
Happy Reading...
Ketakutan terus saja menguasai diri Salman juga Febri. Bahkan sampai di rumah keduanya juga masih memiliki perasaan yang sama. Ke_ta_ku_tan.
Setelah sampai rumah keduanya juga langsung lari terbirit-birit masuk ke rumah tanpa memarkirkan motornya dengan benar hingga motor itu ambruk dan tergeletak begitu saja.
Brak...
Bunyi pintu yang tertutup begitu keras dari karena dorongan tangan yang sangat kuat. Pelakunya adalah Salman juga Febri.
Teman-temannya yang tidak ikut dengan mereka langsung terperanjat dari tidur nyenyak mereka. Jelas mereka sangat terkejut karena ulah dari kedua sahabatnya itu.
"Apa-apaan sih kalian," ucap Ilyas yang merasa terganggu dengan perbuatan Salman juga Febri. Tetapi, hal itu tetap tidak membuat mereka semua langsung bangun, mereka hanya terperanjat dan membuka mata sebentar lalu mereka tidur lagi.
Salman juga Febri sudah keburu lompat naik ke atas ranjang mereka saling berhimpit-himpitan hingga membuat kasur lantai itu terus bergerak mengikuti pergerakan mereka berdua.
Bukan hanya sarung saja yang sudah menutupi tubuh mereka yang meringkuk saling memunggungi tetapi juga ada selimut tebal yang sudah menutup semua tubuh dua manusia yang tengah di landa rasa ketakutan yang begitu besar itu.
__ADS_1
Keduanya berusaha untuk memejamkan mata, mencoba untuk tidur menjemput mimpi dan melupakan apa yang terjadi malam ini pada mereka berdua.
Keduanya terus bergerak sampai-sampai membuat teman-temannya kembali merasa terganggu dan kini Doni yang membuka mata dan memberikan protes.
"Kalian kenapa sih, bisa diam nggak! udah pulang larut malam ganggu orang tidur lagi. Udah dong, diam dan tidurlah," kesal Doni.
Meski Doni sudah mengatakan itu tapi tetap saja keduanya tak bisa diam, mereka masih terus bergerak seolah mencari tempat paling aman. Mereka sudah ada di rumah bahkan di tempat tidur mereka tetapi mereka masih merasa seolah makhluk yang menyeramkan tadi masih ada dan terus mengikutinya.
"Hey! kalian bisa diam nggak sih! ini sudah malam dan kita semua ngantuk, besok harus bekerja lagi." dengan sangat terpaksa Doni sampai bangun dan membentak keduanya.
Febri ataupun Salman hanya membuka sedikit selimut juga sarungnya tepat di bagian kepalanya, kepalanya menyembul dan mereka hanya meringis tapi dengan wajah yang sangat berbeda. Bukan meringis karena senang tapi karena rasa takut.
"Awas ya kalau masih usil. Aku pitak kalian berdua," ancam Doni dan kembali lagi merebahkan tubuhnya dan kembali menyelimutinya hingga benar-benar rapat.
Memang, malam ini tak seperti malam-malam biasanya terasa lebih dingin tapi tidak untuk Salman juga Febri yang masih saja terus gemetar dan berkeringat.
Keduanya memang tak lagi bergerak secara kasar seperti tadi hanya gerakan-gerakan kecil yang tidak akan mengganggu siapapun.
__ADS_1
Sesekali wajah mereka kembali menyembul melihat sekeliling siapa tau akan ada makhluk itu di dalam kamar mereka berdua.
"Tidak ada kan, Sal?" tanya Febri yang tak berani melihat sekeliling hanya bagian matanya saja yang mengintip sedikit.
"Tidak ada kok, Feb. Alhamdulillah," jawab Salman.
Mereka berdua berusaha untuk bisa memejamkan mata, tidur dengan lelap sama seperti teman-teman mereka tapi semakin berusaha mereka berdua sama sekali tidak mengantuk dan kehilangan rada kantuk itu.
"Alhamdulillah," ucap Febri yang juga merasa sangat lega.
Karena tak ada rasa kantuk yang datang mereka berdua malah mengobrol, tentunya mengobrol hal lain yang akan bisa menghilangkan rasa takut mereka.
Dalam obrolan mereka tetap tak menghilangkan selimut mereka bahkan mereka tak mengubah posisi mereka. Hingga detik demi detik rasa kantuk perlahan datang dan mereka berdua bisa tertidur.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1