Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Poci lagi (End)


__ADS_3

Happy Reading...


...****************...


Doni, Ilyas, Salman dan Febri nampak begitu senang menerima gaji juga bonus mereka dari Koh Atong. Senyum begitu memancar pada wajah mereka, alhamdulillah, gaji dan juga bonus full mereka dapatkan.


"Nanti jalan yuk," Ajak Ilyas.


"Mau jalan kemana emang?" Doni langsung menyahut perkataan Ilyas, menoleh dengan cepat dengan sangat penasaran.


"Ya kemana gitu. Mumpung gajian kita makan apa gitu yang enak, mie ayam atau bakso gitu. Biar seger," jawab Ilyas lagi semangat.


"Boleh juga." Febri tak kalah heboh. Kalau sudah urusan makan-makan siapa yang tidak akan semangat.


"Kamu ikut kan, Sal?" Doni yang bertanya tapi ketiganya sama-sama menoleh meminta jawaban dari Salman.


Salman nampak diam berpikir dalam sejenak, "boleh, tapi hanya makan saja langsung pulang kan?"


"Iya!" seru ketiganya bersamaan membuat wajah Salman mundur beberapa senti dari hadapan ketiganya. Takut sampai kena semprot tentunya.


"Lagian ya, Sal. Diem baek jarang bergaul, jarang keluar gitu, mau dapat pacar kapan?" Ilyas menggeleng seraya meledek.


Mamang, dari mereka bertiga hanya Salman yu masih setia jadi jomblo. Masih asyik menikmati kesendirian tanpa pusing-pusing memikirkan ke-omesan dan juga rewelnya seorang pacar. Dunianya begitu adem ayem seperti tak ada masalah dan tak ada beban.


"Hem, kan aku sudah bilang. Buat apa punya pacar kalau akhirnya yang di sayangi dan di jaga mati-matian ternyata jodoh orang." Kini Salman yang tersenyum.


"Ye, ngomong saja kalau kamu memang tak minat."


"Tuh tau. Sudah yuk, kerja lagi. Kita harus selesaikan pekerjaannya cepat kalau beneran mau jalan." Salman melangkah lebih dulu, membuat ketiganya langsung mengikutinya dengan kompak menggelengkan kepala.


...****************...


Gerobak bakso dan mie ayam sudah terlihat jelas dimata Salman, Febri,Ilyas dan Doni. Mereka benar-benar pergi jalan dengan mengendarai dua motor dan saling berboncengan. Ilyas sama Doni dan Febri bersama Salman.


"Asyik, kayaknya enak tuh." celetuk Doni. Matanya sudah lebar melihat bakso besar-besar yang terpampang nyata di gerobak di balik kaca.


"Yang pasti bikin melek nih." Ilyas menoleh ke belakang, melihat wajah Doni yang tersenyum meski tak bisa jelas semuanya.


"Yuk buruan," seru Febri yang ada di belakangnya.


Motor kembali berjalan, melihat-lihat belakang untuk mereka menyebrang. Kebetulan penjualnya ada di sebelah jalan satunya.


"Sepertinya enak," hanya itu yang Salman katakan.


Tak lama motor terparkir. Menyatu dengan motor-motor pengunjung lain yang ikut jajan di sana. Dengan semangat empat lima mereka masuk, ternyata tempat itu penuh juga dan hanya menyisakan beberapa kursi saja dan pas untuk mereka berempat.


Begitu bahagia mereka berempat, duduk di lingkar meja yang sama sembari menunggu pesanan menu yang mereka pesan. Sembari menunggu mereka menghabiskan waktunya untuk mengobrol, mereka begitu menikmati kebersamaan sore itu.


Senyum mereka semakin merekah melihat penjual yang datang dengan nampan berisi empat mangkuk yang berisi penuh dengan bakso. Satu lagi pelayan yang mengikuti dengan membawa nampan berisi empat gelas besar dengan es jeruk di dalamnya.

__ADS_1


"Mantap ini," kata Ferdi. Matanya begitu cerah melihat mangkuk yang sudah bergeser dan berhenti tepat di hadapannya.


"Sambalnya dong!" seru Doni tak sabar.


"kecap-kecap," tak kalah Ilyas berbicara dengan tangan yang langsung meriah botol kecap. Sementara Salman dia sabar menanti, menunggu gantian dari ketiga temannya.


...****************...


Niatnya hanya mau jajan saja, tapi tak menyangka kalau ternyata motor Ilyas mogok pas waktu maghrib. Mereka sudah buru-buru pulang, tapi apa mau di kata? terpaksa mereka berjalan hati-hati dengan Ilyas menuntun dan Doni mendorong. Sementara Febri dan Salman mereka tetap ada di atas motor yang berjalan pelan.


"Nasib nasib," kata Doni. Dia begitu kesal karena motor yang mogok.


"Ini harus di servis, Ilyas. Kalau tidak ya tidak akan hidup." Kata Doni lagi. Sembari mendorong dia berbicara, sesekali menoleh ke belakang melihat Febri dan Salman yang begitu enak.


