
...◦•●◉✿- ✿◉●•◦...
Salman terus membuntuti pocong itu dari belakang, memastikan kalau dia tak akan salah lagi sekarang. Salman terus berharap kalau pocong itu tidak berhenti di tempat kedua orang tua angkatnya.
"Aku pasti salah, kemarin pasti tidak benar kan?" gumamnya yang sangat pelan.
Bukan hanya suaranya yang pelan tapi langkah kakinya juga sama lebih pelan lagi.
Bugh...
"Kurang ajar kau, Sal! tega-teganya kau mengerjai ku lagi. Nggak kawan, Luu!" umpat Febri sangat dongkol.
Febri hanya berdiri di belakang Salman, terus di belakangnya bahkan kedua tangannya juga terus berpegangan dengan baju Salman. Febri tidak mau sampai di tinggal lari dan dikerjai lagi seperti tadi.
"Stts! kalau kamu nggak diam aku tinggal lari ya. Cerewet amat sih lu jadi laki. Laki itu bayem, cep!" seketika mulut Salman tertutup olehnya sendiri. memperagakan pada Febri apa yang harus dia lakukan yaitu diam.
"Iya bawel!"
"Bisa diem nggak?!" Salman menekankan.
"Iya-iya!" Febri semakin kesal di buatnya. Sahabatnya itu selalu saja semaunya sendiri padahal Febri juga belum rampung memarahi Salman. Tapi tak apalah, marahnya bisa di pending dulu, di tabung hingga banyak lalu nanti tinggal di bobol kalau sudah nggak muat.
Mata keduanya kembali fokus dengan pocong itu yang belum juga berhenti. Mereka berdua juga terus berjalan semakin dekat.
Hingga akhirnya Salman juga Febri berhenti karena pocong itu juga berhenti. Lagi-lagi Salman merasa kecewa, keinginan tidak terwujud karena pocong itu tetap berhenti di depan rumah koh Fei.
"Disini lagi?" Febri yang berucap sementara Salman hanya diam.
Salman ataupun Febri tertegun mereka terus melihat, dia pikir pocong itu akan memutari rumah itu sama seperti kemarin tapi ternyata Salman salah lagi. Pocong itu kini masuk ke dalam rumah dan langsung hilang dari jangkauan mata mereka berdua.
Keduanya hanya bisa saling lempar pandang dalam kebingungan, kenapa bisa pocong itu masuk, sebenarnya apa yang dia inginkan.
Bagaikan kena asap yang terdapat obat tidur mereka berdua langsung merasakan kantuk yang sangat luar biasa. Mereka hanya bisa menunggu sesaat sampai pocong itu kembali keluar tapi ternyata tidak muncul lagi.
__ADS_1
"Pulang yuk, Sal. Ngantuk nih!" ajak Febri.
Mata mereka memang sudah sangat merah, dia mengantuk sangat luar biasa.
"Hem.." Salman setuju dan akhirnya mereka berdua benar-benar pulang. Mengabaikan pocong itu dan entah apa yang dia inginkan.
...◦•●◉✿-✿◉●•◦...
Mata Bu Yun sudah terpejam karena memang sudah sangat larut malam. Bukan hanya karena memang sudah mengantuk, tapi karena dia juga sedang tidak enak badan.
Tubuhnya bahkan menggigil karena merasa kedinginan, padahal suhu tubuh sebenarnya sangat panas.
Bahkan dalam keadaan tidur Bu Yun juga meracau tak jelas entah apa yang dia katakan tapi koh Fei yang tidur di sebelahnya sama sekali tidak tau apa yang di katakan.
"Hemm... hem...," hanya suara itulah yang bisa di dengar oleh Koh Fei yang kini tak bisa tidur melihat keadaan istrinya yang terlihat sangat tersiksa.
Angin berhembus perlahan, menggerakkan korden yang menutupi jendela. Koh Fei bingung, darimana angin itu datang padahal semua tertutup rapat. Bahkan tak ada celah sama sekali untuk angin bisa masuk.
