PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
PART 15. SEPERTI MATA PEDANG


__ADS_3

"Dan satu hal lagi mbak Asha yang ingin kutanyakan padamu..." Laras mengangkat dagunya yang terlihat meruncing itu.


"Bagaimana jika aku tiba-tiba berubah fikiran sedikit?" pertanyaan Laras terlontar dalam nada rendah tetapi membuat Asha tertegun sekali lagi.


"Berubah fikiran? Apa maksudmu, Laras?" Tanya Asha tajam, sekarang dia duduk dengan tegak, tidak pernah dia merasakan seperti perasaannya sekarang, perasaan tegang yang aneh serupa dengan pertama kali dia berhadapan dengan Laras ketika Laras datang di hari pernikahannya dengan air mata.


"Bagaimana jika aku tidak ingin menyerahkan Zyan pada pak Gading?"


Asha terdiam, mulutnya kelu. Dia tak tahu jika Laras berubah begitu cepat.


Selama ini Asha mencoba membuat kedekatan emosional dari saat Laras hamil hingga dia melahirkan. Merawat Laras dan anaknya, dengan harapan, terbangun satu perasaan kasih sayang antara dia dan anak yang di kandung Laras, di mana notabene adalah anak dari suaminya yang menurut Asha juga adalah anaknya setelah Laras lepas dari pernikahannya dengan Gading.


Bukan hal mudah membuat chemistry dari rasa amarah menjadi perasaan sayang, dari rasa kecewa menjadi cinta. Asha berjuang melawan egonya sendiri lewat do'a-do'a dan kepasrahannya kepada Tuhan atas kejadian yang menimpanya dengan begitu suatu saat Asha bisa berlaku adil pada anak hasil hubungan satu malam antara suaminya dengan perempuan lain itu.


Dan sekarang, Laras mengatakan kalau dia berubah fikiran untuk tak menyerahkan anak itu di bawah pengasuhannya, Asha benar-benar kehilangan kata-kata.


"Aku hanya bertanya mbak, hanya penasaran saja..." Laras terkekeh melirik pada Asha.



"Aku tak tahu apa maksud dari pertanyaanmu, Laras." Asha menelan ludahnya sendiri.


"Tapi, jika kamu memang tidak mempercayakan anakmu dalam pengasuhanku, tentu saja aku tidak menyalahkanmu. Anakmu adalah hakmu, aku hanya ingin membantu meringankanmu, mengingat setelah ini kamu akan di ceraikan oleh mas Gading. Tidak mudah membesarkan anak sendiri, karena itu aku mewakili suamiku berusaha menebus kesalahannya dengan semua cara termasuk menerima hak asuh atas Zyan." Kata-kata Asha terdengar lugas.


Laras hanya diam, situasi antara mereka berdua menjadi begitu aneh dalam beberapa waktu.


"Aku dulu berfikir, tak masalah anak yang ku kandung ku serahkan padamu, karena aku memang tak menginginkannya. Tetapi..." Laras mengelus pipi bayinya yang memerah itu.


"Tetapi, saat aku melihat wajahnya pertama kali, saat mendengar dia menangis dan perasaan yang tak biasa ketika aku menyusuinya...aku tiba-tiba berfikir, bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja. Aku telah jatuh cinta pada Zyan setelah aku melihatnya." Laras tersenyum sendiri menatap bayinya yang tiba-tiba seperti sedang menangis dalam tidurnya, mengigau dengan lucunya.


Asha yang masih mematung dalam duduknya, menarik nafasnya dalam-dalam.


"Aku tidak menyalahkan perasaanmu. Jika kamu berubah fikiran dan ingin merawat sendiri Zyan, aku tak punya hak untuk menghalanginya. Setelah bercerai dengan mas Gading kamu boleh membawa Zyan bersamamu. Tentu saja berdosa besar jika aku berusaha memisahkan seorang anak dari ibunya."


Laras mengangkat wajahnya, seolah sedikit tak percaya bagaimana tenangnya Asha mengatakan semua kalimat itu padanya. Terdengar tulus dan tanpa beban.

__ADS_1


Asha dapat menangkap, sekilas tatapan itu seolah mengharap Asha sedikit keras padanya untuk memperdebatkan pernyataan Laras.


