
...◦•●◉✿_✿◉●•◦...
Mata merah menyala, dengan bibir membiru juga kulit wajah yang sama pucat pasi tiba-tiba datang dan tepat di depan wajah Bu Yun.
Bu Yun yang sangat terkejut, dia langsung teriak, melangkah mundur bahkan terjengkang dari tempatnya berdiri saat ini.
Bu Yun begitu ketakutan saat sosok itu semakin mendekat, bahkan dia bisa menembus tembok yang ada di sana.
"Jangan jangan ganggu saya, jangan ganggu saya," ucapan Bu Yun terdengar gemetar, dia terus mundur dengan keadaan duduk. Berusaha untuk menjauh dari sosok itu yang kini kian mendekat.
Keheningan malam tanpa satu teman pun di ruangan itu membuat Bu Yun. Dia sangat frustasi, di tambah lagi dengan sosok yang tiba-tiba datang dan mengganggunya.
"Ikut dengan ku, ikut dengan ku!"
Terlihat sosok itu sama sekali tidak membuka mulut untuk bicara, bahkan sama sekali tak bergerak. Tapi suara itu datang dan terdengar jelas di telinga Bu Yun, lantas suara dari mana?
Begitu ngeri Bu Yun menatap wajah sosok yang kian dekat, dia ingin menangis, ingin berteriak meminta tolong tapi sama sekali suaranya tak bisa keluar. Suaranya hanya tertahan di tenggorokan saja.
"Apa yang terjadi? tolong tolong tolong..!" berkali-kali Bu Yun berteriak tapi tak dapat di dengar siapapun bahkan dirinya sendiri juga tidak.
"Jangan, jangan mendekat jangan mendekat! tolong... tolong... tolong...!"
Usahanya tetap tak membuahkan hasil karena suaranya juga tak keluar sama sekali.
Bu Yun begitu kebingungan, dia ingin beranjak, berdiri dan secepatnya berlari tapi dia tak kuat untuk melakukannya. Bu Yun sangat kesakitan dengan sakit yang dia derita, sampai-sampai hanya untuk untuk berdiri saja dia sangat kesusahan.
"Jangan, jangan ganggu saya. Tolong... tolong... hiks hiks hiks..."
Air mata Bu Yun luruh seketika dengan dia yang semakin tak kuasa melakukan apapun.
"Akkk..." makhluk itu tak melakukan apapun tapi lehernya seolah tercekik dan dia terus meringis kesakitan.
Tangannya memegangi lehernya sendiri seolah menyingkirkan apa yang telah mencekiknya tapi nyatanya sama sekali tak ada apapun.
__ADS_1
"Apakah aku akan mati sekarang? tidak tidak! aku tidak mau mati aku tidak mau mati,"
Bu Yun hanya bisa berusaha menyelamatkan diri dari makhluk yang sama sekali tak mau pergi dari hadapannya. Semakin lama terlihat semakin menyeramkan tapi Bu Yun lebih takut mati daripada takut melihat wajah makhluk itu.
"Ikut dengan ku, ikut dengan ku!"
Suara itu kembali terdengar sangat jelas, Bu Yun sangat bingung sebenarnya siapa yang mengatakan itu karena makhluk di depannya terlihat tidak menggerakkan bibirnya sama sekali. Apakah mungkin ada makhluk lain yang mengatakan itu? ataukah mungkin dari jin yang dia kasih persembahan setiap saat. Apakah Jin itu yang berbicara?
"Tidak, tidak!"
Bu Yun terus menggeleng, dia tidak mau ikut dengan makhluk yang mendapatkan perjanjian akan perbuatannya. Dia merasa tidak melakukan kesalahan bagaimana mungkin dia akan bersedia ikut dengannya.
"Akk..., a-apa yang terjadi, akh.. sakit sekali. Turunkan aku, turunkan aku!"
Sekeras apapun Bu Yun berteriak tapi nyatanya dia tak dapat mengeluarkan sedikit saja suaranya. Suaranya hanya bisa tertahan di tenggorokannya.
Bu Yun semakin ketakutan saat tubuhnya perlahan-lahan mulai terangkat dengan sendirinya. Semakin tinggi dan semakin mengudara. Kakinya terus bergerak dengan tangan yang terus memegangi lehernya sendiri yang sangat sakit.
