
PRANG!!
Suara piring yang di banting terdengar dari dalam dapur.
"Apa ini?" Suara Gisel membahana setelahnya.
"Ada apa ini?" Asha berlari masuk ke dalam dapur, mendapati Gisel yang berkacak pinggang di depan meja sementara di depannya Laras tampak ketakutan dengan wajah semerah kepiting rebus, di lantai pecahan piring berserakan sepertinya dilemparkan dengan sengaja.
"Dia membuatkan omelet tanpa rasa sama sekali! Atau dia sengaja ingin meracuniku." Gisel mengacungkan telunjuknya pada Laras. Gadis tanggung ini sudah berpakaian seragam sepertinya memang hendak pergi ke sekolah.
"Biarkan aku yang memasaknya." Asha melirik kepada Laras, memberi isyarat agar perempuan itu segera menyingkir.
"Bik Irah, tolong bereskan piring yang pecah itu. Aku akan memasakkan dadar telur untuk Gisel." Asha mengambil wajan dari tangan Bik Irah.
"Dia tidak becus, kak. Sebenarnya dia bisa apa?" Gisel mengomel sambil menunjuk pada Laras yang sesenggukan.
"Dia hanya sedang hamil, Gisel. Mungkin lidah dan indera penciumnya sedang sensitif akibat hormon, jadi mengertilah..." Asha menengahi sambil berusaha tersenyum pada Gisel.
"Tapi kak, masa membuat dadar telur saja dia tidak bisa." Gisel masih saja menunjukkan rasa kesalnya di depan Asha.
"Aku akan membuatkan omelet bawang yang enak untukmu, jadi kamu bersiap-siap saja, sebentar lagi Mas Gading turun, kamu ke sekolah bareng kakakmu, kan?" Tanya Asha mengalihkan pembicaraan.
Mata bulat Gisel menatap Asha dan Laras bergantian, mulutnya komat kamit seolah sedang mengomel.
"Laras, sebaiknya kamu membersihkan diri. Aku akan membantu bik Irah menyiapkan sarapan pagi ini." Asha mulai sibuk mengupas bawang, tanpa menoleh sedikitpun pada Asha dan Gisel.
"Tapi, kak..." Gisel menyela dengan cemberut.
"Gisel, kamu tunggu saja di meja makan. Sebentar lagi sarapan siap. Minta tolong panggilkan papa dan mama." Asha tak memperdulikan Gisel yang protes keras padanya. Dia berusaha mengusir gadis remaja itu keluar dari dalam dapur.
Gisel menghentakkan kaki dengan wajah kesal, dia merengut menatap kepada Asha yang menunduk sambil sesenggukan. Lalu dengan wajah madih cemberut dia berlalu dari dalam dapur.
"Laras...kamu mendengar yang ku katakan? Pergilah mandi, dan turunlah untuk sarapan. Biar aku membantu menyiapkan sarapan."
"Tapi, mbak..."
"Ibu hamil tidak baik banyak menangis, tidak baik untuk bayi." Seloroh Asha sambil mengiris bawang.
"Aku hanya ingin membantu."
__ADS_1
"Aku tahu, kamu ingin membantu, tapi sebaiknya pagi ini kamu tidak perlu di dapur."
"Aku tidak enak, mbak..."
"Tidak apa-apa, statusmu juga menantu dalam rumah ini. Sebaiknya kamu memperhatikan kesehatanmu dan anak yang kamu kandung."
"Terimakasih, mbak..." Laras membungkukkan badannya pada Asha sambil menghapus airmatanya. Teriakan Gisel sepertinya berhasil membuat Laras benar-benar ketakutan.
Laras berjalan keluar dengan dari dapur itu segera di iringi tatapan bik Irah, asisten rumah tangga keluarga Pramudia. Dia cukup mengenal Asha, sebelum menikah dengan Gading, Asha sudah sering berkunjung ke rumah keluarga calon mertuanya di bawa oleh Gading. Apalagi saat sudah bertunangan, Asha seringkali hadir untuk membantu jika ada acara keluarga. Asha adalah gadis yang rajin, pintar dan mandiri. Dia juga sangat pandai urusan memasak.
