
...◦•●◉✿+✿◉●•◦...
*Semua keluarga Koh Fei begitu kebingungan, mereka sangat pusing dengan usaha mereka yang sama sekali tak mendapatkan hasil selama delapan bulan.
Biasanya dalam sehari saja mereka akan mendapatkan penghasilan jutaan rupiah tapi sudah selama ini sama sekali tak ada pemasukan sedikitpun.
Tanpa ada pemasukan, tetapi mereka harus tetap menghidupi lima orang anak. Semuanya masih belum ada yang menikah bahkan masih ada yang sekolah. Kebutuhan sehari-hari pun juga tak bisa terpenuhi dengan baik selama ini.
Di ruang tengah Bu Yun hanya duduk berdua saja dengan Koh Fei saat ini. Mereka berdua sama-sama diam berpikir.
"Kita harus bagaimana Pak?" ucapan itulah muncul dari Bu Yun yang sudah kehabisan akal. Dia sudah tidak bisa berpikir lagi.
Semua tabungan sudah habis bahkan hutang juga sudah dimana-mana dan juga tidak sedikit jumlahnya.
"Bapak juga tidak tau, Bu. Atau? bagaimana kalau misalnya bapak cari kerja saja? kita akan ada pemasukan meski tidak sebanyak saat usaha sendiri," koh Fei berpikir seperti itu karena itu yang dia pikir akan lebih baik.
"Tidak, Pak. Ibu tidak mau bapak sampai kelelahan," Tak tega rasanya jika melihat tubuh tua itu harus bekerja di tempat orang lain. Pasti pekerjaannya juga tidak akan sama seperti di tempatnya sendiri.
"Tidak apa-apa, Bu. Bapak masih kuat," jawab Koh Fei yang mengerti akan ketakutan dari istrinya.
__ADS_1
"Coba dulu deh nanti, Ibu akan pikirkan apa yang harus di lakukan," jawab Bu Yun.
Bu Yun melangkah masuk ke dalam kamar, duduk termenung di sana seorang diri. Tiba-tiba muncul pikiran yang menyimpang, ajaran sesat yang dia pernah pelajari dulu dari nenek moyangnya.
Sebuah perjanjian hitam dengan makhluk tak kasat mata mungkin bisa dia lakukan untuk bisa menyelamatkan kembali usahanya. Bu Yun sangat yakin itu akan berhasil.
"Apakah aku harus melakukannya?" pikirannya mulai bekerja.
Meski belum yakin tapi dia sudah tersenyum. Dengan cara itu dia akan bisa mendapatkan hasil dari usahanya lagi, tak perlu Koh Fei bekerja di tempat orang dan semua uang akan datang sendiri ke tempat mereka sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Ya! aku harus melakukan itu. Tapi dengan siapa? aku tidak bisa melakukannya sendiri, harus ada teman yang sama-sama mau melakukan perjanjian dengan jin," Bu Yun kembali bingung, karena syaratnya melakukannya harus orang sepasang, tapi tidak boleh dengan orang dari keluarganya sendiri, harus dengan orang luar.
Bu Yun terperanjat saat tiba-tiba ponsel yang dia pegang telah berbunyi, dilihat layar ponselnya dan tertera nama Seto di sana.
"Seto?" sempat bu Yun mengernyit tapi dia tetap mengangkatnya.
"Halo, ada apa Seto?" tanyanya tanpa basa-basi lagi. Dia sebenarnya masih sangat pusing dan tidak mau di ganggu, tapi dia juga tidak mau mengabaikan siapa orang yang menghubunginya, dia adalah Seto temannya sendiri.
"Yun, pinjamkanlah saya sejumlah uang. Usaha ku bangkrut, dan aku tidak punya penghasilan sekarang. Mana pengeluaran tiap hari juga tidak berhenti," ucapan itu keluar dari Seto langsung. Sepertinya masalah mereka berdua sama.
__ADS_1
Ide gila langsung muncul di benak Bu Yun, dia bisa mengajak Seto sebagai teman untuk melakukan ritual terlarang itu kan? tapi kalau Dianya mau.
"Bagaimana mungkin aku meminjamkan uang padamu, To! aku sendiri saja juga sama. Nasib usaha kita sama, To. Kita sama-sama bangkrut. Tapi saya punya ide bagus, tapi kalau kamu mau sih," Bu Yun menyeringai membayangkan apa yang akan dia lakukan.
Semua orang bisa setuju melakukan apapun jika sudah terdesak, dan Bu Yun yakin kalau Seto juga mau melakukan itu bersamanya.
"Ide seperti apa maksudmu! aku tidak mau nyolong loh ya! aku tidak mau masuk penjara," ucapnya cepat.
"Siapa juga yang mau masuk penjara. Aku juga ogah. Begini............ " Semua Bu Yun katakan. Dari A sampai Z tak ada satupun yang tersisa.
"Sepertinya ide yang bagus. Kapan kita akan melakukannya. Aku sudah tidak kuat lagi di kejar-kejar sama utang seperti ini," dan ternyata Seto langsung menyetujuinya.
Bu Yun semakin sumringah, ada harapan untuk usahanya kembali bangkit lagi. Tak apa jika dia harus mengembalikan semuanya kembali seperti semula meski dengan cara yang tidak benar.
"Besok sore, kita bertemu di ujung jalan," tekat Bu Yun sudah bulat. tak lagi bisa di ganggu gugat lagi. Dia sudah bosan hidup susah dan semua harus bisa di kembalikan seperti semula.
"Aku akan bikin semuanya kembali lagi," ucapnya. Tatapannya tajam ke arah kaca yang ada di hadapannya, senyuman yang menyeringai juga terus terpancar dengan pikiran yang akan dia lakukan esok hari bersama Seto temannya
__ADS_1
Bersambung....