Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Tak Semangat Kerja


__ADS_3

Happy Reading....


...****************...


Bulatan hitam mengelilingi kedua mata Salman juga Febri, mereka bekerja menjadi tak semangat terasa lesu dan lemah tubuh mereka karena semalam yang tak bisa tidur.


"Sal, aku ngantuk banget." Febri menghentikan tangan yang tengah memotong kayu. Seketika dia terduduk di lantai dan berselonjoran, membiarkan kedua kakinya mengangkang begitu saja seperti anak kecil.


"Sama, aku juga. Mataku rasanya tak mau melek," Salman menjawab. dia ikut duduk di potongan kayu dengan wajah yang menunduk.


Pletak! pletak!


Masing-masing mendapatkan satu jitakan dari Doni yang nampak kesal. Matanya menyala lebar melihat kedua temannya yang langsung menyentuh kepala belakangnya yang mendapatkan hadiah menyakitkan dari Doni.


"Kerja kerja! Pekerjaan kita banyak nih, kalau kalian santai-santai begini kita akan kehilangan bonus bulan ini." oceh Doni.


Matanya menatap tajam ke arah keduanya yang hanya melirik dengan malas. Wajahnya terlihat begitu menyedihkan dengan bulatan mata yang sangat jelas.


"Hahaha! kenapa dengan mata kalian!" barusan ngoceh kesal kali ini Doni malah terpingkal melihat keduanya. Bahkan membuat Doni sampai membungkuk dan memegangi perutnya karena melihat keduanya.

__ADS_1


"Diam Lu. Nggak tau saja kalau kita sedang malas." Febri yang menjawab.


"Malas kenapa, emangnya kalian darimana sih semalam. Kalian tau nggak, kalau kalian itu sudah seperti cacing kepanasan." ledek Doni.


"Ye, enak bener kamu mengatakan itu. Kamu tidak tau saja kalau kita seperti itu karena ketakutan di kejar setan." Febri menoleh cepat ke arah Doni. Matanya juga lurus pada wajahnya.


Seketika Doni memberengut. "Hey, jangan mengatakan setan sembari menatapku gitu juga kali. Emangnya Lo pikir aku setannya apa."


"Bukan sih, tapi hampir mirip." Febri terkekeh. Di ikuti Salman juga yang dari tadi hanya menjadi pendengar saja. Dia memang lebih banyak diam karena tak mau membuka apapun tentang apa yang dia ketahui.


"Dasar semprul. Dah ya, pokoknya kalian berdua harus selesaikan motong kayunya ini. Setelah itu tuh di pahat," Oceh Doni sembari berlalu meninggalkan keduanya.


"Sudah, kita selesaikan yuk, Feb. Benar kata Doni, kita akan kehilangan bonus kalau sampai pekerjaan tidak beres, kita tidak akan bisa ngirim uang ke kampung kalau begitu." Salman mulai berdiri.


"Hem, dengan terpaksa. Mau bagaimana lagi emang sudah menjadi kewajiban." Begitu juga dengan Febri yang ikut berdiri dan kembali bekerja lagi.


...****************...


"Feb, Sal. Sebenarnya semalam itu kalian kenapa sih?" sampai makan siang pun Ilyas masih sangat penasaran. Dia terus memendam pertanyaan itu dari tadi.

__ADS_1


"Tidak kenapa-napa," jawab Salman. Semakin lahab dia menyuapkan nasi pada mulutnya, dia sangat lapar.


"Masak, aku nggak percaya." bibir Ilyas mengulum.


"Mereka di kejar setan," Doni urun bicara.


"Setan? masak setan di kejar setan. Hehe," Ilyas terkekeh. melihat wajah Febri yang sontak menyala-nyala tatapan matanya karena sadar dirinya yang di lihat.


"Dasar semprul!" seru Ferdi yang marah. Kemarahan Febri tetap tak mampu membuat Ilyas diam, dia tetap tertawa, suka saja melakukannya.


"Eh, aku sumpahin ya, semoga kalian berdua nih, akan mengalami hal serupa seperti aku dan Salman semalam. Biar nyahok Lo pada."


"Ih, pakai nyumpahin. Hahaha," Doni dan Ilyas tetap tak berhenti, mereka berdua semakin meledek Febri yang memang lebih sensitif daripada Salman.


"Sudah-sudah, Habiskan makan kalian setelah itu dhuhur, istirahat sebentar lalu kembali kerja." Ucap Salman.


Mereka langsung kicep, diam dan melanjutkan acara makannya dengan benar tanpa ada kata-kata lagi yang keluar.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2