PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
BAB 39. Sadarkah Dirimu?


__ADS_3

Malam hari ditemani cahaya rembulan indah menghias dalam gelapnya langit malam. Asha yang baru saja menidurkan Zyan beranjak dari pembaringannya. Setelah bayi itu tertidur lelap dia berjalan ke atas balkon untuk memandang langit yang sudah gelap.


" Ayah? Ibu? Apa kalian bisa melihatku sekarang? Di manakah kalian? Aku sekarang tak sendiri lagi, aku punya keluarga, punya suami yang mencintaiku bahkan sekarang aku memiliki...memiliki bayi." Asha menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya sendiri.


"Andai kalian bisa melihatnya dari sana, kalian pasti menyukainya juga. Dia mungkin tidak lahir dari rahimku, tetapi seolah ada ikatan yang menyatukan kami. Apa karena aku dan Ibunya sama-sama tinggal di panti Asuhan dan kami sama-sama kehilangan Orang tua?" Pertanyaan itu seakaan mengambang di udara, menembus senyap malam.


Ingatannya melayang pada masa-masa yang telah berlalu, masa kecilnya yang menyedihkan, saat harus kehilangan kasih sayang dari ayah dan ibunya dalam masa begitu dini..


Asha memeluk tubuhnya, berusaha menghangatkan dengan sisa energi yang ada. Helaan napasnya panjang memikirkan sesuatu yang mengganjal dalam otaknya.


Selintas wajah laras lewat di kepalanya, wajah gadis yang menuai murka dan ibanya itu seakan bermain lama di pelupuk matanya.


"Aku masih tidak mengerti apa yang membuat Laras dulu ingin merusak pernikahan kami? ku rasa dia tak berniat sejahat itu."Asha bergumam.


"Apakah ada orang lain yang menyuruhnya? Atau ada seseorang di balik ini semua."Fikir Asha, benaknya berusaha memikirkan apa yang sesungguhnya terjadi.


“Dia terlihat tertekan dalam satu waktu dan begitu takut untuk berbicara, apakah dia menyembunyikan sesuatu? Ada apa sebenarnya?” Pertanytaan itu silih berganti mengiang di kepalanya seolah berlompatan.


Tapi Asha tetap saja tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi, kecuali Laras sudah berusaha masuk dalam rumah tangganya dan membuat dirinya dan Gading salah paham.


Asha yang lembut hati bukanlah orang yang bodoh sebenarnya, dia tahu ada sesuatu di belakang semua yang terjadi hanya saja dia tak tahu itu tentang apa. Berusaha menyelami semua ini, karena dia yakin tak mungkin kejadian demi kejadian yang menimpa rumah tangga yang baru di binanya itu adalah suatu kebetulan.


"Hmm..."'

__ADS_1


Seseorang di belakangnya bersandar di tembok. Ia menatap setiap lekuk tubuh istrinya. Gading sedari tadi memang mencari Asha yang tidak berada di kamar setelah ia kembali dari dalam kamar mandi dan hanya melihat bayi Zyan berada di ranjang tertidur pulas.


"Oh..." Asha terlihat terkejut mendengar suara deham itu dan segera memutar tubuhnya ke arah asal suara.


"Apa yang kamu fikirkan?" Gading berucap parau.


“Apakah kamu sekarang puas dengan apa yang kamu lakukan Asha? Apakah semua sudah sesuai dengan keinginanmu? Sebenarnya apakah kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?” Pertanyaan itu terdengar berat memecah kesunyian, membuat Asha tertegun sejenak.


"Mas Gading..." Asha terlihat salah tingkah di pandang begitu tajam dan lekat oleh sang suami.


"Sejak kapan mas datang?" Asha berusaha mengalihkan perhatian sang suami.


"Aku sejak tadi sudah di sini, hanya melihatmu menggumam sendiri tak jelas, aneh sekali, bukankah seharusnya kamu bahagia dengan apa yang telah kamu lakukan ini?" Lanjut Gading. Dia tak berkedip menatap Asha yang sejurus kemudian menunduk jengah.


