Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Keisengan Salman


__ADS_3

~^°^~


"Feb..." Suara bisikan terdengar di telinganya, memanggil namanya di barengi hembusan yang masuk ke indera pendengaran.


"Salman..." ingin sekali Febri menangis, tapi tidak laki dong kalau dia menangis. Takut dan gemetaran saja itu sudah terlalu, bagaimana kalau menangis?


Tetapi Febri benar-benar sudah gemetaran, dia ingin lari tapi kakinya terasa sangat berat. Bahkan dia juga tidak berani membuka matanya juga terus bergumam memanggil Salman yang telah tega meninggalkannya.


"S-Sal-mannnn...." ucapannya sudah sangat lirih, itupun bersamaan dengan dua kaki yang terus bergerak kanan kiri saking takutnya.


"Em.. Emakkkk... Febri masih ingin hidup. Febri masih lajang belum kawin masak mau di mati karena hantu penasaran. Apa jangan-jangan hantunya perempuan kali ya, makanya deketin Febri. Emakkk..." ucapnya yang tetap setia berdiri di tempat.


"Feb..."


Panggilan itu kembali terdengar membuat Febri benar-benar ketakutan. Dengan sekuat tenaga Febri menggerakkan kakinya dan kali ini alhamdulillah berpihak padanya.


Febri berbalik cepat, dia harus mengambil langkah seribu untuk pergi dari sana.


Dugh...


Cepat Febri memegangi keningnya karena telah


bertabrakan dengan orang yang tadi ada di belakangnya.


"Awww...!" orang itu juga mengeluh sakit. Yang mana suara lenguhan dari orang itu berhasil memancing Febri untuk membuka mata.


"Salman, kamu darimana saja sih! dari tadi aku nyariin kamu nggak ada. Aku hampir menjadi gila karena ketakutan!" Febri terus ngomel, dia tidak tau saja kalau ternyata yang ngerjain adalah Salman sendiri.


Suara bisikan yang memanggil namanya itu adalah Salman pelakunya, itu karena Dia ingin sekali mengetahui seberapa besar ketakutan ataupun keberanian Febri.


"Aku nggak kemana-mana. Dari tadi di sini terus kok," jawab Salman jujur.


Salman terkekeh, dia berhasil melihat Febri yang sangat berbeda dari biasanya yang sok berani. Bahkan Febri terlihat lebih menggemaskan kalau lagi ketakutan daripada pas biasa-biasa saja.


"Kenapa kamu ketawa, oh! atau jangan-jangan kamu yang ngerjain aku, iya!" mata Febri membulat dia sangat kesal meski Salman belum menjawab dan mengatakan kalau dia memang telah mengerjakannya.


"aku! ngerjain kamu? emang iya! hahaha..." tawa Salman pecah seiring dengan tangan Febri yang sudah siap untuk memukulnya.


Kesal juga kan, dia benar ketakutan tetapi temannya itu malah dengan sengaja mengerjai nya.


"Asemmmm... kau, Sal! awas saja akan aku jadikan kau perkedel!" sungut Febri yang sangat marah.


Tak mau menerima kemarahan Febri kini Salman memilih berlari, kabur lebih baik daripada dia babak belur karena di pukuli oleh Febri yang sedang esmosi.


"Salman... awas kau ya!" Febri tak terima dia tetap kekeh untuk menghajar Salman dan memberikan dia sedikit pelajaran.

__ADS_1


Seperti Febri yang terus berlari Salman juga sama, dia malah lebih cepat larinya.


"Salman... awas kau ya!" Febri terus berteriak dia tak peduli meski dia ada di desa.


Teriakan Febri tak berlangsung lama setelah ada orang yang mau ke masjid menegurnya untuk tidak berisik. Karena itu membuat Febri langsung terdiam dan tersenyum kikuk karena sangat menyesal.


"Dek, jangan berisik. Ini sudah malam. Ganggu semua orang yang ingin istirahat" ucap orang itu mengingatkan.


"Maaf, Pak, " jawab Febri seraya membungkuk, tersenyum tapi sangat menyesal.


