PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU

PEREMPUAN DI HARI PERNIKAHANKU
PART 23 SERIGALA KELAPARAN


__ADS_3

"Kenapa? Kenapa tidak boleh?" Darius memicingkan matanya, mendekati wajah Laras yang pucat pasi. Suara dengus nafasnya yang berat, begitu dekat, menerpa kulit pipi Laras yang tak lagi memejam matanya, tapi membeliak, seakan tak ingin lengah mengawasi gerakan Darius.


Darius tersenyum jahat, bibirnya terbuka,


"Bukankah...dia juga anakku?"


Laras tak berkedip, dia tak menjawab, tapi jelas dia tak mau menjawabnya.


"Aku adalah ayahnya, Laras...kenapa kamu begitu takut aku menyakitinya? Seorang ayah tak akan menyakiti anaknya sendiri..." Darius terkekeh, tetapi mata itu berkilat seolah mengatakan yang sebaliknya.


"Biarkan aku memegangnya..." Darius berusaha mengambil Zyan dari pelukan Laras, tapi Laras mendekap bayinya seerat mungkin.


"Jangan...ku mohon...jangan, kak..." Ratap Laras memohon.


"Waaaah, kamu ternyata punya jiwa seorang ibu sekarang Laras, meski usiamu belum duapuluh tapi sekarang kamu menjadi sangat keibuan..." Darius tersenyum seperti mengejek, Zyan mulai menangis lagi dan merengek seolah kelaparan tapi Laras tak bergeming, meskipun dia tahu bayinya sedang meminta ASI, dia tak mungkin menyusui anaknya di depan Darius.


"Dia menangis, Laras...tenangkan dulu dia atau aku yang akan menenangkannya dengan caraku? Pembicaraan kita belum selesai, aku merasa terganggu dengan rengekan bayi seperti itu." Darius mundur, kemudian menarik sebuah kursi kecil di sudut, duduk di sana sambil menyilangkan kaki, matanya tak lepas dari Laras yang masih duduk kaku di atas tempat tidur mendekap Zyan yang tangisannya semakin keras.


"Susui dia!!! atau aku yang akan melakukannya untukmu!" Bentak Darius.


Dengan tangan gemetar, Laras menggoyangkan bayinya berusaha menenangkan Zyan yang nasih menangis, lalu perlahan menyusuinya, suara tangis Zyan seketika berhenti.


Darius mengambil bungkus rokok dari dalam sakunya, mengambil bilahnya dan menyelipkannya di antara bibirnya. Beberapa saat kemudian asap tipis menguar di udara.


Mata Darius sedetikpun tak lepas mengawasi Laras.


"Kenapa kamu begitu ceroboh, Laras? kamu menghancurkan semua rencanaku..." Darius berucap serupa keluh, terdengar lebih tenang dari sebelumnya.


"Aku...aku tak tahu..."


"Kamu tak pernah tidur dengan Gading?" Tanya Darius lagi.


Laras menggelengkan kepalanya, Darius menghembus asap rokoknya kuat-kuat seakan berusaha mengusir rasa kesalnya sendiri.


"Kenapa? Kenapa kau tidak merayunya, mengurungnya dalam kamar atau membuatnya tergila-gila padamu?" Cecar Darius dengan kesal.


"Aku tak bisa melakukannya..." Laras menjawab dengan sedikit keberaniannya.


Darius menelengkan kepalanya dengan kesal.


"Apakah kamu benar-benar jatuh cinta pada Gading sekarang? Tak biasanya kamu kehilangan keahlianmu dalam merayu laki-laki. Yang aku tahu setiap aku menyodorkanmu pada laki-laki manapun, mereka mengatakan puas dengan pelayananmu." Darius merengut.

__ADS_1


Laras diam, dia menunduk sambil menyeka air matanya. Memandang bayinya yang menyesap susunya dengan rakus, menimbulkan bunyi berdecak yang sampai ke telinga Darius.


"Aku menyuruhmu menjebak Gading, tidak untuk jatuh cinta padanya. Andaipun kamu ingin menarih perasaanmu padanya, seharusnya sesudah Asha meninggalkannya." Darius meletakkan punggungnya di dinding, tampak berfikir keras sambil mengisap rokok di bibirnya.


Hening di antara mereka berdua, Laras membeku dalam diamnya, perlahan mata Zyan seoerti di beri pemberat, suara mulutnya sudah tak terdengar ramai lagi. Bayi itu sepertinya akan terlelap lagi setelah kenyang.


Mata Darius yang sekelam malam itu mengerjap menatap kepada ibu dan anak itu.


