
Aku kembali dan melihat mereka semua sedang makan buah yg dipetik dari pohon lantai ini.
"Kau lama sekali Hakuya." Ran berkata sambil melempar buah ke arahku.
"Haha maaf,Aku menemukan tanaman obat yg sangat baik untuk kita melanjutkan ke dungeon." kataku membalas sambil mencicipi buah itu.
"Benarkah?itu sangat membantu,ayo kita lanjutkan sekarang." Rin sambil berdiri dan memegang kedua tangan Ryuko dan Kyouko.
"Apa mereka berdua nakal Rin?" tanyaku.
"tidak,mereka anak yang baik,mereka sangat manis,tidak heran kau bilang mereka berdua adalah malaikat penyemangatmu." Rin bersemangat.
"Baguslah kau paham Rin,ayo kita mencari jalan ke lantai selanjutnya." Kataku sambil tersenyum.
"Oh itu tidak perlu Hakuya,sementara kai pergi,kami sudah menemukan jalan selanjutnya." Ran membalas.
"Benarkah?dimana?" Tanyaku.
"Dibelakang jatuhnya air terjun,ada sebuah gua yang mengarah ke jalan selanjutnya." Ran sambil menunjuk ke arah Air terjun yg tak jauh dari sungai yg mengalir.
"Tunggu apalagi,ayo kita melangkah."
Lalu kami masuk ke dalam sebuah gua di balik air terjun yang terdapat sebuah lubang yang menuju ke lantai selanjutnya.
Lantai 89~
"Hati-hati,minotaur menyadari kedatangan kita!." Ran waspada sekeliling.
"Ayo kita bereskan Ran!" kataku sambil meninju minotaur itu dengan satu pukulanku dan membuat minotaur itu mati dan menyisakan inti mereka yang baik untuk Ryuko da Kyouko bertambah kuat.
"Wah ini seluruh kekuatanmu Hakuya,kai sangat hebat,semangat semuanya!"
Ran bersemangat.
"Tentu kakak." Rin menambah.
"Ryuko,Kyouko ambil inti itu dan makanlah,kemudian lanjut bertarung!" Kataku kepada mereka berdua.
"Baikk!" mereka berdua bersemangat.
Ryuko,Kyouko yang lincah,Kakak adik yang efisien dan tangguh serta diriku yang membuat tim kami tidak terkalahkan hingga para minotaur berhenti berdatangan.
"Haha kita tim yang hebat!" kataku.
"Kau benar,kita adalah tim yang hebat." Rin menambah.
"Setelah tunanganku sembuh,mari kita merayakan hari ini."
"Yaaa!" kami serentak bersorak sambil mengangkat tangan bersama.
Dengan meningkatnya kekuatan kami,perjalanan masuk dungeon terbawah menjadi lebih mudah hingga lantai 99.
Lantai 100(Akhir)
"Akhirnya kita sampai,dimana jantung dewa itu?" kataku bertanya.
"kita harus mencarinya,Aku hanya tahu bahwa jantung itu hanya dilantai 100,Aku tidak tahi dimana letaknya,karena kita orang pertama yg sampai ke lantai akhir ini.
__ADS_1
"Heeh,baiklah kita harus menemukannya."
Tiba-tiba tanah bergetar dan membuat kami kaget dan mencoba untuk tenang.
"Apa ini?kenapa tanahnya bergetar?"
Rin dengan heran.
"Hakuya kami takut." Ryuko dengan raut tidak tenang.
"Apa yg terjadi?" begitu juga dengan Kyouko.
"Tenanglah,Aku akan melindungi kalian!." kataku sambil memeluk mereka dan menjadikan tubuhku perisai.
"Hati-hati dengan batu yang jatuh semuanya." Ran memperingatkan.
Setelah beberapa menit,bebatuan dari dungeon berhenti jatuh menimpa dan getaran juga terhenti.
"Sudah berhenti?" Ran sambil melihat ke atas.
"Semuanya,lihat!" Kataku dengan kaget sambil menunjuk ke arah apa yg kulihat.
"Gawat,ini...ini." Rin terbata-bata.
"Elang Biru Amethyst,merupakan mahluk legenda yg sangat kuat."
"Kalian berlima,kalahkan Aku dan akan kuberikan jantung dewa itu."
"Demi kekasihku,apapun akan kulakukan!" Ran berlari ke arah Elang itu dan ingin meninjunya.
"Kakak hati-hati!"
Namun Ran dicakar oleh elang itu dengan mudah dan terluka hingga pingsan."