"Saya permisi, Pak. Mari..." Febri memilih pergi mengejar Salman lagi yang mungkin sudah sampai di tempat mereka memarkirkan motornya.


"Hem.." Orang itu juga hanya menganggu dan medehem kecil sebagai jawaban. Ada gelengan kecil juga di wajahnya karena merasa sudah biasa menanggapi anak muda yang sama seperti Febri.



Malam semakin larut, semua orang juga sudah masuk ke kandang mereka masing-masing. Tak ada yang berada di luar rumah lagi semua itu juga karena ketakutan mereka akan hal yang akhir-akhir ini telah terjadi di desa mereka.



Seperti biasa, di ruang gelap yang hanya ada lilin sebagai penerangan Bu Yun kembali duduk bersila di sana. Kembali dengan amalan-amalan yang tidak boleh putus mulai dari dia melakukan perjanjian terlarang, juga entah sampai kapan. Semua itu dia lakukan hanya untuk bisa membuat usahanya kembali lancar bahkan lebih baik dari sebelumnya.




"Kau akan mati, Kau akan mati..!"



Suara itu terdengar sangat jelas di telinga Bu Yun. Seketika membuatnya membuka mata dan berhenti dengan semua amalan yang telah dia ucapkan namun tanpa suara.



Bu Yun tersentak, matanya terus memandangi segala penjuru tetapi tidak dilihat siapapun yang datang. Tempat juga terlihat begitu sepi sunyi karena memang hanya dirinya saja yang ada.



"Tidak, Mbah! Saya belum mau mati, saya belum mau mati!" suara Bu Yun sudah langsung gemetar, keringat dingin sudah bercucuran membasahi kulitnya.



Berkali-kali Bu Yun mengusapnya, tak ketinggalan dengan mata yang terus bergerak liar mencari sosok yang mengeluarkan suara barusan.


__ADS_1


Tetapi Bu Yun tak melihatnya, tak ada yang datang sedari tadi di sana hanya saja, tak jauh dari tempatnya duduk terlihat ada asap yang mengepul berwarna putih keabu-abuan. Mungkinkah sosok itu berada di balik asap itu?



*Brak*...



Tak lama Bu Yun melihat dengan jelas asap itu, ada benda jatuh yang hampir saja mengenainya. Untung saja Bu Yun cepat tanggap dan bergeser kalau tidak mungkin dia sudah kejatuhan benda itu.



Bu Yun semakin ketakutan, tubuhnya semakin gemetaran. Bu Yun bingung, apa yang harus dia lakukan, dia tidak ingin mati secepat ini, dia juga belum sempat merasakan manisnya hasil dari apa yang dia lakukan selama ini dalam diam.



Apapun yang terjadi tapi tak membuat lilin di hadapan Bu Yun mati, lilin itu tetap menyala.



Bu Yun kembali di buat takut saat tiba-tiba di dalam kaca memunculkan sebuah bayangan akan seseorang yang mati, "Di-dia...? ini tidak mungkin, ini tidak mungkin," Bu Yun terus menggeleng tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat.



Ya, orang yang Bu Yun lihat dari kaca adalah pasangan yang ikut serta dalam Perjanjian yang dilakukan oleh Bu Yun. Bu Yun tidak sendiri, dia harus melakukan itu bersama satu orang, karena itu harus dilakukan oleh sepasang laki-laki juga perempuan.



"Tidak mungkin Seto telah meninggal," ucapnya dengan hati yang semakin tidak karuan.



"Apakah mungkin, pocong yang selalu berkeliaran di desa ini adalah Seto? itu berarti, nyawaku dalam bahaya. Seto pasti ingin mengajakku juga ke dunianya yang sekarang. Tidak tidak, ini tidak boleh terjadi." Bu Yun terus berucap.



Kaki perlahan mulai bergerak untuk beranjak, juga wajah yang terus menggeleng dengan mulut yang terus mengatakan 'tidak' Bu Yun benar-benar ketakutan.



"Aku tidak mau mati, aku masih ingin hidup."



Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2