan siapa ayah Zyan yang sebenarnya, dan alasan di balik datangnya dirimu dalam kehidupan rumah tanggaku. Aku akan berusaha bersikap adil, setiap orang mempunyai kesempatan kedua dalam hidupnya. Dan aku memberimu itu, saat kamu keluar dari rumah ini, aku akan berpura-pura lupa dengan apa yang telah terjadi antara kita. Tapi..." Asha mencondongkan wajahnya.


"Jangan pernah kamu datang lagi dalam kehidupanku ataupun kehidupan mas Gading. Perbaiki semua kesalahanmu, tidak ada yang terlambat untuk menjadi orang baik." Asha berucap dengan suara yang melunak.


Laras terpaku, air matanya keluar begitu saja, menetes di atas punggung tangannya, tapi dia tak ingin mengangkat wajahnya.


"Laras...jangan pernah mengulang kesalahan yang sama. Jika orang lain bukan aku yang kau buat begini, mungkin kejadiannya tak pernah sama. Jadi, beristiqfarlah, bertahajjudlah...Allah selalu menyediakan jalan keluar meskipun pada lorong yang sempit, di saat kamu merasa tak ada pintu keluar lagi. Jadikan Zyan sebagai penyemangatmu untuk menjadi baik." Asha berdiri dari duduknya, berjslan perlahan menuju tempat Laras yang duduk sambil menunduk, tangannya gemetar melipat baju bayi yang ada di pangkuannya untuk di masukkan ke dalam koper.


"Laras..." Asha membungkuk dan meletakkan sebuah amplop yang di ambilnya dari dalam saku bajunya ke atas pangkuan Laras.

__ADS_1


"Gunakanlah ini, sebagian dari tabunganku yang bisa ku berikan untuk membatumu. Semoga bisa membantu memenuhi keperluanmu dan Zyan sementara kamu bisa bekerja kembali. Aku percaya kamu bisa merawat dan membesarkan Zyan dengan baik. Anak adalah titipan Allah, rawatlah dia, niscaya rejekimu datang tak pernah kurang pintu."


Laras mengangkat wajahnya yang merah dan sembab. Mendonggak pada Asha yang berdiri menatapnya tanpa sedikitpun amarah di matanya.


"Aku tidak mau ini...!" Laras berucap berusaha terdengar lantang tapi yang ada suaranya seperti tercekat memilukan.


"Aku tak mau di kasihani! Aku tak mau mbak Asha bersikap begini padaku! Lebih baik mbak Asha membenciku dari pada mbak Asha bersikap baik padaku!! Jangan berbuat begini padaku..." Tangis Laras pecah, terdengar begitu perih dan memilukan.


"Laras...aku tak mengasihanimu...aku tak bersikap baik padamu. Aku hanya menjadi manusia yang perduli pada sesamaku, aku hanya perduli pada Zyan sebagai anak yang terlahir tanpa dosa tetapi harus menanggung derita dari pertama dia melihat dunia. Aku tak ingin Zyan merasakan penderitaan yang sama seperti aku dan kamu, yang hidup di panti tanpa orangtua. Jadi...jangan pernah menilai sikapku ini karena aku baik padamu." Asha menyahut, datar.


"Kenapa? Kenapa mbak Asha terlalu baik padaku? Kenapa mbak Asha tidak jahat saja padaku, setidaknya aku tidak terbebani dengan rasa bersalah seperti ini!" Laras menggigit bibirnya yang bersimbah air mata, amplop itu di remas-remasnya dengan jemari yang seakan menjadi kaku.


"Setiap kejahatan tak harus di balas dengan berbuat jahat, karena jika aku membalasmu, itu membuat kita menjadi orang yang sama. Aku memberimu maaf sebagai hukuman yang harus kamu ingat seumur hidupmu." Asha berbalik, tanpa kata, seulas senyum terlihat di bibirnya, dia telah memenangkan rasa sakit hati yang berusaha muncul ke permukaan, perasaan yang mengungkit murkanya. Dia tak menjadi di penuhi amarah yang serasa ingin meluap, karena Asha telah meyakinkan hatinya untuk berdamai dengan kenyataan yang di alaminya.



"Kenapa? kenapa kamu menghukumku begini, kenapa kamu membuatku tak hanya membenci keberuntungan hidupmu bahkan sekarang akupun membenci diriku sendiri karenamu. Kenapa kamu membuatku menjadi tak hanya iri tetapi menjadi dipenuhi kedengkian. Semakin kamu berbuat baik padaku, semakin aku membencimu...! Kenapa? Kenapaaaa?"


...***...


Laras meletakkan Zyan di atas ranjang, bayi itu tampak kelelahan setelah mereka berdua turun dari taksi pagi ini dan langsung mencari tempat menginap sementara sampai Laras menemukan rumah kontrakan yang baru.


Untunglah, Voni temannya satu tempat bekerja sebelumnya di bar mau meminjamkan kamar kostnya, karena dia sedang berada di luar kota.

__ADS_1


Laras berjanji untuk segera pindah dalam satu dua hari sampai dia menemukan kontrakan ataupun kost kosong.


Uang yang di berikan Asha, cukup banyak, cukup untuknya hidup beberapa bulan, 20 juta, setidaknya sampai dia menemukan pekerjaan yang baru.


Baru saja dia meluruskan pinggangnya sambil meminggirkan koper dan beberapa tasnya, pintu kost di ketuk.


Laras mengernyit dahi, mungkin teman Voni atau tetangganya yang mencari Voni untuk satu kepentingan.


Laras membuka pintu itu, belum sempat dia mengangkat wajah, pintu itu di dorong dengan kasar, membuat Laras terjajar hampir jatuh.


"Aku tak pernah menyuruhmu pergi dari sana!" Suara berat yang sangat di kenal Laras.


Mata Laras membeliak ketakutan, menatap sosok yang berdiri dengan raut dingin nyaris menakutkan, menyurutkan ketanpanan yang tersembunyi di balik kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya.



...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...

__ADS_1


...I love you all...


__ADS_2