Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Ke tempat Pak Kyai


__ADS_3

...°°°°°°°•••°°°°°°°...


Surya telah tersenyum, menampilkan cerah tanpa adanya semburat mendung yang menghalangi.


Semua Insan juga sudah mulai terbangun, menata hati lagi untuk memulai aktivitas yang seperti biasa.


Semua tampak berbinar saat bangun dari tidur mereka tapi sangat berbeda dengan Febri. Dia sudah bangun, juga sudah membuka matanya tapi sayangnya berkali-kali dia mengusap juga membulatkan matanya tapi cahaya itu seolah pergi dari hadapannya. Semuanya hitam dan gelap gulita.


"Astaghfirullah, ada apa dengan mataku," gumamnya. Tangannya terus bergerak, mengusap kedua matanya secara bergantian.


Febri masih berada di atas kasurnya sendiri, dia sama sekali belum bergerak untuk beranjak. Dia masih terus mencoba untuk membuat matanya kembali normal.


"Feb, kamu kenapa?" Salman yang melihat Febri langsung menghampiri. Dia duduk di hadapan Febri yang seolah tidak melihatnya.


"Sal, kamu di mana? tanya Febri dengan sangat bingung. Kedua tangannya terangkat menggagapi Salman yang sebenarnya ada di hadapannya.


Bingung itu pasti Salman rasakan. Bagaimana bisa Febri tidak melihatnya padahal dia tepat ada di depannya. Matanya Febri juga sudah terbuka lebar juga terlihat tak bermasalah, lalu apa yang membuatnya tidak bisa melihat?


"Cuci muka dulu sana!" perintah Salman. Mungkin Febri tidak melihat karena masih belum genap sempurna.


Salman begitu ketar-ketir, dia juga ada rasa takut. Bagaimana jika itu adalah pengaruh dari sinar merah dari pocong semalam yang Febri lihat, semoga saja itu tidak benar.


"Semoga itu tidak benar." batin Salman.


Memang tidak ada cerita yang beredar kalau yang berhasil melihat mata merah itu akan menerima dampak buruk di matanya. Mungkin ini hanya kebetulan saja.


''Tapi ini sangat gelap, Sal. Bahkan aku tidak bisa melihat apapun!'' ucapan Febri terdengar sangat keras tapi juga terdapat semburat rasa khawatir juga sangat takut.


Tak biasanya Febri seperti ini, ini adalah kali pertama bagi Febri ngalamin semua ini.


''Ya sudah, sini aku bantuin,'' Salman juga langsung meraih tangan Febri, menuntunnya untuk sampai ke kamar mandi.


Dituntun lah Febri sampai di kamar mandi, di sana Febri juga langsung membasuh wajahnya hingga berkali-kali.


''Masih gelap, Sal!'' Febri sedikit berteriak dia terus berusaha tapi tetap saja belum berhasil.


Febri kembali membasuh wajahnya lagi, dalam hati juga terus berdoa semoga dia bisa melihat lagi. Febri sangat takut, dia juga merasa tak melakukan apapun yang membuatnya seperti sekarang ini, tapi?


''Bagaimana, masih tidak bisa melihat?'' tanya Salman yang juga sama khawatirnya sama seperti Febri.


Febri menggeleng kasar, dia sama sekali belum bisa melihat apapun semuanya sangat gelap, hitam sama sekali tak ada pancaran sinar yang membuat semuanya menjadi berwarna.


''Belum, kira-kira kerena apa ya, Sal?'' Febri juga melemparkan tanya pada Salman yang juga sama sekali tidak tau apa jawabannya.


''Aku juga tidak tau. Apa perlu kita ke rumah sakit?'' tanya Salman lagi.


''Coba nanti deh, kalau siangan masih belum bisa melihat juga kita baru ke rumah sakit.''


''Baiklah.''


''Tapi kerjaku bagaimana ya?'' Febri terlihat sangat bingung. Kalau dia tidak bisa melihat lalu bagaimana dia akan bekerja. Dia juga tak bisa duduk terus tanpa melakukan apapun. Bahkan bagaimana mungkin dia akan terus duduk tanpa melihat apapun.


''Apakah aku akan buta? apa aku akan kehilangan penglihatan ku untuk selamanya? tidak tidak! aku tidak mau itu. Aku tidak mau," batin Febri.


Meski terlihat sangat tegar tapi Febri begitu takut, membayangkan dunianya penuh dengan kegelapan saja itu sudah sangat menyeramkan bagaimana mungkin dia akan benar-benar mengalami itu. Dia tidak yakin akan bisa menjalani hidupnya dengan baik.


"Masalah pekerjaan nanti biar aku bilang sama Koh Atong kalau kamu lagi sakit, jadi kamu nggak usah berpikir dulu masalah pekerjaan. Yang penting sekarang istirahatlah, semoga dengan itu kamu akan bisa sembuh." ucapan Salman.


