Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Semakin parah


__ADS_3

...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Selesai dengan semua pekerjaannya Salman bergegas untuk membersihkan diri, niatnya untuk sore ini tidak akan dia lupakan. Salman akan menjenguk Ibu angkatnya yang katanya sakitnya semakin parah.


Sedari tadi Febri juga yang lainnya hanya mengamati pergerakan Salman yang sangat buru-buru. Mereka juga belum berniat untuk bertanya karena mereka sudah tau tujuan Salman sekarang. Di tengah semuanya bersantai hanya Salman sendiri yang terus mondar-mandir.


Febri, Ilyas ataupun Doni hanya diam, namun mereka saling memberikan kode mata pada satu sama lain. Entah apa sebenarnya maksud dari kode itu Salman sama sekali tak mau tau karena dia harus segera pergi, apalagi pikirannya benar-benar sudah tidak enak.


"Semoga saja tak ada hal buruk yang menimpa Ibu," gumamnya begitu lirih.


"Sal, kamu beneran hanya pergi sendiri saja? apakah tidak berniat mengajakku gitu?" Febri angkat bicara. Biasanya kan Febri selalu ikut dalam hal apapun, melakukan uji nyali di tengah malam saja dia di ajak kenapa sekarang tidak?


"Besok aja, Feb. Kalau Ibu hanya sakit ringan aku juga tidak akan lama kok," jawab Salman yang sangat enggan untuk mengajak Febri, apalagi mengajak yang lainnya.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Aku juga mau jalan-jalan saja sama my hanny. Udah lama juga nggak ngapelin dia," Febri juga bergegas ke kamar mandi setelah Salman sudah kembali keluar dari sana.


"Halah, sudah lama bilangnya padahal juga baru beberapa hari saja nggak ketemu. Makanya buruan di halalin, Bang. Biar bisa tiap hari ketemu," ucap Ilyas sedikit nyinyir.


"Halalin halalin, ngomong emang mudah, Bro! situ saja juga belum bisa toh halalin pacarnya?"


"Belum cukup cuan, Bos! Hhhh..." seru Ilyas lagi.


Ya, untuk bicara saja akan mudah kan tapi berbeda untuk menjalaninya, itu akan sangat sulit karena butuh segalanya untuk di persiapkan. Bukan hanya masalah dana saja tapi juga hati dan mental.


"Sama dong! hhhh..." Doni mulai ikut bicara.


Sementara Salman memilih diam karena dia sendiri juga tak ada yang bisa di katakan. Dia kan jomblo sendiri dari semua teman-temannya. Jadi slow respon lebih baik.


"Sudahlah, aku harus berangkat. Kalau tidak takut kesorean entar," Salman benar-benar bergegas untuk pergi.

__ADS_1


Tak lupa dia juga mengenakan jaket untuk menghangatkan dirinya dari dinginnya udara yang selalu tak menentu.


"Hati-hati, Bro!" seru Ilyas.


"Hem," hanya singkat saja Salman menjawab, dia sudah tak lagi menoleh ke belakang dia sungguh ingin cepat melihat keadaan ibu angkatnya yang sangat menyayanginya sama persis seperti anak-anaknya sendiri.


"Salman Salman," Doni geleng-geleng kepala,dia begitu kagum kepada Salman yang bukan hanya pintar dalam hal pekerjaan saja, tapi dia juga bisa mendapatkan orang-orang yang baik yang sayang kepadanya, "sungguh beruntung hidupmu, tapi kok ya masalah percintaan kamu belum dapat juga. Semoga sekali dapat langsung bawa ke pelaminan ya, Sal," imbuhnya.


"Dasar luh, ngomong pas orangnya udah pergi. Kenapa tidak pas ada orangnya?" tak habis pikir Febri dengan Doni bisa-bisanya tuh orang.


"Suka-suka lah, hhhh..." Doni hanya bisa meringis menanggapi ocehan Febri.


...◦•●◉✿'✿◉●•◦...


