Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Ibu Telah Tiada


__ADS_3

Happy Reading....


"Salman, tolong jaga ini. Dan juga sampaikan permohonan maaf ku pada semua keluarga. Aku minta maaf. Dan aku mohon, mintakan supaya Shalehah tetap berada di pondok. Ibu ingin dia bisa memohonkan ampun kepada Allah akan semua kesalahanku. Aku khilaf, Salman. Aku khilaf."


"Bu, ibu mau ke mana?"


"Sudah saatnya ibu pergi. Tolong sampaikan apa yang aku katakan tadi pada semua anggota keluarga. Ibu juga minta maaf padamu, tolong jaga apa yang menjadi pemberian ibu. Tolong."


Dan lenyaplah Bu Yun terbawa asap hitam yang sangat pekat. Kenapa harus asap hitam? kenapa bukan cahaya yang membawanya seperti mimpi-mimpi pada umumnya.


"Ini bukan sinetron, Salman. Wkwkwk!" ucap Author.


......................


Tok tok tok...


Salman tergugah tidurnya saat terdengar suara ketukan pintu yang sangat keras. Mimpinya akan semua kisah balik Bu Yun sebelum penyakit yang terjadi padanya ini sangatlah jelas.


Antara percaya dan tidak namun Salman masih berharap bahwa itu adalah salah. Itu hanya sebuah mimpi, sebuah bunga tidur yang tidak mungkin benar.


Tapi bagaimana jika itu nyata? Bagaimana jika itu adalah kejadian yang sebenarnya?

__ADS_1


Salman mengusap wajahnya kasar, dia terus menimang-nimang akan kebenarannya. Dia malah termenung melupakan ketukan yang telah membangunnya.


"Itu tidak benar kan? Tidak mungkin ibu melakukan itu kan?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Tok tok tok...


Salman kembali di buat terkejut untuk yang kedua kalinya. Sebenarnya siapa yang datang, ini sudah sangat malam.


"Siapa?" Salman tetap bangun meski dia bertanya-tanya. Tetap melangkah menuju pintu dan cepat membukakan pintu untuk orang yang telah mengganggu istirahatnya.


Tangan perlahan meraih handel pintu, memutar kenop kunci dan membukanya. Ternyata yang datang adalah Anton.


"Anton, kenapa?" Salman mengernyit saat melihat keadaan Anton yang berantakan. Wajahnya begitu aneh, matanya sembab. Apakah dia habis menangis, kenapa?


"Ada apa, Anton? Kenapa kamu menangis?" sangat jelas kalau Anton habis menangis dan dia sangat sedih. Di perjelas lagi dengan air matanya yang kembali turun sebelum dia memeluk Salman dengan tiba-tiba.


"Anton, kenapa. Apa yang sebenarnya terjadi?" pikiran Salman sudah tidak enak, dia sangat yakin ada sesuatu yang telah terjadi.


"Salman. Ibu, Sal. Ibu!" kata-kata Anton sangat tidak jelas untuk Salman masih seperti sebuah teka-teki yang menuntut Salman untuk mencari tau isinya.


"Anton, katakan! apa yang terjadi pada ibu!" Suara Salman keras. Berusaha melepaskan Anton dengan setengah paksa karena Anton begitu kuat memeluknya.

__ADS_1


"I_ibu, Ibu meninggal, Sal." pecah lagi air mata Anton dia kembali memeluk Salman dengan sangat lemas juga pikiran yang sangat kacau.


Tak akan ada ank yang bahagia saat Ibunya tiada. Anak akan kehilangan setengah hidupnya setelah kehilangan ibu atau mungkin kehilangan pasangan tercintanya. Dan kini Anton tengah kehilangan ibunya.


Salman terpaku diam, bahkan dia tak membalas pelukan Anton. Tubuh Salman gemetar, dia tak percaya kalau inilah jawaban dari mimpinya yang begitu panjang.


Padahal Salman juga tidur hanya beberapa jam saja tapi rasanya dia sudah tidur beberapa hari. Seakan Salman mengikuti perjalanan bu Yun juga Seto dari awal mula hingga kini telah berakhir.


"Kamu becanda kan, An?" kini Salman bersuara. Dia tak bisa percaya begitu saja apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Tidak, Sal. Ini nyata. Ibu telah pergi meninggalkan ku, meninggalkan kita semua," suara Anton terdengar sangat meyakinkan.


Tidak mungkin juga Anton akan bercanda dengan kematian Pastilah yang di katakan adalah hal kebenaran.


"Innalillahi wa inna illahi rojiun," ucap Salman.


Berarti senyum kemarin, pertemuan kemarin juga kata-kata bu Yun kemarin yang dia dengar itu adalah sebuah perpisahan.


Sekarang tak akan lagi Salman melihat senyumnya, tak bisa mendengar semua nasihat-nasihatnya. Juga tak bisa melihatnya dalam nyata. Semua hanya tinggal kenangan yang akan menjadi memori di pikiran Salman.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2