Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Asyemmm!!


__ADS_3

...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Rasa penasaran Salman masih saja besar, dia juga belum percaya sepenuhnya dengan apa yang kemarin dia lihat.


Malam berikutnya Salman masih saja ingin pergi ke kampung sebelah, memastikan apa yang dia lihat kemarin adalah salah dan apa yang dia pikirkan tidak benar.


"Aku harus ke sana lagi," gumamnya.


Arya sudah bersiap untuk beranjak, niatnya hanya ingin sendiri saja karena dia tak mau sampai sesuatu terjadi pada orang lain sama seperti yang terjadi kepada Febri kemarin.


Tapi entah berjodoh kali ya, Febri lagi-lagi nongol dan tau kalau Salman sudah rapi dan akan berangkat.


"Sal, kamu mau kemana?" tanya Febri seraya menghentikan langkah yang hendak menuju kamarnya untuk istirahat. Waktu juga sudah larut jadi Febri sudah bergegas tadi.


"Hem.., mau ke kampung sebelah," jawab Salman dengan ragu. Salman tak mau sampai Febri ikut dan akan terjadi sesuatu lagi seperti kemarin.


"Lagi?" Febri mengernyit. Kenapa lagi-lagi Salman mau ke sana, apakah kemarin dia belum puas belum bisa percaya.


Salman mengangguk pelan, dia juga menggaruk tengkuknya yang sebenarnya juga tidak gatal.


"Ok, aku ikut!" seru Febri sangat yakin. Tekatnya bulat ingin melihat lagi apa yang ingin Salman lihat juga, yaitu pocong bermata merah yang hampir membuatnya kehilangan penglihatan.


"Tapi, Feb?" Sebenarnya Salman sangat enggan jika Febri ikut dengannya, tapi sepertinya Febri tidak akan terima penolakan seperti biasa.


"Sudah, pokoknya aku ikut. Kamu tunggu sebentar aku mau ambil sarung dulu," Febri bergegas untuk pergi ke kamar mengambil apa yang menjadi tujuannya.


"Hadeuh, semoga saja tidak terjadi apa-apa seperti kemarin," gumam Salman yang akhirnya hanya bisa berdoa supaya tidak terjadi apa-apa padanya juga Febri.


...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Seperti kemarin, Salman juga Febri kembali menunggu di tempat yang sama seperti kemarin. Duduk menunggu di tengah-tengah kegelapan malam di bawah malam yang sama seperti kemarin dan mulai mengeluarkan awan hitam yang menutupi desa.


"Ingat ya, Feb! Kalau pocong itu muncul lagi kamu tidak boleh melihat matanya. Kamu harus menghindar dari sinar merah itu yang sudah seperti laser namun sangat menakutkan."


Salman lebih dulu memperingatkan, dia tidak mau sampai kecolongan lagi seperti kemarin. Mereka harus bisa menjaga diri supaya tidak terjadi apa-apa.


"Iya-iya! bawel amat sih loh. Udah kayak emak-emak saja yang lagi ceramahin anaknya," gerutu Febri setengah tak terima.

__ADS_1


Salman hanya bisa menggeleng sekarang, dia selalu mengalah Kalau berdebat dengan Febri yang lebih banyak bicaranya. Lebih pantas kalau jadi emak-emak komplek yang lagi ghibah tuh si Febri.


Malam semakin larut, dinginnya malam juga semakin terasa. Bukan itu saja, tapi keanehan yang menjadi tanda-tanda kembali terjadi lagi.


Suara dua burung malam begitu bersaingan untuk menjadi penguasa malam. Gagak juga burung hantu saling berebut suara mereka yang terdengar semakin menakutkan.


Perasaan tak enak langsung muncul pada Febri, tengkuknya sudah panas juga terasa tebal. Bulu kuduk sudah berjajar rapi sesuai barisannya masing-masing.


Dengan mata yang terus celingukan Febri menaikan sarungnya untuk menutupi seluruh tubuh juga kepalanya. Menyisakan sedikit matanya yang terbuka untuk bisa melihat dengan jelas makhluk itu muncul.


"Kedinginan, Feb?" tanya Salman yang selalu saja lebih tenang daripada Febri.


Entah perasaan seperti apa yang sebenarnya. Ada rasa dingin, panas, gemetar tapi bukan karena dingin juga entahlah apalagi yang penting Febri sangat merasakan aneh.


