Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Apa sebenarnya yang terjadi


__ADS_3

...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


"Tolong...! tolong...! akh, sakit sekali. Tolong lepaskan aku, akh.. akh..."


Batin Bu Yun terus memekik kesakitan, dia masih saja terus berada di atas awang karena ulah dari makhluk yang tak kasat mata.


Padahal makhluk yang ada di hadapannya tak melakukan apapun tapi kenapa Bu Yun bisa tertarik semakin tinggi? apakah mungkin itu adalah ilmu dari mahluk itu yang melakukannya?


Kekuatan Bu Yun ya selama ini dia pelajari seolah tak berguna lagi sekarang, semua terasa hilang dan tak bisa di gunakan. Apakah benar kata dari orang, bisul yang keluar di tubuh Bu Yun menandakan keluarnya semua ilmu yang di pelajari selamanya ini. Juga semua ilmu yang di wariskan dari leluhurnya? entahlah tapi sepertinya memang seperti itu.


Berkali-kali Bu Yun berusaha menggunakan ilmunya tapi dia tak berhasil, dia tak bisa melumpuhkan makhluk yang ada di depannya. Jangankan untuk menaklukkan melindungi dirinya saja dia tidak bisa.


Tok... tok... tok...


"Buk, buka pintunya! Buk!"


Pintu terus di ketuk dari luar tapi makhluk gitu sama sekali tak mau melepaskan Bu Yun yang sudah sangat kesakitan bahkan sudah tidak kuat lagi untuk bertahan.


"Bapak, Deri! tolongin ibu! Bapak!"


Teriakan dalam hati tentunya tak akan mendapatkan jawaban sama sekali dari orang yang ada di luar. Mereka saling berusaha, Bu Yun dengan usaha ingin terlepas sementara koh Fei juga Deri berusaha untuk bisa membuka pintu dan masuk.


Pranks....


Suara benda terlempar terdengar sangat jelas dari telinga koh Fei juga Deri membuat mereka berdua semakin tak sabar untuk bisa masuk dan bisa menyelamatkan Bu Yun. Mereka tau dan sadar betul pasti Bu Yun tengah mengalami masalah yang besar. Kalau tidak dia akan membukakan pintu meski menguncinya, tapi sekarang?


"Buk! buka pintunya, Buk!" Koh Fei terus berusaha.


Keduanya juga terus berusaha untuk mendobrak pintu tapi belum juga berhasil. Bahkan sudah ada beberapa orang juga yang datang untuk membantu membukakan pintu tapi masih nihil. Mereka belum bisa.


"Pak, apa yang terjadi dengan ibu, Pak? Deri sangat takut terjadi sesuatu padanya." Deri begitu gelisah, dia terus berusaha untuk mendobrak pintu ruangan Bu Yun.


"Bapak juga tidak tahu apa yang terjadi, Der. Tapi Bapak yakin terjadi sesuatu padanya," jawab Koh Fei.

__ADS_1


Usaha yang terus di lakukan akhirnya mulai membuahkan hasil. Pintu mulai bergerak dan perlahan-lahan handle pintu juga mulai terlihat akan jebol.


Semua seolah tak peduli dengan pintu yang akan rusak tapi mereka lebih mempedulikan Bu Yun yang berada di dalam dan entah seperti apa dia sekarang, entah apa yang terjadi kepadanya juga.


Suhu ruangan semakin memanas peluh Bu Yun mulai keluar dengan disertai ringisan kesakitan yang semakin luar biasa.


Semakin panas dan semakin panas. Semakin pintu mulai terbuka suhu ruangan semakin panas seolah akan memanggang Bu Yun.


Brakk...


"Akkk... bruk.. bruk.. bruk.."


Semua orang yang berusaha membuka pintu akhirnya terpental jauh dari pintu saat pintu itu terbuka. Kekuatan yang sangat besar seakan menyerang mereka dengan sangat kuat.


Semua orang mengadu sakit, bagaimana tidak sakit kalau mereka bukan hanya sekedar jatuh saja tapi mereka juga terbang lebih dulu sebelum mereka terpental dan jatuh di lantai.


