
"Br3ngs3k!!! Kurang aj@r! Kamu siapa, Hah! Tak sopan sekali?" Gading menggeram, teriakannya membuat Asha terbangun karena terkejut. Sebelum sumpah serapah berikutnya tersembur dari mulut Gading,
Tuuut!
Suara itu akhirnya hilang begitu saja saat panggilan terputus.
"Heyyyy...!!!" Gading berteriak kesal, tapi di layar ponselnya tak ada lagi panggilan.
"Ada apa?" Asha bertanya dengan bingung di antara kantuknya. Gading menatap Asha dengan tatapan yang tak kalah penuh tanya.
"Siapa dia?" Gading mengepalkan tangannya.
"Siapa dia?" Asha bangun sambil mengulang pertanyaan yang di ucapkan suaminya itu. Gading bisa melihat wajah polos Asha, jelas istrinya itu tak tahu apa-apa.
"Apa yang orang tadi bicarakan?" Akhirnya Gading melengos sambil meletakkan ponselnya ke atas meja, raut wajahnya masih menyisakan rasa kesal.
Telfon misterius itu membuat Gading menjadi sedikit was-was. Ia sensitif jika ada yang berkaitan dengan Asha, istrinya. Gading memutuskan untuk kembali menelfon nomor itu, tetapi hanya mendapat balasan dari operator telfon, bahwa nomor tujuan di luar area.
__ADS_1
"Siapa, mas?" Asha turun perlahan dari tempat tidur, supaya tak menimbulkan suara. Gading sesaat tak menjawab sebelum kemudian menaikkan bahunya.
"Entahlah, mungkin orang kurang kerjaan. Malam-malam begini menelpon tak jelaas, ada-ada saja."
Gading menghela napasnya. Ia baru saja pulang bekerja dan diberikan hadiah telfon misterius membuat otaknya yang sedang tak terlalu sehat memikirkan masalah rumah tangganya yang agak panas akhir-akhir ini karena campur tangan ibunya sendiri.
"Mas Gading baru pulang..." Asha mengucek matanya dengan tatapan penuh tanya.
"Aku lembur di kantor, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan cepat." Dalih Gading, dia berbicara seadanya, tak ingin memancing pertikaian antara mereka berdua lagi. Bertengkar dan salah paham terus itu kadang melelahkan.
"Oh." hanya sepenggal kata itu yang terdengar dari mulut Asha, sambil mengangguk lega. Dia sama sekali tak membahas tentang panggilannya yang tak di angkat oleh suaminya atau chat-catnya yang tak di balas dalam kurun waktu beberapa jam yang lewat.
"Mas gading sudah makan? kalau belum aku akan memanaskan makanan di dapur sebentar dan menyiapkannya untuk mas Gading." Ucap Asha kemudian, terlihat tulus dan perhatian tak perduli dengan sikap ketus Gading yang masih di tunjukkannya.
"Sudah. Aku sudah makan tadi di kantor, jadi tak perlu repot-repot. Kamu lanjutkan saja tidurmu, aku mau mandi saja dulu, badanku rasanya capek..." Gading akan berjalan menuju kamar mandi, ketika ekor matanya mencuri pandang pada sang istri yang terlihat berdiri menatapnya dengan ekspresi sedih.
"Kamu kenapa, sayang?" Akhirnya Gading tak tahan untuk menghampiri Asha, meraih pipinya dengan lembut. Dia sungguh tak tahan dengan ekspresi sang istri yang selayak mendung ingin menurunkan hujan itu.
__ADS_1
"Agh, memangnya kau kenapa?" Asha balik bertanya sambil berusaha tersenyum, tetapi matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku..." Gading meraih Asha ke dalam pelukannya,
"Maaf untuk apa?" Asha bertanya dengan suara serak, dia membiarkan Gading memeluknya dengan lembut.
"Aku sudah mengabaikan panggilan telpnmu dan tak membalas WAmu." Jawab Gading dengan penuh sesal.
"Aku tidak benar-benar sibuk..." Lanjutnya sambil menepuk punggung Asha lembut.
'Hanya saja, aku sedang merasa ingin sendiri. Aku perlu berfikir dan mencerna semua yang sudah terjadi. Aku juga berusaha mempertimbangkan permintaanmu dengan mama, maafkan aku jika itu menyakiti perasaanmu." Bisik Gading sambil mencium puncak kepala Asha yang hanay menggigit bibirnya sementara air mata menetes dari sudut matanya.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti." Bisiknya di telinga Gading kemudian, suaranya terdengar begitu serak menahan tangis yang tiba-tiba datang tanpa alasan. Cemas dan gelisah karena tak di indahkan suaminya itu spertinya menyaru bersama rasa kecewa yang kemudian di tumpahkannya setelah mendengar permintaan maaf sang suami.
Di lain sisi, di seberang jalan nan sepi, sebuah mobil terpakir di sana, seseorang mengintai rumah keluarga Gading di belakang jok setiran dengan memakai topi yang turun hingga menutup sebagian wajahnya.
"Tunggu dan lihat apa yang akan terjadi nanti." Senyuman maut itu terlukis di bibirnya. Seringai pada wajahnya tak kalah mengerikan dari pada hatinya sendiri.
__ADS_1
"Asha, apakah kamu pernah memikirkan aku?" Bisiknya sambil menyungging senyum aneh. Dia terlihat tak waras dengan pias menyeringai seperti itu.
"Asha selamanya adalah milikku. bagaimanpun caranya aku akan membawanya kembali padaku."