"Kakak!" Rin berlari ke arah Ran yang sedang sekarang dengan air mata berjatuhan."
"Bagaimana Rin?" tanyaku.
"Syukurlah,masih bernafas." Ran sedikit lega namun air mata bercucuran.
"Bagus,tempelkan dauh tanaman obat ini ke lukanya dan lindungi dia hingga dia sadar,Rin jagalah Ryuko dan Kyouko,Aku akan menghadapinya sendiri." Kataku menarik pedangku dan terbang ke arah elang biru Amethyst itu.
"Hakuya,kaulah harapan terakhir Kakakku." Rin dalam hatinya sambil mengobati Kakaknya.
"Hei Elang biru Amethyst,kau sudah melukai temanku,bagaimana kau membayarnya?" kataku ke arah burung itu.
"Manusia,menyerahlah,kau tidak sebanding denganku."
"Benarkah?kita buktikan!" Aku terbang ke arah elang itu dan menebas bulunya."
"Bu...bulu indahku,manusia,kau lumayan juga." Elang itu berkata.
"Selanjutnya tak akan meleset." Aku kemudian terbang kembali dan beradu pedangku dengan cakarnya.
"Kau sangat tangguh manusia." Elang itu semakin memperkuat gerakannya.
"Heeh,kau juga sangat mahir dengan cakarmu,akan ku ajari kau bagaimana kekuatan seorang dewa!"
__ADS_1
sementara ditempat Ran sedang terbaring.
"Di...dimana Aku?" Ran perlahan membuka matanya dan perlahan berbicara.
"Kakak,Aku pikir kau tak akan bangun lagi." Rin memeluk Kakaknya sambil menangis.
"Dasar Adik bodoh,Kakakmu ini sangat kuat." Ran membalas sambil mengelus pipi mungil adiknya kemudian menatap ke arah lain.
"Hakuya?bagaimana bisa dia sekuat ini?" Ran sedikit terkejut."
"Kita tak sebanding dengannya,kita berhutang padanya Kakak." Rin membalas.
"Rin,apakah Hakuya bisa menang?" Ryuko sedikit khawatir.
"Ya,Kyouko takut Hakuya akan terluka." Kyouko menambahkan.
"Tenang saja,Hakuya akan baik-baik saja,jangan khawatir." Rin sambil memeluk Ryuko dan Kyouko yg sedari tadi di dekatnya.
Sedangkan di situasi Hakuya.
BUGG...
Lempengan pedangku memukul Elang itu hingga terjatuh dan terluka sangat parah karena terbentur bebatuan di lantai dungeon.
"Menyerahlah,kau tidak akan bisa mengalah kamu sekarang." Kataku sambil megarahkan pedangku ke arahnya sambil terbang.
"saya menyerah,anda sangat kuat,jika Tuan tidak keberatan,izinkan saya menjadi pengikutmu,saya ingin dibimbing dengan master yang kuat." Kata elang itu.
"Apa kau yakin?kau adalah binatang surga,kau yakin ingin diriku seorang manusia ini menjadi Mastermu?".
"Tuan memang seorang manusia,tapi Tuan berkekuatan Dewa,saya ingin dibimbing oleh Master yang kuat,Tuan mohon izinkan saya menjadi peliharaan Anda." Elang raksasa itu berdiri sambil menunduk.
"Tapi Aku juga memiliki seekor serigala biru yang juga seorang binatang surga,apa kai tak masalah?"
"Serigala biru,apa itu Alarick?" Elang itu bertanya.
"Kau mengenalnya?" Aku berbalik bertanya.
"Dia dan saya adalah sahabat dekat,namun setelah lingkungan miliknya hancur,saya mencarinya dan tidak menemukannya,hingga saya bertemu dengan Tuan,saya bisa bertemu dengannya kembali." Elang itu menjelaskan.
"Baiklah,bersumpah setialah kepadaku dan jangan mengkhianatiku." Kataku sambil memegang kepala elang itu yang sedang menundukkan kepalanya.
"Saya berjanji dan saya membuktikan bahwa saya bersumpah setia kepada Tuanku yang baru." Balasnya.
"Bagus,kontrak telah terbentuk,jadikan ukuran elang biasa dan berdiri di pundakku."
"Sesuai perintah Tuan." Elang itu berubah menjadi kecil dan langsung bertengger di pundakku."
"Oh ya bagaimana Aku memanggilmu?"
Tanyaku.
"Tuan bisa memanggil saya Orion."
Balasnya.
"Baiklah Orion,kau sudah terluka,makanlah obat pemberianku dan kau akan sembuh."
__ADS_1