Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Di Jenguk Tetangga


__ADS_3

...◦•●◉✿_✿◉●•◦...


Semakin kesini keadaan Bu Yun semakin parah, dia semakin tersiksa karena penyakitnya yang terasa semakin menggerogoti tubuhnya.


Apalagi setelah kemarin dia di lempar oleh kekuatan gaib yang sangat besar dan membuat dirinya tak bisa melakukan apa-apa bahkan dia sangat tidak bisa untuk melawan.


Di dalam ruangannya di atas tempat tidur bu Yun hanya terus merintih sakit, meskipun hari ini dia kedatangan para tetangganya yang menjenguknya.


Cukup banyak yang datang menjenguk bu Yun saat itu mereka juga mendoakan untuk kesembuhannya tapi Bu Yun sendiri tidak bisa mengaminkan dengan lisan karena dia terus menahan rasa sakit dan dia terus merintih. Tapi hanya bisa dengan hatinya.


"Semoga cepat sembuh ya, Bu," ucap salah satu mewakili, mengelus sebentar punggung tangan bu Yun yang ada di atas tubuhnya.


Bu Yun hanya bisa mengangguk sebagai jawaban karena dia tak dapat berbicara meski hanya sekedar untuk menjawab saja. Para tetangga sangat kasihan dengan keadaan yang menimpa Bu Yun tapi mereka juga tak bisa melakukan apapun kecuali mendoakan nya saja.


"Yang sabar ya, Bu," ucap yang lain lagi.


"Hem," Bu Yun hanya kembali mengangguk dan mengamati siapa yang berbicara. Dia hanya bisa tersenyum kecil di sela-sela sakit yang sangat luar biasa.


Bukan hanya bau obat saja yang para tetangga itu alami saat berada di dalam ruangan Bu Yun. Tapi mereka juga menghirup bau yang sangat tidak enak. Bahkan seperti sesuatu yang sudah busuk.


Sebagian orang menunggu di luar karena tak tahan akan baunya, tapi ada juga yang tetap tatak dan terus beras di dalam.


"Kami pamit dulu ya, Bu. Semoga ibu cepat sembuh dan bisa secepatnya pulang," ucap salah satu dari mereka lagi. Berniat pamit pulang karena mereka juga sudah kami berada di sana.


Bu Yun juga harus istirahat dan mereka tak bisa terus berada di sana. Apalagi orang banyak pasti suaranya begitu berisik. Bukan hanya menggangu Bu Yun saja tapi juga pasien yang lain.


"Hem.." Bu Yun hanya mengangguk kecil. Tersenyum penuh rasa syukur karena masih ada yang mau datang untuk menjenguknya dan juga mendoakan untuk kesembuhannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," salah satu mewakili.


Satu persatu mereka menyalami Bu Yun sebelum mereka semua pulang. Dan tentunya langsung di sambut baik oleh Bu Yun sendiri.


"Terima kasih ya Ibu-ibu, sudah berkenan menjenguk Ibu saya," ucap Deri yang sedari tadi juga ada di sana. Tapi Deri hanya berdiri di samping pintu dan mempersilahkan semua tetangganya untuk melihat Bu Yun dengan leluasa.


"Sama-sama, Der. Semoga Ibu mu cepat sembuh ya," jawab tetangga yang kebetulan hampir di depan Deri. Setelah berada di depan tetangganya itupun juga langsung menyalami Deri.


"Sekali lagi terimakasih ya, Bu," ucap Deri.


"Sama-sama, kami pamit, Assalamu'alaikum.." jawabnya dengan sangat lembut.


"Wa'alaikumsalam," Deri pun langsung menjawab salam yang terlontar.


"Assalamu'alaikum,


Nak Deri."


"Assalamu'alaikum


"Wa'alaikumsalam.." semua menyalami Deri, tak ada satupun yang terlewatkan.


Persatuan seperti inilah yang membuat Deri sangat bahagia. Ada yang sakit mereka langsung menjenguk, ada yang kesusahan mereka saling berpangku tangan untuk membantu, dan masih banyak lagi yang lain.


Itu kehidupan di desa. Mereka saling hormat-menghormati satu sama lain, kepedulian mereka juga sangat besar. Ya bukan berarti orang yang hidup dari kota juga akan mengabaikan tetangganya yang lain. Tapi cenderung kental jika di desa.


Setelah semuanya pergi Deri masuk, melihat kearah ibunya yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda semakin membaik. Tapi Bu Yun terlihat semakin parah, dan kini juga semakin parah membuat Deri semakin gelisah.

__ADS_1


Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu, sementara koh Fei baru pulang karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan. Mereka akan bergantian saat siang tapi kalau malam mereka akan menunggu bersama-sama.


"Apa ibu menginginkan sesuatu?" tanya Deri yang sudah duduk di sebelah Bu Yun.


Mungkin Bu Yun haus ingin minum atau apa jadi Deri menawarkan itu. Tapi Bu Yun malah menggeleng.


"Tidak, Ibu tidak mau apapun. Ibu hanya mau sembuh," ucapnya begitu tak kuasa. Suaranya terdengar di paksakan membuat Deri semakin


merasa iba.


"Sabar, Bu. Ini adalah ujian dari Allah, Deri yakin Allah akan secepatnya mengangkat penyakit ibu," jawab Deri membesarkan hati Ibunya.


Bu Yun mengangguk, membawa harapan besar untuk bisaa sembuh tapi kenapa dia begitu takut, dia sangat gelisah seolah-olah umurnya tak akan lama lagi.


Bu Yun hanya bisa membatin semua perasaannya, dia tak mau membuat anak-anak juga suaminya akan semakin khawatir. Jika dia terpaksa harus tiada hanya satu yang dia ingin, yaitu anak-anak juga suaminya akan tetap bahagia tanpa ada beban.


"Jika aku pergi, semoga usaha itu tetap bisa berjalan seperti sekarang," batin Bu Yun dengan harapannya yang besar.


Tapi entahlah, juga mana mungkin usaha itu akan berjalan dengan baik. Usaha yang kembali berjalan dengan baik karena adanya sebuah perjanjian dengan makhluk gaib. Dan jika sang pelaku utama tiada mana mungkin usaha itu akan tetap berjalan. Mustahil.


"Bu, ibu mikir apa?" tanya Deri.


"Bukan apa-apa. Ibu lelah ingin istirahat," jawabnya yang masih saja menyembunyikan kebenaran. Bu Yun sama sekali tak ada niat untuk bercerita kepada Deri.


"Istirahat lah, Bu. Itu akan membuat Ibu semakin baik setelah bangun," ucap Deri.


"Hem.." Bu Yun mengangguk.

__ADS_1


Bukan hanya merasa lelah karena terus terjaga tapi bu Yun juga lelah terus berbicara. Dia hanya ingin istirahat dan semoga yang di katakan Deri benar. Dia akan bangun dan akan lebih baik.


◦•●◉✿Bersambung✿◉●•◦


__ADS_2