
...◦•●◉✿_✿◉●•◦...
Begitu tersiksa Bu Yun saat ini. Meski sudah mendapatkan perawatan dari medis tapi dia tetap merasa kesakitan yang rasanya seolah tak ada habisnya.
Dia terus merintih karena merasa sakit yang sangat luar biasa. Rasanya juga seakan pelan-pelan mulai menggerogoti tubuhnya sendiri.
Berkali-kali Bu Yun meringis kesakitan saat luka dari bisul yang pecah tadi terasa di sayat berkali-kali. Sungguh ingin rasanya Bu Yun menyerah saja.
"Ini tidak mungkin karena karma kan?" gumamnya yang sangat lirih. Meski dia sadar telah melakukan kesalahan, melakukan dosa besar karena telah bersekutu dengan jin untuk mendapatkan harta tapi dia tetap tak akan berpikir kalau apa yang dia dapat sekarang adalah akibat dari perbuatannya.
"Ini hanya penyakit biasa, tidak mungkin akan berdampak buruk untuk ku," ucapnya lagi. Bibir Bu Yun mengatakan hal itu, tapi dalam hati tetap terselip rasa takut jika penyakit itu datang karena ulah yang dia lakukan.
Bu Yun juga tak berani berbicara kepada siapapun, dia tetap menyimpan dengan rapat apa yang telah dia lakukan. Semua pasti akan sangat marah juga kecewa, mereka juga akan membencinya dan Bu Yun tidak mau seperti itu, dia ingin tetap mendapatkan kasih sayang dari semua keluarga tanpa di bayang-bayang kemarahan.
Malam yang semakin larut membuat Bu Yun kini tersadar seorang diri. Tak ada siapapun yang menunggu, kebetulan semua tengah keluar.
__ADS_1
Mengingat ritual yang biasa dia lakukan kini Bu Yun tetap mengucapkan seruan wirid untuk jin yang telah membantunya selama ini. Tak masalah jika tidak dengan peralatan yang seperti biasanya, tak masalah dia hanya melakukan sebisanya tapi dia yakin akan tetap di terima.
Bu Yun semakin gencar melafalkan kalimat kalimat yang memuji jin, melupakan Allah yang selama ini memberikan bantuan yang sebenarnya. Bu Yun pikir jin pujaan nya yang memberikan semuanya tapi sejati bukan jin itu tapi Allah lah yang memberikannya.
Angin mulai berhembus, menggerakkan korden yang menutupi jendela.
Dingin Bu Yun rasakan. Semilir angin itu sangat kuat dia rasakan.
Bu Yun menoleh dan melihat kaca yang masih terbuka. Dengan pelan Bu Yun turun dari ranjang, berniat untuk menutup jendela supaya angin gak bisa masuk.
Kaca begitu susah untuk bergerak rasanya sangat berat ketika di tarik. Bu Yun harus mengeluarkan tenaga yang banyak untuk bisa menutupnya.
"Kenapa susah sekali," gumamnya.
Angin berhembus semakin kencang, seolah ingin mendorong Bu Yun dari depan jendela dan ingin menerbangkannya. Bu Yun sangat bingung, bagaimana bisa hanya angin biasa bisa sekuat itu.
__ADS_1
"Ini bukan apa-apa," gumamnya lagi dan terus berusaha untuk menutup jendela.
Lampu tiba-tiba berkedip-kedip dengan awan hitam yang datang bersamaan dengan suara hewan malam yang bersahut-sahutan yang seolah berada di atas kepala Bu Yun.
Bu Yun semakin panik, dia tau kalau ada yang tidak beres pasti ada sesuatu yang akan terjadi karena kedatangan dua hewan malam itu.
Usaha yang belum juga berhasil membuat Bu Yun merasa sangat frustasi. Dia ingin menyerah tapi dia juga tak ingin angin itu masuk begitu saja kedalam kamar nya sekarang.
Bu Yun semakin mendekat.
"Akk...!!" brukkk...
Bu Yun terjengkang saat melihat ada wajah menakutkan tepat di depan wajahnya.
◦•●◉✿_✿◉●•◦
__ADS_1
Bersambung....