Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

...◦•●◉✿-✿◉●•◦◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Salman termangu sejenak saat mendengar penjelasan dari Koh Fei yang mengatakan kalau bu Yun juga ada bisul yang tumbuh dengan cepat. Salman yakin itu bukan sembarang bisul karena datangnya baru dari semalam tapi sudah sangat matang dan hampir pecah.


Siapapun pasti akan menyimpulkan hal yang sama seperti yang Salman pikir sekarang. bahwa penyakit Bu Yun bukan penyakit sembarangan.


"Pak.. Sakit, Pak," Bu Yun begitu merintih kesakitan. Terlihat wajahnya berkali-kali mengkerut karena menahan sakit.


Salman merasa tak percaya begitu saja, bagaimana mungkin hanya bisul saja bisa membuat bu Yun begitu kesakitan seperti sekarang. Apalagi bisul itu besarnya juga tidak seperti biasanya juga tumbuhnya juga sangat cepat.


Baru saja Salman hendak mengatakan sesuatu, hidungnya mencium aroma sesuatu. Aroma busuk yang sangat menyengat dan ternyata bisul yang sangat aneh tadi benar-benar telah pecah. Bahkan sekarang juga mengeluarkan bau yang sangat tidak enak.


Aroma yang sangat menyerbak, memenuhi ruang yang sebenarnya sangat luas. Sungguh tidak enak bahkan bukan hanya Salman yang rasanya ingin muntah tapi semua.


Bu Yun semakin kesakitan saat itu, membuat keluarga benar-benar tidak bisa berpikir apapun.


Melihat kearah Bu Yun yang sangat memprihatinkan juga kesakitan membuat Salman merasa sangat tidak tega dan langsung menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit.


Kalau di rumah semua tidak bisa melakukan apapun untuk membantu bu Yun, tapi kalau di rumah sakit banyak orang-orang medis yang akan membantunya. Mungkin dengan itu bu Yun akan cepat sembuh. Pikir Salman.


"Pak, apa tidak sebaiknya ibu di bawa ke rumah sakit saja?" saran Salman ucapkan. Dia sangat miris melihat bu Yun yang terus merintih pada semua pihak keluarga tapi semua tak bisa melakukan apapun.


"Sebenarnya saya sudah mengatakan itu, Sal. Tapi Ibumu selalu menolaknya. Dia pikir ini hanya penyakit biasa saja, tak taunya sampai seperti ini," jawab koh Fei.


"Ibu, lebih baik ibu di rawat di rumah sakit, biar ibu bisa mendapatkan penanganan yang tepat dan secepatnya bisa sembuh," ucap Salman membujuk.


Berbicara dengan pelan dan juga dengan lembut, berharap bu Yun akan mengerti dan mau menerima saran dari Salman.


Awalnya bu Yun menggeleng, dia masih saja tak menerima saran Salman. Bu Yun tetap kekeuh ingin tetap berada di rumah.

__ADS_1


"Ayolah, Bu. Semua ini untuk kebaikan Ibu," Salman juga masih tetap kekeuh membujuk bu Yun. Secepatnya bu Yun harus di bawah ke rumah sakit kalau tidak siapa yang akan merawatnya dengan baik karena keluarga juga tidak tau bagaimana cara merawat dengan benar.


"Tapi, Sal?" Bu Yun masih sangat enggan.


"Demi kesembuhan ibu," ucap Salman lagi.


Dengan terus di bujuk oleh Salman akhirnya bu Yun bersedia ke rumah sakit. Keluarga lebih tenang kalau di rumah sakit karena bisa tau sebenarnya sakit apa dan pihak medis pasti akan mudah untuk menanganinya.


...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Sampailah semua keluarga di rumah sakit, begitu juga dengan Salman yang ikut mengantarkan juga. Bu Yun juga langsung di tangani dengan sangat baik meski terlihat para pihak medis juga merasa sangat heran dengan apa yang di alami oleh bu Yun.


Penyakit sebenarnya bukan penyakit yang berbahaya karena hanya bisul saja, tapi melihat ukuran dan juga cepat tumbuhnya membuat mereka sempat tercengang.


Meski seperti itu bu Yun juga terus di rawat dengan sangat baik. Keluarga sedikit tenang karena bu Yun mendapatkan penanganan yang tepat.