"Letakkan dia di tempat tidur." Perintah Darius. Laras tak bergerak menuruti, dia hanya menatap Darius sepwrti kucing yang memohon.


"Letakkan dia!" Suara Darius setengah membentak. Laras hampir telonjak dari tempat tidur, untung saja Zyan sama sekali tidak terganggu dengan reaksi sang ibu.


Dengan takut-takut Laras meletakkan bayinya di atas tempat tidur, berusaha merapikan branya kembali setelah menyusui.


"Berdirilah!" Suara Darius terdengar berat.



Mau tidak mau Laras menurutinya, berdiri sambil berusaha menutupi bagian atas tubuhnya yang tak mengenakan penutup apa-apa kecuali branya.


"Hum..."


Lalu berdiri dan menarik tubuh Laras ke pelukannya.


"Kak..." Laras menggigit bibirnya.


"Ya, aku masih kakakmu." Sahut Darius dengan tawa kecilnya.


Suara itu setengah menggeram dengan mata merah yang begitu nanar memandangnya itu, membuat Laras semakin ketakutan


"Papi dan mami menginginkan seorang anak perempuan, dan sim salabim...jadilah kamu..." Mata Darius menyorot tajam, tampak seperti serigala yang kelaparan.


"Kadang aku bertanya, mengapa mereka bersikeras mengambilmu dari panti itu? mengapa mami tak pernah waras sampai hari ini karena memikirkan anak perempuannya yang mati? Tapi sekarang aku menikmati kehadiranmu, Laras sebagai adikku, sungguh..."Suara Windu yang dalam itu terdengar menyakitkan di telinga, seringainya begitu kejam menatap Laras.


Laras semakin mendekap tubuhnya yang gemetar. Dia tahu akan mengalami perlakuan ini, sejak bebera tahun yang lalu, Darius selalu melakukannya pada Laras.


"Kamu menyukainya, kan....?" Darius tertawa dengan aneh, lalu menarik tubuh Laras semakin mendekat pada tubuhnya hingga menempel dengan gerakan lamban yang mengancam.


Kedua telapak tangan Darius terasa begitu dingin menembus mencengkeram lengan Laras.


Wajah tampan Darius yang kusut itu, begitu dingin dengan sorot tajam menusuk.

__ADS_1


Mata Laras yang merah dan sembab itu membalas tatapan itu, antara ketakutan dan minta belas kasihan.


"Aku mohon..."


Darius mendekatkan wajahnya ke arah wajah Laras, bau rokok menusuk dari mulutnya yang terbuka.


"Kamu harus kembali ke rumah itu." Kata Darius kemudian.


Laras bungkam seribu bahasa, matanya dipejamnya kuat-kuat, dengan segenap tenaga, ditahannya air mata yang sedari tadi seakan ingin tumpah ruah kembali dari pelupuk matanya.


"Jangan hanya diam saja begini, seperti tak tahu apa-apa. Gunakan tubuhmu, gunakan mulut manismu itu untuk merayu Gading." Jemari Darius menjepit dagu Laras dengan kuat, mengangkatnya dengan kasar.


"Aku tidak mau lagi..." Balas Laras dengan sisa keberaniannya.


"Kamu tidak mau?" Darius mencengkeram kedua bahu Laras.


Laras diam tak menyahut, matanya terpejam tanpa ada keinginan sama sekali untuk membukanya. Reaksi Laras membuat Darius semakin marah.


Darius mendekap tubuh ramping Laras dengan kasar dan menciumi leher perempuan itu dengan liar dan rakus, seolah dia berniat melahap Laras mentah-mentah.


"Lepaskan aku, kak..." Laras berusaha berontak, tapi apalah arti kekuatannya di banding dengan kekuatan Darius yang jauh lebih besar darinya.


Darius menggerayangi Laras seperti perempuan itu hanya boneka tak bernyawa, terlihat dia begitu menikmati perlawanan perempuan yang gemetaran menggeliat dalam pelukannya.


Laras memejamkan matanya, air matanya mengalir deras, lewat sudut matanya.


(Malam ini akan crazy UP, ya...lanjutannya di tunggu buat reders kesayangan yang penasaran. Othor ingin membahagiakan reders hari ini dengan triple bab😅😅😅


Oh, iya...meski alurnya terasa tak biasa tapi kisah ini sebagian kecil berdasarkan kisah nyata😔 meski sebagian besarnya murni adalah fiksi, semoga kita akan mengambil hikmah dari cerita ini, ya.. )



...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all...

__ADS_1


__ADS_2