Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Semakin Penasaran


__ADS_3

...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


"Hem..., kemarin kalian darimana sih?! udah nggak bilang-bilang nggak ajak-ajak pula," celetuk Ilyas mengawali pembicaraan.


Meskipun mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, dan berhadapan dengan berbagai macam kayu dalam berbagai ukuran tetapi mereka masih bisa sekedar untuk berbicara.


Pergerakan juga jarak yang kadang jauh tak membuat mereka tak saling bicara, mereka juga terus berbicara meski sesekali dengan nada yang berteriak.


Bukannya menjawab kali ini Febri cenderung lebih kesal, dia masih dongkol gara-gara perbuatan Salman kemarin. Tetapi pria itu kini malah cengengesan tiada henti dan tiada rasa bersalah.


"Tanya saja tuh sama pria yang teganya minta ampun. Mana ngerjain gue sampai mau jantungan lagi. Besok-besok ogah gue ikut lagi," melirik Febri ke arah Salman.


"Emangnya kemana sih? cerita ngapa, gue pinisilin, eh pinisirin maksudnya," Ilyas begitu antusias, dia sangat ingin Febri menceritakan semua yang terjadi padanya, sampai-sampai dia ingin jantungan.


Sesekali Ilyas menghentikan tangannya saat menggergaji kayu, setelah itu dia lanjutkan lagi setelah melirik ke arah Febri.


"Kita uji nyali, Bro! besok-besok ikut ya!" teriak Salman, mengangkat tangannya yang juga membawa gergaji yang lebih kecil daripada Ilyas.


"Uji nyali, maksudnya?" Ilyas semakin penasaran, dia terus mendesak Febri maupun Salman untuk bercerita.


"Uji nyalinya nyari apa, nomor? jangan bilang kalau kalian berdua main togel?" celetuk Ilyas lagi.


"Gue masukin sepatu juga loh ya ke mulut mu yang nggak pernah sekolah ini. Mana ada kita main kek gituan, dosa!" Umpat Febri


"Lagian jika menang juga uangnya nggak halal, nggak berkah untuk kita!" imbuh Febri kesal.


Kini Salman mendekat sembari membawa balok kayu yang tadi sudah dia potong.


"Darimana loh kenal togel?" tanya Salman seraya meletakkan balok di depan Febri juga Ilyas.


"Ya, dari mulut ke mulut lah, kayak tuh berita pocong bermata merah. Hanya dari mulut ke mulut kan? mereka yang membicarakan belum tentu pernah melihat juga," Ilyas menjelaskan.


Salman mengangguk, memang benar sih. Semua yang mereka bicarakan juga belum tentu mereka melihatnya sendiri. Maka dari itu Salman begitu penasaran ingin sekali melihatnya langsung, dia ingin memastikan kebenarannya dan seperti apa wujud sebenarnya.


Pletak...


"Jangan ngomong kek gituan ngapa sih! bikin kesel aje," satu jitakan mendarat dengan bebas di kepala belakang milik Ilyas dan Febri lah pelakunya.


Febri masih terbawa suasana kemarin, bagaimana dia hampir gila karena di kerjain oleh Salman.


Febri terdiam setelah itu, dia seolah berpikir.


"Ada apa, Feb?" Ilyas mengernyit.


Salman pun juga langsung memandangi Febri yang terdiam dengan fokus, "Ada apa loh, sakit?!"


"Sal, kenapa burung gagak itu kemarin terus berputar-putar di rumah Koh Fei ya? setelah itu juga bertengger di atapnya. Kamu pikir ada yang aneh nggak sih?"


Katanya tak boleh membicarakan, tetapi Febri sendiri malah memulainya lagi, bener-bener deh.


"Oh, jadi kalian kemarin uji nyali di desa sebelah, kalian melihat makhluk itu? Kira-kira seperti apa sih tampangnya?"

__ADS_1


"Idih, tampangnya? tampangnya kayak loh! boro-boro lihat di kerjain iya!"


Pembicaraan mereka semakin panas meskipun tangan tetap bekerja sih.


Pluk....


"Febri..." satu tangan berhasil menyentuh bahu Febri, memanggilnya juga dengan berbisik di telinga sebelah kanan.


"Nah kan lagi," celetuk Febri.


