
Asha tampak menunduk sambil meremas tangannya sendiri, melirik pada Laras yang tak berkedip menatap Gading.
"Sebelum kamu menjatuhkan talak kepada Laras, apakah mama boleh mengatakan sesuatu?" Tiba-tiba Ibu Daniah menyela.
Gading yang hendak melanjutkan pembicaraannya seketika terdiam.
"Berikan kesempatan pada Laras untuk berbicara?"
Asha mengangkat wajahnya, menatap ibu mertuanya yang seolah tak memperhatikan kepada dirinya.
Tentu saja, semua tetap terkejut dengan sikap ibu Daniah, selama ini yang mereka tahu mertua Asha itu sangat membenci Laras.
"Berbicara apa?" Gading mengernyit dahinya.
"Tidak adil jika kamu menalaknya tanpa memberi kesempatan padanya berbicara. Dia telah mengandung dan melahirkan anakmu, jangan membuatnya seperti kantong kresek, setelah kamu mengambil isinya lalu kamu buang ke bak sampah." Kalimat itu terdengar tajam, meski di sampaikan dalam nada rendah.
"Mama...? Mama sehat?" Gisel melotot pada mamanya, mewakili keheranan semua orang.
"Gisel, todak perlu ikut campur. Kamu masih anak-anak. Lebih baik kamu tidak ikut-ikutan. Sebaiknya kamu ke kamarmu saja. Kehadiranmu tidak penting di sini." Ibu Daniah membalas pelototan anak bungsunya itu.
"Tapi..." Gisel hendak protes, tapi papanya yang duduk di sebelahnya menepuk bahu putrinya itu perlahan memberi isyarat agar Gisel tidak melanjutkan perdebatannya dengan sang mama.
"Sayang, sebaiknya kamu naik ke kamarmu...besok kamu harus bangun cepat untuk sekolah." Tegur pak Pamudia lembut.
Gisel berdiri dengan muka masam, sambil melirik pada Laras.
"Apa benar anaknya itu anakmu kak? Ku lihat gak ada mirip-miripnya." Oceh Gisel sembari berlalu sambil memeluk boneka bearnya.
Sesaat raut wajah Laras memerah, dia menunduk dengan cepat.
"Apa yang ingin kamu katakan Laras?"
tanya Gading dengan suara berat.
Laras mengangkat wajahnya, menoleh pada Ibu Daniah sebentar.
__ADS_1
"Aku tak ingin mengatakan apa-apa, bu...sebagai orang yang tak beruntung aku merasa bersyukur pak Gading telah menyelamatkanku dari rasa malu, hamil tanpa suami meskipun ini adalah anak pak Gading.
Tapi...aku sangat menyadari pak Gading juga tidak menginginkan anak ini." Laras menundukkan wajahnya menatap bayi di tangannya yang tertidur lelap.
"Aku juga berterimakasih, selama 8 bulan ini telah di tampung dan di rawat dalam rumah ini, meskipun kadang aku merasa di abaikan tapi aku bahagia, berada di dalam keluarga ini. Setidaknya setelah Pak Gading menceraikanku, aku mempunyai kenangan pernah memiliki keluarga sebaik keluarga ini." Air mata Laras tiba-tiba jatuh di pipinya, dia membiarkan semua orang melihat bagaimana kesedihan yang di tunjukkannya sekarang.
Asha tertegun memandang raut Laras, terlihat sungguh berbeda dari biasanya dia berhadapan di depan Asha. Terkesan begitu memelas meskipun dia seolah sedikit berlebihan.
Mata ibu Daniah terlihat bersinar iba pada Laras.
"Hanya saja, aku...aku tidak bisa memenuhi satu hal, setelah perceraian ini. Aku tak bisa meninggalkan Zyan. Meski apapun yang mungkin terjadi padaku setelah pak Gading menalakku. Aku akan membawa Zyan bersamaku." Laras melanjutkan, suaranya terdengar begitu berat.
"Itu adalah keputusanmu, Laras. Aku tak akan menghalangimu." Gading menyahut, membuat Laras terdiam sejenak, dia tak menyangka respon dari Gading begitu arogannya di depan orangtuanya.
"Gading? Apakah kamu tak punya perasaan sekali? Bagaimana Laras akan menghidupi anaknya?" Bu Daniah tiba-tiba menyela.
