
...◦•●◉✿- ✿◉●•◦...
Semakin tak karuan perasaan Salman saat ini. Perjalanannya sama sekali tak bisa tenang, dia terus kepikiran dengan keadaan Bu Yun. Entah kenapa tapi dia begitu was-was dan begitu gelisah.
Malam yang semakin larut tapi masih saja harus membawanya kembali ke rumah sakit untuk memberikan air yang di berikan oleh pak Kyai tadi. Di tengah-tengah perjalanan Salman kembali merasakan tak enak. Sepertinya ada halangan lagi yang akan kembali mengganggunya. Dan berusaha menghalanginya.
Langkah kakinya kembali merasa berat. Bukan hanya kakinya melainkan seluruh tubuhnya juga merasa sangat berat bahkan di punggungnya terasa ada menahannya membuat Salman sulit untuk bergerak.
Sekujur tubuhnya terasa kaku bahkan terasa mati dan sama sekali tak berfungsi. Salman sangat bingung, apa yang harus dia lakukan karena dia juga harus cepat sampai ke rumah sakit dan menolong bu Yun yang pasti tengah merasa tersiksa dengan penyakitnya yang sungguh aneh.
"Astaghfirullah hal 'azim," istighfar berkali-kali Salman ucapkan juga bukan itu saja tetapi seruan untuk memuji Allah dan memohon pertolongannya juga dia lafalkan tapi ternyata belum juga membuatnya bisa bebas untuk bergerak bahkan kini semakin susah dan membuatnya terasa sesak.
Usaha Salman begitu besar meski dengan sangat susah tapi dia terus berusaha. Ta'awudz juga Salman mengucapkan berkali-kali seraya kakinya perlahan mulai bergerak untuk melangkah dan semakin mendekati rumah sakit yang sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh.
Kabut hitam mengepul, menghadang langkah Salman yang semakin mendekati rumah sakit. Atmosfer seketika berubah menjadi tak biasa dan begitu menyiksa Salman hingga rasa sakitnya seolah menusuk sampai ulu hati.
Suara hewan malam bersahut-sahutan saling berebut ruang tepat di atas kepala Salman dan seolah memutar dirinya bersamaan dengan hembusan angin sedingin es namun anehnya membuat Salman mengeluarkan keringat yang begitu banyak.
Lampu pinggir jalan terus berkedip seolah dipermainkan oleh seseorang padahal malam itu sudah begitu sepi dan tidak ada siapapun lagi kecuali Salman yang masih terus berusaha untuk bisa sampai ke rumah sakit.
"Allahu Akbar.... Subhanallah walhamdulillah walaila ha illallah Allahu akbar," tasbih tahmid juga tahlil terus Salman ucapkan. Dia ingin bisa terbebas dari gangguin makhluk yang sampai sekarang belum juga dia lihat wujudnya tapi sepertinya sudah terdapat tanda akan kehadirannya.
__ADS_1
Semakin dekat dengan rumah sakit langkah Salman semakin berat bahkan matanya seolah tak bisa menjangkau rumah sakit yang hanya berjarak sedikit saja dari tempatnya sekarang. Itu semua diakibatkan karena adanya kabut hitam yang mengepul dan menutupi keberadaan rumah sakit.
"Ya Allah, niatku baik. Aku hanya ingin menolong Ibu. Tolong bantu aku ya Allah, jangan biarkan langkahku kalah dengan kejahatan dari Jin yang sebenarnya juga ciptaan-Mu," ucap Salman dengan begitu berharap akan mendapat bantuan dari Allah seperti biasanya.
Mata Salman terbelalak saat melihat di tengah-tengah kabut hitam yang yang akan menjadi jalannya untuk sampai ke rumah sakit ada sosok putih, tinggi, bermata merah yang berdiri tegak menghadangnya dia adalah si pocong bermata merah.
