
Salman begitu buru-buru untuk bisa sampai rumah. Dia ingin sekali cepat memberikan air putih itu kepada Febri. Dia juga terus berdoa juga berharap lantaran air itu Febri bisa kembali melihat lagi.
Jarak yang tak begitu jauh membuat Salman begitu cepat sampai di rumah. Dia cepat berlari masuk ke kamar dan memberikannya kepada Febri.
Tak seperti tadi yang sedang rebahan kali ini Febri sedang duduk berselonjoran tapi tetap saja dia tak melakukan apapun.
"Feb," Salman begitu bergegas, dia juga langsung duduk di sebelah Febri berada.
"Sal, kamu sudah pulang? kok cepet banget," jawab Febri. Terlihat Febri menoleh tapi terlihat tatapan masih kosong itu berarti dia belum bisa melihat.
"Iya, aku sudah pulang. Sebenarnya aku dari tempat pak Kyai, dan pak Kyai memberikan air ini untukmu. Pakailah untuk membasuh wajahmu semoga bisa mengembalikan penglihatan mu lagi. Tapi ingat, kamu tidak boleh percaya kalau air itu yang akan menyembuhkan mu, tapi Allah yang akan menyembuhkannya. Jangan salah arti, nanti jatuhnya syirik lagi," ucap Salman menjelaskan.
"Siap," Febri terlihat sangat bahagia, dia juga langsung beranjak dengan hati-hati.
Tak mau terjadi apa-apa kepada Febri Salman langsung membantunya, menuntunnya sampai ke kamar mandi.
Tak lama Febri langsung membasuh wajahnya dengan air yang Salman berikan yang dari pak Kyai. Keduanya terlihat harap-harap cemas, semoga dengan pertolongan Allah melalui air itu bisa mengembalikan penglihatan Febri.
"Bagaimana, Feb?" tanya Salman yang sudah sangat tidak sabar.
"Bentar, belum juga habis airnya."
Salman terus melihat Febri, melihat pergerakan tangan juga semuanya. Dalam hati terus berdoa untuk kesembuhan mata milik Febri.
Setelah habis Febri menoleh ke arah Salman, terlihat dia tersenyum dengan begitu senang.
"Sal, aku bisa melihatmu! aku bisa melihat lagi!" Febri begitu bahagia.
Salman juga sangat bahagia, dia mendekati Febri dan memastikan itu adalah benar.
__ADS_1
"Ini berapa?" tanya Salman, mengangkat kedua jarinya tinggi.
"Dua."
"Ini berapa?" tanyanya lagi.
"Lima," jawab Febri.
"Salah, ini empat!"
"Iya, sekarang empat, tapi tadi lima!" seru Febri. Jelas-jelas tadi dia melihat Salman mengangkat kelima jarinya tapi dengan gerakan cepat Salman menyembunyikan ibu jarinya, jelas tinggal empat kan.
"Benarkah?" Salman melihat sendiri jarinya, menghitung juga, "satu, dua, tiga, empat.... lima. Loh lima kan?"
"Lima-lima gundul mu! jelas-jelas awalnya lima lalu kamu ganti menjadi empat dan sekarang lima lagi, dasar sableng!" sungut Febri dongkol.
Febri melangkah keluar dari kamar mandi tapi saat tepat di hadapan Sakit dia berhenti, menyerahkan botol kepada Salman.
"Nih, aku nggak butuh botolnya!" ucapnya lagi. Lalu melenggang pergi di saat Salman masih terus terkekeh.
~√√
Sebelum hari berganti menjadi malam, Salman kembali pergi, tapi kali ini dia akan pergi ke rumah koh Fei. Memastikan kalau semuanya baik-baik saja.
Seperti biasa kedatangannya akan selalu di sambut dengan sangat bahagia. Selayaknya orang tua yang kedatangan anaknya yang sudah lama tak pulang, pasti sangat bahagia kan?
Salman juga ingin bertanya, apakah ada sesuatu yang terjadi tidak semalam. Tapi Salman urungkan karena saat ini bu Yun tengah merasa tidak enak badan.
"Ibu kenapa, sakit? apa sudah di bawa ke dokter?" tanya Salman.
__ADS_1
Salman sangat khawatir dengan keadaan bu Yun, meski hanya terlihat sakit biasa tapi Salman yang selalu mendapatkan kasih sayangnya merasa punya tanggung jawab juga untuk menjaganya. Dan memastikan bu Yun baik-baik saja.
"Ini hanya sakit biasa. Nggak usah di bawah ke dokter, istirahat sebentar juga akan kembali sehat lagi. Ibu hanya kelelahan saja," jawab bu Yun.
Entah benar atau tidak tapi bu Yun terlihat sangat pucat. Meski masih bisa berjalan sih.
Niat yang Salman bawa kini hanya bisa dia pendam. Tidak pas waktunya kalau dia menanyakan kejadian semalam kepada bu Yun atau anggota keluarga. Terasa tak punya empati pada orang aja kan.
"Kalau begitu Ibu istirahatlah. Jangan lupa makan yang banyak juga minum obatnya," ucap Salman mengingatkan. Mungkin hanya itu yang bisa dia katakan karena di bawa ke dokter pun pasti juga suruh makan banyak, istirahat cukup juga minum obat dengan teratur sesuai anjuran dokter.
"Iya, Nak." suara bu Yun juga terdengar sangat lemah.
Semua kumpul di ruang tengah, bukan hanya koh Fei juga bu Yun saja tapi anak-anak juga ada. Hanya satu yang tidak ada di tempat. Anak perempuan mereka yang kini tengah menimba ilmu di salah satu pesantren.
Karena itu juga yang membuat Salman tak mau berpikir yang tidak-tidak, bagaimana mungkin diantara mereka ada yang melakukan hal terlarang sementara ada salah satu anaknya berada di pesantren. Tidak mungkin kan?
Lama berkumpul di rumah koh Fei Salman pamit. Dia juga tak mau berlama-lama di sana karena waktu juga hampir petang juga.
"Salman pamit dulu, Koh, Ibu. Ini sudah hampir petang," ucapnya.
"Kok buru-buru, padahal baru di sini sebentar," bu Yun yang berbicara. Dia selalu saja ingin bersama Salman. Meski hanya mengobrol saja tapi bisa membuatnya senang.
"Besok saya datang lagi, Bu. Semoga Ibu cepat sembuh, Assalamu'alaikum..." Salman benar-benar pamit pulang.
"Wa'alaikumsalam.." mereka semua hanya bisa pasrah. Mereka juga tidak bisa menghalangi Salman untuk pergi.
####---####
Bersambung....
__ADS_1