"Ku rasa tak ada yang perlu aku bicarakan lagi, kita berdua memahami benar posisi kita berdua masing-masing." Asha berdiri dari duduknya, sesaat dia menatap wajah madunya itu.


"Ku harap kamu tak menyalahkan aku, atas apapun yang menimpamu karena aku tak bersalah sedikitpun dalam hal ini." Asha tersenyum tipis, perubahan sikap Laras membuat Asha tampak berbeda bersikap.


"Selamat malam, Laras." Asha membalikkan tubuhnya, kakinya sedikit gemetar entah mengapa.


"Mbak Asha..." Laras memanggil dengan suara lirih.


Asha menghentikan langkahnya tanpa berbalik, menunggu apa yang mau di ucapkan oleh Laras.


"Bukankah seorang ibu harus berjuang untuk anaknya?"


Asha terpana, pertanyaan Laras seperti mata pedang yang membuat Asha benar-benar terbungkam, pertanyaan itu begitu ambigu, karena setiap jawaban apapun dari Asha akan bisa menikam dirinya sendiri.


"Seorang ibu juga perempuan, menjadi seorang ibu jangan melupakan dirimu sebagai perempuan, berjuanglah jika memang kamu berhak dengan perjuangan itu, tapi jangan kamu halalkan segala cara untuk perjuangan yang yang membabi buta." Asha melangkah meninggalkan kamar Laras tanpa menoleh lagi.


...



...***...


"Asha...kenapa kamu belum hamil juga?" Pertanyaan itu seperti petir di telinga Asha saat dia menata meja makan untuk makan malam.


Pertanyaan itu di lontarkan oleh ibu Daniah, mertuanya.


"Kenapa mama bertanya begitu? Kami belum setahun menikah, wajar saja Asha belum hamil." Gading muncul dari belakang Asha sambil sempat-sempatnya merangkul pinggang istrinya itu.


"Tapi ini sudah hampir setahun." Ibu Daniah menarik kursinya, malam ini papa mertua Asha tidak turun makan malam karena dia sudah di antarkan makan ke kamarnya.


"Kami masih menikmati masa bulan madu kami." sela Gading sambil melirik wajah Asha yang tertunduk.


"Tidak ada bulan madu sampai setahun. Kemaren sore aku ngobrol sama bu Suryo tetangga sebelah, anaknya baru menikah tiga bulan yang lalu, sudah mulai ngidam itu." Seloroh bu Daniah.

__ADS_1


"Ya, rejekinya juga masing-masing kan ma, ada yang di kasih cepat ada juga yang di kasihnya lama. Mungkin kami lagi di kadih Tuhan waktu untuk pacaran dulu lama-lama." Gading menarik kursi di sebelahnya, memberi isyarat agar Asha duduk di sampingnya.


"Sayang, duduk sini, aku sudah lapar sekali." Gading berucap seperti mengalihkan topik pembicaraan, dia tahu soal momongan Asha menjadi sensitif akhir-akhir ini.


Kesibukan Gading membuatnya kadang harus lembur, hal ini tentu saja berpengaruh terhadap waktu dan stamina Gading.


Sejak kelahiran anak Laras, Asha sering nampak uring-uringan, dia sepertinya mulai tak sabar ingin memiliki anak juga.


"Waaaa...Gisel lapar, kak Asha masak apa malam ini?" Gisel muncul dengan wajah riangnya, hanya mengenakan kaos dan celana pendek.


"Kakakmu masak ayam rica-rica pedes kesukaanmu dengan capcay seafood sepertinya." Gading menjawab cepat, merasa senang karena situasi yang mendadak canggung itu terselamatkan oleh kehadiran adiknya Gisel.


"Eh, tumben si ular itu tidak ikut makan?" Tanya Gisel sambil duduk di kursi sebelah mamanya.


"Bersikap sedikit sopan, Gisel. Tidak perlu memanggil kakak iparmu dengan Ular!"


Semua orang yang menghadap meja makan itu melongo menatap kepada bu Daniah, pertama kali mereka mendengar ibu Daniah menyebut Laras sebagai kakak ipar bagi Gisel, dan pertama kali pula dia membela Laras.


"Tapi, kan mama yang duluan bilang dia ular?" Protes Gisel tidak terima dengan bentakan yang di tujukan oleh mamanya tadi kepadanya


"Mulai hari ini, jangan menyebutnya ular lagi."



...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...

__ADS_1


__ADS_2