
Happy Reading....
Rumah sederhana namun terlihat indah di pandang dan sangat menyejukkan dengan berbagai bunga du depannya.
Lampu neon kecil sudah menyala di dua sudut rumah dan memberikan penerangan hingga membuat semua penjuru terlihat meski tak begitu jelas tapi tetap sudah bisa di lihat.
Salman juga Febri sudah sampai di rumah itu, rumah kekasih Febri yang sudah hampir satu tahun mereka berdua menjalin sebuah hubungan.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Kamu sudah bilang dengan kekasihmu, Feb?" tanya Salman yang sudah lebih dulu turun dari motor.
"Sudah tadi sebelum berangkat ke sini. Tuh dua sudah menunggu," dan ternyata kekasih Febri sudah duduk di bangku dari kayu di depan rumah, tentu dia tidak sendiri ada bapaknya yang menemani.
Kedatangan mereka berdua sudah sangat di tunggu oleh bapak dan juga kekasihnya Febri.
Salman tentu saja melangkah di belakang Febri karena memang itu seharusnya. Tidak ada maksud kurang ajar atau melanggar peraturan bertamu tapi malam itu juga masih bisa pantas untuk bertamu. Tentu, juga ada izin dari sang pemilik rumah.
Begitu senang Febri juga sang kekasih, jelas mereka akan sangat bahagia karena pertemuan mereka. Hingga sambutan terlihat sangat rak biasa.
__ADS_1
Hidangan sudah di persiapan sebelumnya setelah Salman juga Febri selesai menyapa mereka dia ajak duduk di sana.
Febri dengan kekasihnya sementara Salman? untung ada bapaknya sang kekasih Febri kalau tidak bisa saja Salman hanya menjadi nyamuk di sana, menunggu dua sejoli yang sedang kasmaran.
"Nak, kenapa jamu malah menemani Febri datang ke sini, kenapa kaku tidak ke tempat kekasih mu sendiri?" tanya pria paruh baya itu.
"Hem," Salman hanya tersenyum bagaimana mungkin dia akan pergi ke tempat kekasihnya kalau dia sendiri tidak punya.
Pria paruh baya itu tidak tau apa sebenarnya yang menjadi tujuan kedua pemuda itu datang di rumahnya. Yang tujuan sebenarnya adalah untuk mengulur waktu saja.
Dan lagi Salman hanya tersenyum karena pertanyaan itu. Apakah pria itu bisa membaca apapun di dalam pikirannya sampai-sampai dia tau apa yang dia pikir?
"Semua adalah pilihan, menjalin hubungan dengan seorang kekasih adalah pilihan, atau langsung menjalin hubungan dalam halal dan berpacaran setelahnya juga pilihan, semua orang berhak memilih. Semua juga berhak di hargai dari setiap keputusannya," ucapnya.
Tak mengerti apa yang menjadi inti dari perkataan itu tapi yang jelas ada titik yang sangat indah dan patut di terima dari perkataan itu.
Pria itu bisa mengatakan itu pada Salman kenapa tidak dia katakan pada putrinya. Mungkin itulah pilihan anaknya yang juga dia hargai, selama semuanya yang di lakukan hanya sewajarnya dan tidak berlebihan masih bisa di terima.
__ADS_1
"Menurut kamu, bagaimana Febri itu apakah dia orang yang baik?" tanyanya .
"Iya, dia sangat baik, Pak. Dia bisa menjadi teman, saudara juga saya yakin bisa menjadi kekasih yang baik untuk putri bapak. Hanya saja dia senang bergurau jadi misal candaannya suka berlebihan tolong maafkan dia," jawab Salman.
"Saya tau itu, dia adalah orang yang humoris tapi semua itu dia lakukan untuk menghibur semua orang, untuk membuat orang di dekatnya selalu bahagia, benar begitu kan?" ucap pria itu lagi.
"Iya, bapak benar," sekilas Salman melihat Febri yang duduk tak jauh darinya dan terlihat sedang asyik berbicara dengan kekasihnya.
Sesekali dia tersenyum juga kadang menggoda kekasihnya.
"Maafkan dia, mungkin kadang tangannya sering jail, tapi sua tau akan batasan kok," ucap Salman.
"Iya, Nak. Saya menyukai Febri semoga saja kelak mereka berjodoh," begitu penuh harap tapi biarkan Allah yang menentukan segalanya.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1