Bik Irah juga suka mengobrol dengan Asha yang ramah dan baik hati itu.
"Non Asha..."
"Ya, bik."
"Kenapa non Asha membela perempuan yang dikatakan Ibu dan non Gisel kuntilanak itu?"
"Hush, tidak boleh menyebut orang sembarangan, bik. Dia juga manusia, lho."
"Tapi kata non Gisel dia itu menggoda Den Gading saat mabuk, kemudian minta pertanggungjawaban den Gading. Seharusnya non Asha jangan membiarkan dia menikahi den Gading..."
"Tapi, non...dia hamil karena kesalahannya sendiri. Kok ya mau di hamilin laki-laki tidak dikenal?"
"Bik Irah..." Asha mengangkat wajahnya dari bawang di tangannya.
"Itu bukan hanya kesalahannya tapi juga kesalahan mas Gading, aku tidak bisa membiarkan suamiku meninggalkan darah dagingnya dari tanggungjawabnya. Seorang istri juga harus menutupi aib suaminya, karena aib suami juga adalah aib istri." Suara Asha terjeda sesaat seolah sedang mengambil nafas.
"Aku tak tahu apa yang terjadi di balik semua kejadian ini, tapi Mas Gading memang pernah tidur dengannya. Anak yang di kandungnya itu, hidup dan perlu seorang ayah, apapun yang orangtuanya lakukan, dia tak berdosa sama sekali. Suatu saat dia lahir tanpa ayah, lalu apa yang akan di katakannya pada dunia? Aku tak tega ikut menggores nasib pada seorang anak menjadi yatim, karena aku pernah menjadi anak yang tak punya orangtua." Asha berucap dengan suara lirih, sebaris senyum masih menghias bibirnya.
Bik Irah terpana menatap perempuan yang kini sibuk memecahkan telur ke dalam mangkuk itu.
Dia tak tahu, hati istri dari majikannya itu, begitu luasnya. Tak banyak perempuan yang berani berada di posisinya itu, mengijinkan seorang perempuan menjadi madunya bahkan bersikap begitu tulus.
"Non Asha kenapa non begitu baik?"
Bik Irah menyalakan kompor dan menyiapkan wajan di sana, sementara Asha tak menjawab apapun.
...***...
__ADS_1
Asha menyerahkan tas kerja Gading dan mencium tangan suaminya, melepas sang suami untuk berangkat bekerja pagi ini dengan wajah cerah.
Raut muka Gading tak kalah sumringahnya, masih teringat bagaimana malam tadi dia menghabiskan malam pertama bersama isterinya itu dengan begitu bahagianya.
"Aku pergi dulu." Sebuah ciuman mendarat di dahi Asha.
"Aku pulang cepat hari ini." Gading nyengir kepadanya membuat Asha tersipu sesaat.
"Assalammulaikum, sayang."
"Waallaikumsalam, mas."
Gading beranjak ketika tiba-tiba Laras muncul turun dari lantai atas. Suara langkahnya mendadak berhenti, membuat Asha dan Gading terpalu sesaat padanya.
"Laras...kemarilah..." Asha menatap Laras yang mendadak ragu untuk turun, meski dia sudah sampai pertengahan tangga.
"Tolong antar mas Gading sampai pintu, aku mau..." Asha berusaha mencairkan suasana melihat ekor mata Gading yang tampak tak suka pada kehadiran Laras itu.
"Tidak perlu, aku bisa berangkat tanpa di antar." Gading menyela kalimat Asha.
"Gisel sudah menunggu di mobil, aku mengantarnya lebih dulu, nanti dia terlambat. Pak Didin sedang cuti, tak ada yang menyopir untuknya."
Sesaat kemudian, Gading berbalik, sama sekali tak perduli dengan tatapan dua perempuan yang kini menjadi istrinya itu.
"Mas, sore nanti kalau kamu ada waktu luang, antarkan Laras ke dokter kandungan atau bidan, sebaiknya dia memeriksakan kehamilannya dengan benar." Asha berucap sambil memegang lengan Gading, sebelum laki-laki itu berjalan.
"Aku sibuk, sayang. Suruh saja dia pergi sendiri."
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...
__ADS_1