"Terimakasih, Sal. Karena kamu yang telah membujuknya ibumu mau di bawa ke rumah sakit. Semoga saja dia bisa secepatnya sembuh," ucap koh Fei yang terlihat sangat berterima kasih dengan Salman.


Begitu baik dan mulia hati Salman. Meski dia hanya anak angkat tapi dia merasa ikut bertanggung jawab atas kesehatan bu Yun ataupun koh Fei. Sebisa mungkin Salman juga akan melakukan hal yang terbaik untuk kesembuhannya.


"Pak, sudah hampir maghrib Salman pulang dulu. Secepatnya Salman akan datang lagi," Pamit Salman.


"He'em, sekali lagi saya berterimakasih padamu."


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..."


Koh Fei masih terus menatap kepergian Salman, menatap punggungnya hingga benar-benar hilang dari jangkauan matanya.

__ADS_1


Koh Fei merasa sangat beruntung bisa mengenal Salman juga bisa menganggapnya seperti anaknya sendiri, meski dia tau suatu saat pasti Salman akan pergi meninggalkan dia maupun keluarganya karena Salman juga masih mempunyai keluarga kandung yang masih utuh.


Perjalanan Salman untuk pulang terasa sangat berat. Kakinya terasa sangat susah untuk di ajak melangkah. Bukan itu saja, tapi tubuh Salman juga merasa sangat aneh seperti ada sesuatu yang mengikutinya dan mencegahnya untuk kembali.


Tubuh Salman terasa sangat panas, juga terasa ada sesuatu yang berada di punggungnya membuat punggung Salman terasa sangat pegal dan sangat berat. Padahal Salman juga tidak membawa apapun.


Apakah mungkin ada makhluk tak kasat mata yang berada di punggungnya. Berusaha menghalangi apa yang ingin Salman lakukan.


Mungkin niat Salman lah yang memantik kemarahan dari makhluk itu, karena Salman berniat untuk pergi ke rumah pak kyai untuk bertanya juga mungkin bisa meminta tolong untuk membantu bu Yun untuk mempercepat kesembuhannya.


Berkali-kali Salman beristighfar, melantunkan ayat-ayat Allah untuk membuatnya lebih ringan tapi tetap saja itu belum berhasil. Punggungnya semakin berat dan bertambah berat. Bebannya terasa semakin besar.


Salman istirahat sejenak, duduk di tepi jalan. Keringat begitu luar biasa keluar dari pori-pori, udara yang sebenarnya dingin karena menjelang maghrib tapi rasanya sangat panas seolah di tengah hari dengan matahari tepat di atas kepalanya.


"Astaghfirullah hal 'azim..., ada apa ini?" Salman merasa bingung sendiri dengan apa yang dia alami sekarang. Ini sungguh aneh karena tidak seperti biasanya.


Salman juga belum pernah mengalami hal yang seperti sekarang. Tubuhnya panas juga sangat berat, kakinya susah melangkah seakan mendapatkan beban yang sangat luar biasa beratnya.


Tapi tekat Salman sudah bulat, dia akan tetap pergi ke rumah pak Kyai untuk menanyakan semua yang terjadi. Salman tidak mau hanya mengada-ada saja tanpa kejelasan yang pasti. Jatuhnya akan menjadi fitnah.


"Bismillahirrahmanirrahim, aku harus bisa, aku harus cepat sampai ke tempat pak Kyai. Semoga beliau mau menjelaskan semua yang terjadi," harap Salman.


Perlahan-lahan Salman kembali berdiri. Meski sangat susah tapi dia tetap berusaha. Mulutnya juga terus menyerukan kalimat-kalimat Allah untuk meminta pertolongan juga perlindungan-Nya. Salman juga terus mengucapkan ta'awudz dan seiring detik Salman semakin ringan.


Tak lama di perjalanan akhirnya Salman sampai di depan rumah pak Kyai. Tapi ternyata rumah terlihat sepi mungkin pak Kyai masih berada di masjid karena sudah masuk waktu maghrib.


Salman pun juga bergegas untuk pergi juga ke masjid untuk menjalankan sholat lebih dulu sembari menunggu pak Kyai pulang.


◦•●◉✿-✿◉●•◦

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2