Seruan istighfar kembali terdengar dari mulut Salman hingga berkali-kali. seruan pujian akan Allah juga tidak terlupakan darinya Salman hanya memohon pertolongan kepada Allah dari makhluk itu yang sebenarnya jin entah setan yang berwujud pocong bermata merah.
"Aku tidak boleh kalah, aku harus bisa sampai ke rumah sakit dan menolong Ibu," tekad Salman sudah bulat dia harus tetap sampai ke rumah sakit meskipun dia harus menerjang makhluk itu dengan segenap kekuatan yang dia miliki.
Padahal Salman sendiri tidak yakin akan bisa menerjangnya tapi dia akan berusaha untuk bisa semua itu dia lakukan semata-mata niatnya untuk membantu bu Yun yang sedang sakit parah di rumah sakit.
"Allahu Akbar," suara Salman terdengar berat saat mengucapkan takbir. kakinya perlahan kembali melangkah dan tak peduli dengan pocong bermata merah yang terus berusaha mengeluarkan kekuatannya untuk menghentikan Salman.
"Aku harus bisa," ucap Salman lagi dengan teguh pada pendiriannya, menghilangkan rasa takut yang sebenarnya sangat besar dalam dirinya tapi Salman percaya kalau Allah tidak akan meninggalkannya Allah akan selalu menjaga hamba-Nya yang selalu memohon pertolongan.
Angin semakin besar kabut hitam juga semakin pekat membuat mata Salman semakin tak jelas melihat arah depan dan membuatnya bingung untuk melangkah. Tetapi Salman begitu heran dalam kegelapan itu dia tetap bisa melihat sosok makhluk yang begitu mengerikan.
Angin yang begitu besar membuat langkah Salman begitu susah bahkan dia tidak melangkah maju melainkan melangkah mundur dan semakin jauh dengan rumah sakit.
Begitu besar kekuatan makhluk itu hingga Salman tak bisa menandinginya. Salman tahu kalau dirimu juga tidak memiliki apapun untuk melawan pocong itu. Istilah orang Jawa Salman masih kosong belum memiliki apapun tapi Salman juga tidak tertarik dengan hal yang seperti itu atau mungkin dia memang belum menginginkannya.
__ADS_1
Hanya doa-doa yang bisa Salman ucapkan berharap dengan semua usahanya dia bisa melawan pocong itu dengan bantuan Allah semata.
Lambat laun usaha Salman seolah membuahkan hasil kakinya perlahan mulai melangkah maju kembali menerjang angin yang sudah menjadi badai disertai kabut hitam yang begitu menyiksa dirinya dengan suhu yang berbeda.
"Bismillahirrahmanirrahim... Allahu Akbar..!" kembali Salman menyerukan takbir seiring langkahnya yang terus maju.
Pertarungan sengit antara Salman dan juga pocong bermata merah terjadi begitu lama meskipun bukan adu jotos ataupun dengan kekuatan fisik melainkan melainkan dengan kekuatan gaib yang Salman tidak mengerti.
Duarrr....
Suara keras terdengar tepat di atas kepala Salman membuatnya begitu terkejut dan menghentikan langkah. Saking terkejutnya Salman langsung menyerukan istighfar hingga berkali-kali.
Setelah suara ledakan yang tidak tahu itu ledakan apa perlahan angin mulai mengecil badai mulai menghilang bersamaan dengan kabut hitam pekat yang mengelilinginya, suara hewan malam perlahan mulai menjauh dari atas kepala Salman.
Salman sedikit lega karena perlahan matanya bisa melihat rumah sakit yang ada di depannya dan kini semakin jelas terlihat. Salman tersenyum tipis saat kabut hitam benar-benar hilang dari sekitarnya.
Cepat Salman berlari ke rumah sakit dan masuk ke sana untuk segera menolong bu Yun yang entah bagaimana keadaannya sekarang.
◦•●◉✿_✿◉●•◦
Bersambung....
__ADS_1