Begitu semangat Salman untuk bisa sampai ke rumah koh Fei. Tak masalah dia hanya dengan jalan kaki karena jaraknya juga tidak jauh-jauh amat. Bahkan kini dia sudah sampai di pintu masuk Desa.


Langkah kaki Salman semakin cepat, sesekali dia juga menyapa orang-orang yang kebetulan berpapasan atau hanya sekedar duduk di depan rumah mereka. Setidaknya menjaga kesopanan akan sangat penting, apalagi di desa orang lain. Ya, meskipun semua orang juga sudah banyak yang kenal dengannya. Justru itu.


Senyum Salman mengembang kala mata sudah melihat rumah koh Fei yang sudah ada di hadapannya. Salman semakin tak sabar dan semakin melaju cepat.


"Assalamu'alaikum..." sapanya.


"Wa'alaikumsalam..." jawab seseorang dari dalam, dan ternyata itu adalah Deri anak pertama dari koh Fei juga bu Yun, "kamu, Sal! sini masuk."


"Hem," Salman masuk dengan cepat, dia juga sudah tak sabar ingin mengetahui keadaan bu Yun yang sebenarnya sakit apa.


"Bagaimana keadaan ibu, Bang?" tanya Salman seraya mengikuti Deri yang melangkah lebih dulu.


Deri terdiam sejenak, mungkin dia sedikit bingung tapi dia terlihat sangat takut atau lebih tepatnya khawatir yang berlebih. Anak mana yang tidak akan takut atau khawatir kan, jika melihat ibunya sendiri sakit apalagi sakitnya dia rasa juga tidak wajar.

__ADS_1


Berbagai spekulasi bermunculan di benak Deri. Bahkan Deri juga sempat berpikir apakah mungkin penyakit yang di derita Ibunya adalah salah satu kiriman dari seseorang yang tak suka atau iri bahkan sudah mencapai dengki?


Pasalnya Deri ataupun yang lain tidak pernah melihat Ibunya berlaku aneh-aneh dia juga terkenal baik di kalangan masyarakat, tapi masak iya sampai ada orang yang sangat tak menyukainya sampai tega mengirimkan sesuatu yang tak terlihat, atau biasa di sebut guna-guna atau teluk. Entahlah, itu hanya pikiran yang tiba-tiba berjalan saja di kepala Deri.


"Keadaan ibu semakin parah, Sal," suara Deri begitu pelan bahkan terdekat karena tak sanggup untuk mengatakan kepada Salman meski itu hal yang sebenarnya.


Salman termangu, 'Semakin parah'


batin Salman juga mulai bekerja. Bagaimana bisa semakin parah padahal kemarin hanya seperti masuk angin saja tapi sekarang? kok bisa.


"Salman boleh menjenguk, Bang?" ucap Salman seraya meminta izin.


Tentu Deri akan mengizinkan Salman untuk melihat keadaan bu Yun. Biar bagaimanapun antara bu Yun juga Salman hubungan mereka sangat baik. Bahkan sudah seperti anak dan ibu kandung. Sama seperti dirinya dan anak-anak yang lain.


"Hem," Deri mengangguk. Deri melangkah lebih dulu dan Salman mengikutinya. Mereka berdua menuju kamar dimana bu Yun berada sekarang.


Tak tega sekaligus kasihan saat Salman melihat keadaan bu Yun sekarang. Terlihat sangat memprihatinkan dengan wajah pucat dengan guratan rasa sakit yang dia tahan.


Berkali-kali bu Yun menutup mata, menautkan kedua alisnya di saat rasa sakit itu kembali menyerangnya.


"Pak, bagaimana keadaan ibu sekarang?" tanya Salman kepada koh Fei yang sedari tadi juga terus menunggu di dalam kamar.


"Seperti inilah ibumu sekarang. Dari tadi dia terus mengeluh kesakitan. Dan... tumbuh bisul juga yang semakin besar dan matang."


Ucapan koh Fei juga sangat pelan, seolah teriris hatinya melihat belahan jiwanya merasakan sakit. Sakitnya juga seakan ikut masuk ke tubuhnya juga.


...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2