
"Apakah kamu benar-benar ingin aku melakukan kewajibanku sebagai suami pada Laras, hah? Apakah kamu sungguh rela jika aku...jika aku tidur dengan perempuan lain selain dengan dirimu??"
Seketika wajah Asha memerah, dia sungguh tak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulut Gading, terdengar begitu dalam dan penuh selidik, memukul langsung ke jantungnya.
"A...aku...aku..." Asha tergagap, dia selama ini terlalu fokus mengasihani nasib Laras, kata-kata Gading menyadarkan Asha, bahwa dia terlalu jauh memberikan perasaannya.
"Sejujurnya aku lebih merasa kamu manusiawi saat kamu mengamuk padaku mempertanyakan siapa Laras dari pada kamu bersikap begini. Aku sudah melakukan semua yang aku bisa untuk menebus kesalahanku." Gading melepaskan tangannya dari pundak Asha.
"Asha, aku tahu kamu terlalu baik tetapi tolonglah jangan terlalu naif, kamu mengesampingkan perasaanmu sendiri hanya untuk bisa bersikap baik. Aku tahu kamu diam-diam menangis tengah malam, aku tahu kamu berusaha menyimpan semua perasaanmu untuk kehadiran Laras. Sekarang, aku minta bebaskan dirimu...tidak perlu menanggung kesalahanku terlalu banyak. Aku tahu, bagaimana cara bertanggungjawab dengan caraku. Biarkan aku menunjukkan aku mencintaimu dengan benar. Jadi, jangan lagi menyuruhku untuk terus berusaha terlibat jauh dengan kehidupan Laras." Gading memeluk Asha dengan lembut.
"Mas..." Air mata Asha tak terbendung, dia sesenggukan di dalam pelukan Gading, tak bisa menahan tangisnya.
"Jangan terlalu baik, Asha...karena itu bisa membuatmu kehilangan semuanya." Bisik Gading sambil mencium puncak kepala Asha.
"Aku akan mengakhiri semua ini segera, Asha. Aku akan mengembalikan semua hal kepada tempatnya. Jika kesalahan satu malam itu harus kupertanggungjawabkan, aku telah melakukan kewajibanku. Untuk anak itu, jika memang dia adalah anakku, maka aku akan mempertanggungjawabkannya dengan mengasuhnya dengan seharusnya. Tetapi, jangan minta aku untuk memberi hatiku pada Laras, aku tidak bisa..." Gading mengelus rambut istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Terimakasih, mas..." Asha memeluk erat tubuh Gading, haru menyeruak sampai sanubarinya. Sekarang, dia baru benar-benar yakin bahwa, suaminya meskipun mungkin membuat kesalahan tapi tidak pernah berpaling darinya sedikitpun.
"Berhentilah membohongi dirimu sendiri dengan bersikap seolah-olah kamu bisa menerima Laras, jika kamu terluka. Aku tahu pasti, tak ada perempuan yang sungguh-sungguh rela dirinya di madu. Aku tahu benar, tak ada istri yang benar-benar ikhlas berbagi suami dengan perempuan lain setinggi apapun ilmunya, selalu ada cemburu. Dan aku sendiri sebagai suami, mengakui dengan terus terang tak akan mungkin bisa bersikap adil dalam perasaan karena aku mamusia biasa bukan nabi..." Gading berucap panjang sambil menghela nafasnya.
"Jika aku bersikap kasar dan dingin terhadap Laras selama ini, bukan karena jahat Asha, aku hanya ingin menjaga perasaanmu. Kamu telah terluka di awal pernikahan kita karena kesalahanku, aku tak ingin membuat kesalahan yang lebih jauh lagi karena itu aku meskipun secara agama telah berdosa menelantarkan Laras dalam kebathinian tapi setidaknya aku tidak menggali kesalahan lebih dalam lagi.
Terimakasih sudah memaafkanku, terimakasih telah mengerti aku...terimakasih telah berusaha menutup aibku. Ijinkan aku membalas semuanya itu, dengan menceraikan Laras baik-baik. Aku hanya ingin menjadi satu-satunya suami bagimu. Hatiku cuma satu, Asha...tak bisa ku bagi pada banyak orang."
"Mas Gading..." Asha mendonggak pada wajah suaminya itu, air matanya mengalir lebih deras lagi. Tak ada kata yang bisa di ucapkan selain menatap penuh haru dan kekaguman pada suaminya itu.
"Terimakasih, mas Gading...terimakasih telah menjadi suamiku." Asha menciumi dada Gading tanpa tahu harus mengucapkan apa-apa lagi, dia tersedu di sana menyadari bahwa dia hampir saja membuat kesalahan pada dirinya sendiri karena mengatasnamakan kebaikan hati.
Laki-laki yang tak banyak bicara ini, hari ini berbicara sungguh banyak, panjang dan lebar. Seolah-olah dia ingin melepaskan semua hal yang di tahannya selama hampir delapan bulan pernikahannya.
Asha sekarang tahu dia tidak harus lagi berpura-pura dengan hatinya, dia tak harus seperti korban yang berusaha kuat menerima kenyataan karena sesungguhnya mungkin memang mereka semua adalah korban dari keadaan.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, mas..." Asha memeluk erat tubuh Gading seolah dia tak ingin melepaskan suaminya itu.
"Aku lebih mencintaimu, Asha. aku bahkan tak bisa menggambarkan padamu, bagaimana aku mencintaimu." Gading menghela nafasnya, dan mengecup dahi Asha dengan lembut.
...
Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...