Prankk...
Tanpa rasa takut koh Fei keluar dari kamar, pergi ke arah sumber suara dengan santai. Tapi juga ada sedikit was-was kalau ternyata ada maling yang datang.
"Anton! Deri!" teriak koh Fei memanggil anaknya. Mungkin ada salah satu dari anaknya yang terbangun dan tak sengaja menjatuhkan sesuatu, pikir Koh Fei.
Koh Fei terus berjalan, dia juga celingukan melihat segala arah. Hingga cukup jauh dia tak melihat ada apapun barang yang jatuh, dia juga tidak melihat salah satu anaknya bangun.
Koh Fei memutuskan untuk kembali, baru saja di memutar kakinya untuk kembali matanya melihat pigura yang jatuh. Pigura yang terdapat foto bu Yun yang jatuh dan kacanya pecah berserakan.
"Ada apa ini?" Koh Fei bingung, tapi dia tetap membungkuk untuk mengambil foto istrinya. pigura bisa di ganti besok dan dia hanya perlu menyimpan fotonya saja.
"Akkk...!" suara teriakan dari bu Yun begitu keras di dengar oleh koh Fei, dengan cepat dia berlari untuk memastikan keadaan istrinya yang tadi terlihat nyenyak saat dia tinggal.
Sementara di dalam kamar Bu Yun baru saja terbangun dengan keadaan yang sangat ketakutan. Dia panik, takut juga keringat dingin terus mengucur bebas dari pori-pori wajahnya.
__ADS_1
Bu Yun yang sudah duduk terlihat sangat ketakutan. Mata terbelalak memandangi sesuatu yang ada di depannya.
"Tidak, tidak! saya tidak mau ikut denganmu, tidakkkk!!" bu Yun teriak frustasi.
Satu hal yang jelas Bu Yun lihat pocong bermata merah itu berdiri tepat di depannya. Dia ingin mengajak Bu Yun pergi sama-sama ke dunianya yang sekarang.
"Tidak, tidak! saya tidak mau ikut denganmu, tidak!" teriaknya lagi.
"Ikuuttt..." suara itu terdengar samar-samar tapi tetap jelas di telinga Bu Yun.
Bu Yun semakin ketakutan ketika pocong itu semakin mendekat ke arahnya. Duduknya semakin mundur hingga akhirnya berhenti karena punggungnya terbentur kepala ranjang yang terbuat dari kayu.
Pocong bermata merah itu terus mendekat, membuat Bu Yun ketakutan dan kini terus menunduk menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan yang di atas kedua kakinya.
"Bu!" koh Fei berlari setelah melihat keadaan istrinya sekarang yang sangat ketakutan. Berusaha menyentuhnya dan menyadarkannya.
"Jangan, jangan sentuh saya! lepaskan!" teriaknya. Ternyata Bu Yun masih mengira kalau yang menyentuhnya adalah pocong tadi padahal dia adalah suaminya sendiri.
Bu Yun begitu ketakutan bahkan dia terus menyingkirkan tangan koh Fei yang ingin menyentuhnya.
"Bu! ini aku, Bu!" ucap koh Fei yang ada di hadapannya.
"Tidak, pergi-pergi!" teriak Bu Yun.
Koh Fei begitu bingung, sebenarnya apa yang membuat istrinya itu ketakutan sampai seperti itu padahal tidak ada apapun di sana.
"Bu, ini aku!" ucapnya dan terus berusaha menyadarkan Bu Yun.
"Pak!" Bu Yun langsung memeluk suaminya setelah dia tau yang ada di sana adalah Koh Fei.
"Ibu kenapa?" tanya koh Fei dan Bu Yun menggeleng tak mau memberitahu apa yang dia lihat dan membuat dia ketakutan.
...◦•●◉✿-✿◉●•◦...
__ADS_1
Bersambung....