Tanda-tanda semakin kuat dengan suara burung malam yang terus bersaut-sautan di atas pohon. Semilir angin juga awan tebal juga menguatkannya.


Lampu-lampu juga terus berkedip tak henti, membuat Salman juga Febri yakin kalau makhluk itu akan segera muncul. Mata keduanya menuju ke arah dimana pocong kemarin keluar pertama kalinya.


Terus melihat dengan mata yang membulat dan tak berkedip tapi tetap waspada. Mereka tak mau sampai sinar merah akan mengenai mata mereka dan akan menghilangkan penglihatan mereka.


"Tunggu saja sebentar lagi. Aku yakin dia akan keluar," Salman melirik sebentar ke arah Febri lalu kembali lagi setelah memastikan wajah sahabatnya.


"Kalau tidak keluar?" Febri kembali berucap.


"Kalau tidak keluar berarti bukan rejeki. Kita bisa kembali lagi besok malam."


"Halah mau mu! enak juga tidur daripada jadi mata-mata makhluk tak kasat mata yang sekarang sudah mulai eksis dan memperlihatkan wujudnya."


"Sttsss... Lihatlah, dia datang," bisik Salman. Tangannya menunjuk ke arah pocong yang benar-benar telah keluar lagi dari tempat yang sama.


Lagi-lagi Pocong yang sama yang Salman lihat, pocong yang terlihat seperti laki-laki dengan tubuh yang tinggi tapi tidak gemuk. Pocong bermata merah menyala dan menyorot seperti laser.


Lompatannya sama persis seperti kemarin, mengambang dan tidak menyentuh tanah sama sekali.


"Sal, pocongnya suka kebersihan ya, lompatnya tidak menyentuh tanah. Takut ada tai ayam kali ya," celetuk Febri sembari terkekeh.


"Bingung kali ya kalau kena tai ayam bagaimana nyucinya? tangannya bersedekap terus," imbuhnya yang masih setia terkekeh geli.

__ADS_1


Ada-ada nih si Febri. Masak iya pocong takut sama tai ayam, tapi benar juga sih apa yang dia katakan. Kalau kena bagaimana nyucinya coba.


"Kalau kena ya kamu yang nyuciin, ada-ada saja kau ini," Salman geleng-geleng kepala, melihat betapa tidak waras sahabatnya itu.


"Enak saja. Ya kamu lah, kan kamu yang naksir sama tuh pocong! nyatanya penasaran banget kau ini. Kenapa nggak sekalian di ajak kenalan laku dinner di tempat romantis," seloroh Febri semakin melenceng jauh.


"Dinner di kuburan!" Salman mulai jengkel kek nya.


"Di kuburan pun jadi kalau cinta sudah bersemi, ahayyy!" begitu senang Febri meledek Salman, benar-benar keterlaluan.


Salman kembali melirik ke arah pocong itu dan ternyata sudah berbelok ke jalan yang sama seperti semalam.


Salman kembali menoleh ke arah Febri, niatnya ingin mengajaknya untuk mengejar pocong itu.


"Po-pocong...!" Salman cepat beranjak, dia lari terbirit-birit dengan tangan menunjuk ke belakang Febri.


"Po-pocong!!" Febri yang terkejut langsung ikut berlari, tapi nasibnya tak sebagus Salman yang begitu lancar. Febri tersandung di saat langkah pertama dan dia terjatuh.


"Sal-Salman! tunggu!" tangan Febri melambai-lambai memanggil Salman tapi temannya itu tetap berlari ke arah pocong tadi pergi.


Febri begitu ketakutan, dia menggigil tak karuan dan rasanya juga sangat susah untuk berdiri.


Ada sesuatu yang menimpa kakinya, membuatnya sangat susah untuk bergerak. Febri benar-benar ingin menangis namun tak berani menoleh kebelakang. Takut adat pocong lain yang tengah berdiri dan menimpa kakinya.


"E-emak..., F-Fe-bri ma-sih ingin hi-dup. Emakkk!!" Febri berusaha menggerakkan kakinya memberanikan diri untuk menoleh.


Betapa syoknya Febri setelah melihat apa yang dia lihat. Dia seketika ingin marah, ingin ketawa, tapi juga ingin cepat berlari untuk meninju temannya.


Karena apa yang dia takutkan ternyata hanya khayalan belaka, yang ada di kakinya hanya sebuah tong sampah yang ikutan jatuh karena pergerakan Febri.


"Asyemmm....!!"


Dan lagi-lagi Febri di kerjain oleh Salman.


...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2