"Baiklah," jawab Febri pasrah.


__ADS_1



Pekerjaan juga pesanan yang sangat banyak membuat Salman tidak bisa mengantarkan Febri ke rumah sakit. Sementara Febri juga tidak mempermasalahkan itu karena dia tau sendiri kalau mereka semua kerja seperti di kejar target beberapa hari ini.



Setelah sore Salman kembali ke kamar dan Febri masih rebahan tanpa melakukan apapun.



"Bagaimana, Feb! masih belum bisa melihat juga?" tanyanya seraya duduk di sebelah Febri.



"Belum sih, tapi tidak segelap tadi pagi. Tapi sedikit-sedikit sudah mulai bisa melihat kok, mungkin aku hanya kelelahan saja," jawab Febri.



Salman sedikit lega, setidaknya keadaan Febri mulai membaik meskipun penglihatannya belum bisa kembali seutuhnya.



"Aku mau pergi sebentar. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal? kalau butuh sesuatu bisa minta pada Ilyas atau Doni, atau siapapun mereka pasti mau membantu."



"Sudah, kamu nggak usah khawatir. Pergilah," ucap Febri.



"Hem... aku pergi dulu," Salman benar-benar beranjak, menyentuh bahu Febri sebentar sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Febri.




\_\_\_\_//\_\_\_\_



Bukan kemana-mana Salman pergi, dia mendatangi seorang kyai. Mungkin dia bisa mendapatkan jawaban atas semua yang terjadi semalam juga yang terjadi pada Febri temannya. Mungkin pak Kyai juga bisa membantunya.



"Assalamu'alaikum..." uluk salam Salman ucapkan ketika dia sudah sampai di depan pintu rumah pak Kyai.



"Wa'alaikumsalam..." suara yang di dengar oleh Salman mulai mendekat, bahkan langkahnya juga semakin menghampirinya.



Benar saja, tak lama Salman berdiri pak Kyai membuka pintu.



"Nak Salman ya? yang bekerja di tempat koh Atong?" pak Kyai terlihat sumringah saat memastikan siapa Salman. Dia semakin senang senyumnya semakin lebar setelah Salman menjawabnya dengan anggukan.



"Iya, pak Kyai. Saya Salman," jawab Salman.

__ADS_1



"Sini masuk," ajak pak Kyai, dia juga langsung mempersilahkan Salman untuk duduk di kursi kayu, "silahkan duduk, Nak Salman," pak Kyai juga ikut bergabung duduk di kursi yang lain.



Beberapa saat hening, Salman baru menata hati untuk bertanya. Belum juga Salman mengatakan sesuatu pak Kyai sudah bertanya lebih dulu.



"Ada apa, Nak?" ucapan pak Kyai begitu lembut tapi mampu menggerakkan wajah Salman untuk beralih kearahnya.



"Coba cerita sama saya, mungkin saya bisa bantu," ucapnya lagi. Mungkin wajah Salman yang terlihat sangat khawatir terlihat jelas di matanya jadi pak Kyai tak sabar untuk mendengar ceritanya.



"Begini pak Kyai........."



Dari awal sampai akhir semua Salman ceritakan begitu juga dengan apa yang terjadi pada Febri juga tidak dia lupakan.



Pak Kyai hanya terlihat manggut-manggut mengerti, tapi entah dia benar-benar mengerti atau tidak.



"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Pak Kyai. Kenapa makhluk itu memutari rumah koh Fei, orang tua angkat saya," ucap Salman.



"Kamu tidak bisa melakukan apapun, Nak. Yang bisa kamu lakukan adalah mendoakannya. Semoga mereka semua baik-baik saja," jawab Pak Kyai.



Jelas pak Kyai mengetahui sesuatu, tapi dia tidak mau memberitahukan kepada Salman. Tapi apa? apakah semua yang dia pikirkan itu benar?



"Kelak kamu akan mengetahuinya, Nak," imbuh Pak Kyai dengan sangat yakin.



Salman masih terdiam, dan saat itu pak Kyai beranjak dia masuk entah mau apa yang dia lakukan. Tak lama Pak Kyai kembali keluar, membawa botol berisi air putih.



"Minta teman kamu membasuh wajahnya dengan air ini. Minta sama Allah, semoga bisa membantu mengembalikan penglihatannya," ucap pak Kyai sembari duduk.



"Terimakasih, Pak Kyai. Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum..." pamit Salman. Sebenarnya Salman datang hanya untuk menceritakan semua, tidak berniat memintakan obat untuk Febri, tapi Alhamdulillah lah kalau begitu. Sembari menyelam minum air.



"Wa'alaikumsalam...," jawab Pak Kyai.


__ADS_1


~~ππ~


Bersambung...


__ADS_2