Febri menoleh seketika melihat Doni yang datang. Tambah dongkol deh, lagi-lagi dia yang di kerjain berasa saudara tiri saja.


"Dah ah, capek gue. Kesel sama kalian semua," Febri melangkah pergi, menghampiri istrinya Koh Atong yang sedang keluar dari rumah utama dengan membawa teh juga camilan.


Dongkol begitu kan enaknya di kasih makan, kalau perut penuh juga ilang sendiri kesalnya.


Semuanya menoleh, mengikuti kemana Febri melangkah. Mereka akhirnya tertawa terbahak-bahak karena melihat Febri yang lebih semangat jika mengenai makanan.


"Kita jangan sampai kalah lah, jangan sampai di embat semua sama Febri tuh makanan," Ilyas melangkah lebih dulu. Di susul Doni juga yang lainnya.


Sementara Salman masih terdiam, berdiri dengan kepala terus berpikir.


"Benarkah apa yang Febri katakan? kalau benar berarti memang ada yang tidak beres dengan keluarga Kok Fei. Tetapi masak iya sih!?" batin Salman yang masih tak percaya.


Keluarga Koh Fei dia kenal sangat baik, mereka juga terlihat baik-baik saja tak ada yang aneh. Maka dari itu Salman sangat tidak percaya dengan semua itu.


"Salman! kalau kelamaan nggak kebagian loh! pisang goreng ini!" teriak Doni.


"Hem..." Salman mengangguk, dia juga langsung berjalan.




Dengan di temani kopi hitam yang kini hampir habis Salman masih terduduk di luar rumah. Tak ada yang menemani untuk saat ini, semua teman-temannya asyik sendiri dengan kegiatan mereka.



Salman tak mungkin mempunyai kegiatan seperti mereka, karena mereka semua tengah melakukan komunikasi dengan kekasih mereka masing-masing sementara Salman? dia tadi sempat menghubungi seseorang tetapi itu adalah emaknya yang berada di kampung halaman.



Setelah itu tak ada yang lain lagi, karena Salman memang masih jomblo sendiri di sana.



Tegukan terakhir dari kopi oleh Salman, menyisakan ampas Kopi yang tak bisa larut dengan air panas. Salman sama sekali belum mengantuk saat ini, padahal waktu juga hampir tengah malam, tapi dia masih saja berada di luar dengan pikiran pikiran yang terus berkelana dengan liar.



"Kenapa aku sangat penasaran, kata orang-orang dia akan muncul di tengah malam seperti ini, apakah kali ini dia juga akan muncul?" Salman sangat penasaran dengan hal itu. Dia ingin sekali melihatnya tapi sama siapa? dia tak mungkin sendiri datang ke desa sebelah. Haruskah dia mengajak salah satu temannya?

__ADS_1



Salman berdiri, dengan membawa cangkir kopi dia melangkah masuk. Barangkali ada salah satu temannya yang belum tidur.



"Dari mana, Sal?" Salman menoleh saat hendak mencuci cangkir.



"Dari luar," jawab Salman, dan ternyata lagi-lagi Febri yang seolah berjodoh untuk dia ajak melihat makhluk itu, "belum tidur?" tanyanya basa-basi.



"Belum, nggak ngantuk juga," jawab Febri.



"Jalan-jalan yuk, ke desa sebelah," ajak Salman hati-hati.



"Nggak ah, entar kamu kerjain lagi. Trauma aku," tolak Febri.



"Nggak lah, mana mungkin terus menerus aku mengerjai mu. Yuk lah, katanya kamu juga masih penasaran," kekeh Salman mengajak.



Salman melangkah mendekat sembari mengibaskan kedua tangannya untuk mengeringkannya.



"Tapi bener ya? awas saja kalau kamu berbohong!"



"Iya, aku janji tidak akan lagi. Kali ini kamu bisa pegang janjiku. Kalau aku berbohong besok aku traktir bakso granat," ucap Salman menyakinkan.



"Siap kalau gitu mah, bakso granat aku datang!" seru Febri senang.



"Dasar," ingin sekali Salman menoyor Febri tapi dia urung.



Mereka berdua pun kembali ke desa sebelah, berharap kali ini mendapat hasil dan bisa melihat makhluk yang menjadi ketakutan dari semua orang.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2