"Kalian juga, ikut jalan dong!"


"Oh, tidak. Kenapa harus jalan kalau motor nyala. Yang penting kita setia tidak ninggalin kalian." Salman menjawab.


Sementara Febri hanya terkekeh saja melihat Doni yang terus saja kesal.


"Kayaknya nggak ikhlas banget barenginnya." Ilyas menoleh, berhenti sejenak untuk mengusir lelah.


"Kalau nggak ikhlas jelas sudah pulang lebih dulu lah," jawab Febri.


"Ya, sana kalau mau pulang lebih dulu. Lagian sudah nemu bengkel. Tuh!" seru Ilyas seraya mengedikkan wajahnya.


"Beneran nih?"


Tak mengatakan apapun lagi Febri dan Salman langsung pulang. Motor melaju pergi meninggalkan keduanya yang tetap ngedumel meski mereka yang menyuruh.


"Dasar nggak setia kawan!" kata Doni jengkel.


...~~~``...


Ternyata Febri dan juga Salman tidak benar-benar meninggalkan keduanya. Mereka menunggu di salah satu warung kopi. Menikmati kopi hitam sembari sesekali melihat Doni dan Ilyas dari kejauhan.


"Kasihan mereka, pasti sangat lelah." gumam Salman.


Keduanya memang nampak letih dan kini duduk menunggu di kursi yang ada di bengkel.


Bersamaan kopi Febri dan Salman habis ternyata motor Ilyas kembali menyala. Mereka tersenyum, begitu senang saat melihat motor itu sudah kembali berbunyi.


"Alhamdulillah," gumam Salman lagi.


Setelah melakukan pembayaran Ilyas dan Doni bergegas pergi dari bengkel, mereka terlihat buru-buru tak tau kalau Febri dan Salman masih ada di sana.


"Feb, yuk," ajak Salman.


Febri mengangguk, mulai berdiri dan menyerahkan uang untuk membayar pada pemilik warung.

__ADS_1


Motor menyusul berjalan.


Tinn!


Suara klakson motor mengejutkan Ilyas dan Doni, keduanya menoleh bersamaan namun Ilyas kembali fokus setelah melihat ternyata Febri yang membunyikan klaksonnya.


"Aku pikir beneran dah pulang!" teriak Doni.


"Tidak lah, kita kan setia kawan. Iya kan, Sal?"


"Iya," Salman mengangguk, memiringkan wajah untuk melihat keduanya yang ada di depan.


Rasa hati mulai ketar-ketir ketika mulai memasuki desa dimana selalu di kabarkan ada sepasang pocong. Mau mundur sudah terlanjur, mau maju takut tiba-tiba ada yang nongol di depan mereka.


"Beneran kita mau lewat sini?" tanya Ilyas begitu ragu. Laju motor semakin pelan dan menyamakan motor Febri.


"Yakin lah, memang mau lewat mana lagi? ini jalan satu-satunya." jelas Febri.


Dengan terpaksa motor kembali berjalan. Hawa-hawa dingin mulai membangkitkan bulu kuduk mereka berempat yang tertidur manis. Mata terus celingukan seolah mencari namun tak ingin melihat.


"Eh, ada apa ini?" Ilyas langsung panik. Lampu pada motornya tiba-tiba mati begitu juga dengan motor Febri.


"Lah lah," Febri pun sama.


Rasa takut sudah mulai menyerang pada mereka berempat. Hanya dengan cahaya remang-remang motor terus berjalan.


Salman begitu erat memeluk Febri sementara Doni memeluk Ilyas. Jaket mereka tarik dan berguna untuk menutupi wajah mereka sementara kedua mata memejamkan mata.


"Eh, jangan erat-erat dong! Ngab gue," protes Ilyas.


"Sudah, cepat jalan." Doni tetap tak mengindahkan perkataan Ilyas, dia tetap melakukan apa yang dia mau begitu juga dengan Salman.


Hingga akhirnya.


Motor keduanya sama-sama berhenti, bukan karena mogok melainkan ada yang bergerak mendekati mereka dari arah depan.


"Don, Don," Ilyas mulai gemetar. Sangat jelas apa yang dia lihat.


"Astaghfirullah, mereka lagi." Begitu juga dengan Febri yang mulai takut. "Kenapa harus berhadapan dengan hal seperti ini lagi sih."


"Ini gara-gara sumpah kami, Feb. Makanya kalau ngomong dijaga." Ilyas mengingat dengan jelas apa yang Febri katakan kemarin, Dan sekarang benar-benar terjadi.


"Lah lah," Ilyas mulai panik. Mau mundur sudah tanggung, tidak mundur seakan mau menantang tuh dua poci.


Doni dan Salman semakin menutup mata erat, semakin memeluk teman yang di depannya dan pasrah. Terserah mau berbuat apa selaku sopir.


"Aaaaaa!!!"


...****************...

__ADS_1


END...


__ADS_2