Seiring jatuhnya mereka semua Bu Yun juga di banting dan jatuh di lantai juga. Bukan hanya merasakan sakit saja tapi Bu Yun juga hampir mati karena kepala juga punggungnya terbentur tembok.


Bu Yun masih sempat sadarkan diri kala itu, tapi itu tak lama karena setelah itu Bu Yun hilang kesadaran, Bu Yun pingsan di tempat dia jatuh.


Seketika orang yang membantu koh Fei juga Deri langsung kocar-kacir melarikan diri karena ketakutan, mereka belum pernah mengalami hal itu selama bekerja di rumah sakit, dan sekarang?


"Lariiii...!" seru mereka bersamaan.


Sementara koh Fei juga Deri hanya terperangah melihat pocong itu yang menoleh dan melihat mereka berdua dengan mata tajamnya.


Deri ataupun koh Fei juga sangat takut sebenarnya tapi mereka juga tak bisa lari karena Bu Yun ada di dalam dan pasti membutuhkan pertolongan mereka.


"Pak, pak," tangan Deri menggagahi koh Fei yang ada di sebelahnya. Mereka berdua juga masih belum berdiri.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Pak, kenapa Ibu?" pertanyaan Deri terhenti saat tiba-tiba pocong itu menghilang dari pandangan mata mereka.


"Di mana makhluk itu?" perlahan koh Fei berdiri dia berjalan pelan dan mengendap-endap untuk memastikan makhluk itu sudah benar tidak ada di di ruang itu.

__ADS_1


Deri juga ikut serta, berdiri dan melangkah di samping koh Fei untuk menghampiri Bu Yun.


Tak lagi terlihat makhluk itu ada di ruangan itu, hanya ruangan yang tadinya rapi sekarang hancur berantakan. Mereka berdua juga langsung mencari Bu Yun yang pingsan.


"Buk!"


"Ibuk!"


Keduanya langsung berlari setelah melihat Bu Yun yang tersungkur di lantai dengan tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat sangat pucat bahkan di bagian lehernya juga memerah seolah terdapat bekas akibat tercekik sesuatu.


"Bu, bangun Bu. Buk!" Koh Fei berusaha membangunkan Bu Yun deri menepuk-nepuk pipinya hingga berulang kali. Begitu juga dengan Deri yang terus menggosok tangan ibunya.


"Buk, bangun Buk, Buk!" koh Fei langsung mengangkat tubuh lemah istrinya dibaringkan di atas brangkar tempatnya yang tadi.


Sementara Deri berinisiatif untuk memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Bu Yun, "Aku akan panggil dokter," ucapnya dan langsung berlari sebelum mendengar jawaban dari koh Fei.


"Hem..." meski sudah tak di dengar lagi oleh Deri tapi Koh Fei tetap menjawabnya.


"Bu, bangun. Sebenarnya apa yang telah terjadi. Setelah ibu bangun ibu harus menceritakan semuanya kepada bapak," ucap koh Fei dengan sangat pelan sembari membenarkan kaki Bu Yun dan menyelimutinya supaya lebih hangat.


Tak lama seorang dokter laki-laki datang juga beberapa perawat di belakangnya. Tentu, Deri juga tak ketinggalan.


"Biar saya cek sebentar. Lebih baik kalian tunggu di luar," perintah sang dokter.


"Tapi, Dok?" Deri sangat enggan untuk meninggalkan Ibunya takut saja kalau kejadian tadi kembali terulang dan semakin membahayakan nyawa Bu Yun.


"Kami mohon, tolong patuhi prosedurnya. Atau kami tidak akan lagi merawat pasien dengan benar jika kalian tetap kekeh," terdapat sebuah ancaman dari Dokter membuat koh Fei juga Deri tak bisa melakukan apapun lagi kecuali hanya menurut saja apa yang dokter itu minta.


"Baik Dok, tapi kami mohon, pastikan keadaannya baik-baik saja."


"Kami akan berusaha sebisa mungkin, Pak. tolong secepatnya tinggalkan kami," dokter tetap kekeh.


"Hem.." Deri juga Koh Fei hanya bisa mengangguk pasrah. Mungkin semua memang harus begitu.

__ADS_1


◦•●◉✿_✿◉●•◦


Bersambung...


__ADS_2