“Dia bukanlah darah dagingku, kamu tahu benar itu. Dia juga adalah anak dari perempuan yang berupaya menghancurkan rumah tangga kita, kamu juga lebih tahu lagi dengan ini. Yang aku herankan, bagaimana bisa kamu tetap saja berusaha membuatnya terlibat dalam rumah tangga kita dengan mengambil bayinya untuk kau jadikan anak. Apakah kamu baik-baik saja, Asha?" Gading mengerutkan keningnya, dia terlihat mengernyit keningnya dalam temaram.


Gading terdiam, dia masih mencari berbagai alasan yang tak dia mengerti dari mata sang istri.


"Kemarilah mas, lihatlah bintang-bintang sangat banyak di langit, malam ini sangat indah, kita tidak perlu meributkan hal-hal yang tak perlu. Sebaiknya kita menikmati keindahan malam ini dari pada bertengkar" Asha mengambil tangan sang suami sembari berusaha tersenyum.


Gading mengikuti Asha, melangkah dengan di tuntun aang istri menuju pinggir teras balkon.


"Hhhhh....sudah lama kita tidak begini." Asha menghela nafasnya. Gading tak bersuara, Ia berdiri tepat di samping istrinya dan menoleh menatap wajah istrinya.

__ADS_1


"Asha, apa aku harus menerima bayi itu demi dirimu?" tanya Gading dalam hatinya, dia terlihat tak berdaya menatap senyum Asha yang merekah bahagia itu. Matanya yang menyala membuat Asha sedikit tersipu ditatap lama meski sudah lama mereka saling mengenal dan mencintai.


"Apakah kamu benar-benar menginginkan Zyan untuk menjadi anak kita?" Tapi pertanyaan itu tertahan di kepalanya saja, dia hanya menatap dalam sang istri, dia tahu benar Asha sedang mengalihkan pembicaraan dengan terus mengoceh tentang malam dan bintang.


"Apa aku terlihat aneh?" tutur Asha asal sambil menatap Gading yang sedari tadi terus saja menatapnya.


"Mas, kamu tak bicara sama sekali hanya menatapku dari tadi. Itu membuatku jengah," Asha menyentuh lengan sang suami dengan lembut.


"Apakah kamu sadar dengan keinginanmu?" Tanya Gading kemudian, suaranya terdengar rendah.


Asha menggigit sudut bibirnya, sejenak dia berfikir kemudian bibirnya terbuka,


"Aku benar-benar ingin menerima Zyan jika mungkin. Aku sangat ingin Zyan menjadi anak kita. Dengan begitu kita akan membesarkan dia, menyekolahkan dia dan kamu akan--"


"Sssst!" Gading meraih pundak Asha dan meletakkan kepalanya bersandar di sana. Menghirup bau khas istrinya dalam-dalam membuat Asha semakin memeluk erat suaminya.


"Matamu bercerita lebih banyak dari mulutmu, sayang..." Gading berucap lembut. Asha terdiam, matanya tak lekang pada wajah sang suami. Dadanya bergeletar, selalu saja sensasi itu tak pernah hilang meskipun mereka berdua telah lama menikah. Gading selalu menyentuhnya dengan cinta, mungkin karena itulah dia merasa selalu saja gugup saat di sentuh oleh suaminya itu.


"Aku mengerti..." Bisik Gading sambil mencium puncak kepala Asha.


"Mas?" Asha menjadi kikuk dalam pelukan sang suami. Suara patau Gading membuatnya semakin di landa gugup.


"Diamlah sebentar dulu," ucap Gading sambil tetap mencecap leher Asha yang terekspos, putih mulus dan jenjang itu.

__ADS_1


Asha menggeliat dengan wajah merona, desisan halus tanpa sadar keluar dari sela bibirnya, ciuman Gading terasa hangat di antara hawa dingin yang merasuk.


(Terimakasih jika ada yang masih menunggu novel ini. Lama sudah hiatus tetapi sekuat mungkin Author akan menamatkannya😅)


__ADS_2