"Aku telah memberinya pilihan, bu...tapi dia ingin seperti itu, aku tak akan menghalanginya, itu anaknya."
"Tapi, anaknya juga anakmu."
"Dia sudah memilih untuk membawanya, aku rasa juga itu sudah benar. Seorang ibu kandung lebih baik membesarkannya dari pada orang lain." Gading berucap datar.
"Tapi dia juga...dia juga cucuku."
Semua semakin tercengang dengan perubahan sikap bu Daniah, yang berbalik 180 derajat itu, dia berusaha menjadi tameng untuk menggagalkan perpisahan Gading dan Laras.
"Mama? Ada apa dengan mama?" Gading menaikkan alisnya.
"Aku menikahi Laras karena menyelamatkan situasi, bahkan akh tak sempat di beri waktu untuk membuktikan apa-apa sebagai pembelaan diriku. Dan aku telah cukup membuang waktuku dengan menpertanggungjawabkan apa yang tidak kuyakini, demi membuat diriku dipandang manusiawi. Anak itu boleh memakai namaku, anak itu akan mendapat tunjangan dariku anggaplah itu sebagai harga dari ketelodaranku. Tapi, aku tidak bisa memaksakan diri untuk tetap menikahi Laras. Aku tidak mencintanya. Tak ada yang bisa berjalan baik jika kita tak memiliki perasaan apa-apa. Aku bukan penganut berbagi cinta, yang bisa memberikan hatiku ke sana kemari. Jadi, jangan memaksa aku berubah fikiran!" Kalimat itu dingin dan tegas, di ucapkan dari mulut seorang laki-laki yang selama ini banyak diam dengan keadaan yang sudah terlanjur terjadi itu.
Ibu Daniah tak berkedip menatap Gading sementara pak Pramudia membisu, dia benar-benar tak bisa ikut campur dengan keputusan anaknya itu.
Duduk perkara masalah ini telah salah sejak awal dan apapun yang terjadi setelahnya, seperti buah simalakama. Tak bisa di nilai, yang mana benar yang mana salah, yang mana korban yang sebenarnya yang harus di kasihani.
"Kamu boleh menceraikan Laras tapi tidak sekarang." Ibu Daniah berucap dengan raut yang keras, menentang wajah anaknya yang memerah saat mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Apa maksud mama?"
"Sebelum Asha hamil, aku tidak menyetujui perceraiaanmu dengan Laras." Jawaban Ibu Daniah membuat Asha seperti tersambar petir.
Mukanya memerah, dia mematung seperti arca, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Mama...! Kenapa mama berkata begitu?" Gading menatap mamanya bergantian dengan Asha, dia merasa cemas dengan respon Asha, mendengar kata-kata yang seolah menyudutkan Asha itu.
"Ma, ini adalah urusan rumah tangga anak-anak. Kita tidak bisa ikut campur terlalu jauh. Dari awal kita tahu yang terjadi, dan merekapun sudah mempunyai kesepakatan bersama. Yang menjalani rumah tangga itu mereka, bukan kita." Tegur Pak Pramudia menengahi.
"Tapi aku juga berhak memberi pendapat." Sahut bu Daniah.
"Mama tidak sedang memberi pendapat..." Sahut Gading, piasnya masam tak menyangka mamanya akan bersikap begitu jauh.
Sejenak semua saling pandang, tak terkecuali Laras yang mengangkat wajahnya dari menunduk ada rasa puas yang sempat berkelebat di raut wajahnya, sebelum berubah menjadi mengiba kembali.
Asha bisa menangkap itu, karena dia cukup dengan Laras selama ini.
Sekarang Asha mulai bimbang, dia kemudian tidak yakin jika Laras mempunyai wajah lebih dari satu. Ada misteri yang aneh, yang tiba-tiba baru di sadarinya sekarang. Laras tidak sepolos yang selama ini di tunjukkannya.
"Karena Laras telah di beri kesempatan untuk berbicara, apakah sekarang saya boleh berbicara juga?" Suara Laras bergetar memecah ketegangan.
"Karena aku lah yang mengijinkan pernikahan mereka, aku hanya ingin mengatakan, apapun yang menurut mas Gading terbaik untuknya, itulah yang harus di lakukan. Termasuk menceraikan Laras malam ini juga." Suara Asha yang biasanya lembut itu terdengar dingin dan berbeda.
...Asha...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
__ADS_1
...I love you all...