Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Sama-sama Ketakutan


__ADS_3

Happy Reading....


Salman juga Febri benar-benar ketakutan saat ini, mereka langsung tancap gas untuk segera pulang.


Rasanya motor sudah melaju begitu cepat tapi anehnya kenapa tidak sampai-sampai di rumah padahal jaraknya juga tidak begitu jauh. Apa yang terjadi? tidak mungkin kan kedua pocong itu menarik motor mereka hingga berjalan mundur?


"Cepat, Feb," Salman terus menepuk pundak Febri, memberikan instruksi untuk melajukan motornya lebih cepat lagi tapi kenyataannya juga tak nyampe-nyampe. Aneh.


"Ini sudah sangat cepat, Sal. Tapi kenapa ya kok kayak nggak jalan begini?" Febri merasa bingung sendiri. Padahal motornya juga terus berjalan tidak hanya stay di tempat yang sama tapi kenapa rak sampai-sampai?


Salman menoleh ke belakang, berharap dia pocong itu tidak mengikutinya atau mungkin sudah hilang dari pandangannya.


"Feb, mereka semakin dekat. Cepat, Feb. Feb!" semakin keras Salman menepuk pundak Febri.


Tak biasanya Salman begini, dia biasanya sangat pemberani bahkan saat hanya satu pocong saja dia terus mengikuti sampai pocong itu berhenti, tapi sekarang? Salman benar-benar tak mengerti dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Padahal tadi dia sangat penasaran ingin mengetahui kebenarannya tapi setelah ada di depan mata dia malah kabur.


Salman sangat merinding, semua bulu kuduknya berjajar rapi di tempat masing-masing. Jantungnya seakan ingin melompat dan keluar saking takutnya.


"Ini bagaimana, Sal. Ini sudah paling cepat," Febri ikut menoleh dan dia ikut panik, dia sangat lebih takut lagi daripada Salman. Salma saja takut apalagi Febri.


Rasanya Febri ingin memilih turun dan berlari saja tapi motor juga rasanya sangat susah berhenti. Motor terus berjalan tapi kenapa rasanya masih ada di tempat yang sama. Dia ingin turun tapi kenapa saat seperti itu motor terasa melaju cepat. Ada apa ini?


"Feb, cepat, Feb!" Berkali-kali Salman menoleh dan dua makhluk yang saling berdampingan itu semakin dekat dengan mereka. Jaraknya bahkan semakin terkikis.


Semakin dekat dan pasti semakin jelas. Bagaimana wajahnya, bagaimana matanya yang merah menyala dan juga semua bentuknya begitu jelas.


"Sal, ini bagaimana?" sekali Febri menoleh dan penglihatannya semakin jelas melihat kedua makhluk yang semakin dekat.


Kapok lah, mungkin itu yang ada di hati Febri. Dia tak akan mau lagi di ajak-ajak oleh Salman lagi jika urusan yang seperti ini. Ini sudah cukup, itupun kalau mereka berdua selamat. Semoga saja mereka bisa pulang dengan selamat dan bisa terlepas dari kedua makhluk itu.

__ADS_1


"Feb!" teriak Salman saat dua makhluk itu tepat berada si belakangnya dan seolah tersenyum dan menyapanya.


"Fe_Feb," ucapan Salman terbata dengan raut wajah yang sangat pucat begitu juga dengan Febri yang juga sama.


Lampu-lampu seolah ada yang memainkan kadang menyalah dan kadang-kadang mati, hembusan angin juga terasa tak bersahabat.


Seluruh tubuh keduanya seperti sedang keram sama sekali tak bisa bergerak. Semakin terasa saat kedua makhluk itu semakin tak punya jarak dengan mereka berdua.


Hingga akhirnya motor mereka langsung melaju dengan benar-benar cepat saat ini.


Hingga akhirnya motor mereka melaju dengan cepat.


Bremmmm....


Motor melaju dengan kekuatan tinggi, seolah membelah jalan yang jauh dari perkotaan.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2