"Lepaskan aku, lepaskan aku... Tolong.. tolong...!"
Biarpun dia terus berusaha tapi dia tetap tidak berhasil sama sekali. Bu Yun tetap terangkat dan semakin tinggi.
Hati Bu Yun benar-benar tak mengingat yang lain lagi, dia hanya terus berteriak meminta tolong tapi dia lupa kalau ada Allah yang mungkin akan menolongnya jika dia mau bertaubat. Tapi tidak! dia tetap tak mengingat Allah di saat-saat yang menegangkan sekarang ini.
Infus yang tadi masih melekat di tangannya sekarang sudah terlepas, darah pun juga mulai mengalir dari tangannya. Tapi Bu Yun tidak peduli itu, dia hanya ingin bisa terlepas dan bisa turun dari ketinggian yang membawanya sekarang.
"Lepaskan aku, lepaskan aku..."
"Akh..!" Suaranya mulai terdengar tapi hanya keluhan dari rasa sakitnya saja yang keluar, tidak dengan kata-kata yang lain.
Sementara di depan rumah sakit, Koh Fei juga Deri sudah melangkah untuk masuk. Mereka juga tak mau meninggalkan Bu Yun terlalu lama di kamar sendiri. Mungkin sekarang Bu Yun sudah bangun, karena tadi pas mereka keluar Bu Yun tengah tertidur sangat pulas.
"Kita cepat, Der. Ibumu pasti sudah bangun. Kasihan kalau sampai dia menginginkan sesuatu dan tidak ada siapapun di sisinya," ucap Koh Fei.
__ADS_1
"Iya, Pak," langkah keduanya semakin cepat, dengan tangan Deri membawa kantong kresek berwarna putih. Sedikit makanan yang dia bawa mungkin ibunya menginginkan itu, pikirnya.
"Tumben jam segini sudah sepi, biasanya masih banyak orang yang berlalu lalang?" heran saja koh Fei. Ini sangat tidak biasa. Karena biasanya jam-jam seperti sekarang masih banyak orang. Tapi sekarang? bahkan tak ada satupun orang yang terlihat.
Bukan itu saja, tapi udara juga terasa sangat jauh berbeda dari biasanya. Hembusan angin terasa sangat aneh menurutnya.
"Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya, Der?" sejenak Koh Fei menoleh ke arah anaknya, dia juga merasa sangat merinding. Atmosfer terasa sangat berbeda membuat bulu kuduk seketika bangun juga tengkuk yang sangat tebal juga panas.
"Iya, Pak. Deri juga merasa begitu. Ini sangat aneh," Deri pun juga merasa demikian. Bahkan Deri juga sudah berkali-kali mengelus tangannya yang merasa sangat dingin tapi kenapa dia malah berkeringat? aneh bukan.
"Cepat, Der! filing ku semakin tak enak. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Ibumu," ucap koh Fei.
Langkah mereka berdua semakin cepat. Bahkan mereka berdua sudah berlari kecil untuk bisa sampai ke kamar Bu Yun berada.
Nafas sedikit lega setelah kamar Bu Yun sudah di depan mata. Mereka berdua masih sempat saling pandang sebelum masuk.
Ternyata tak semudah yang mereka pikir, pintu tertutup rapat bahkan seperti terkunci dari dalam. Koh Fei juga Deri begitu kesusahan untuk membukanya.
"Kenapa ini, kenapa harus di kunci?" koh Fei berusaha keras untuk membukanya, terus mendorongnya dengan sangat kuat.
"Tidak tau, Pak. Tapi mana mungkin di kunci sih, Pak?" Deri juga ikut berusaha untuk membukanya. Tapi ternyata juga sangat susah.
"Buk! Buk! buka pintunya! kenapa Ibu menguncinya? Buk!" teriak Koh Fei.
Tok... tok... tok...
"Buk, buka pintunya! Buk!" Deri pun tak mau kalah dia juga terus berteriak meminta untuk di bukakan pintunya.
"Buk!"
◦•●◉✿-✿◉●•◦
Bersambung,....
__ADS_1