Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Febri Yang Sok Berani


__ADS_3

Happy Reading.....


Bersiap Salman untuk kembali ke rumah koh Fei untuk mengikuti acara doa bersama di sana. Tentu Salman tidak sendiri, ada Febri yang juga ikut.


"Sal, setelah selesai kita langsung pulang kan nanti?" Tanya Febri seraya mengambil kunci motor yang ada di saku jaket yang dia pakai saat ini.


"InsyaAllah, Kalau sudah selesai ya pulang lah. Tidak mungkin menginap di dana kok. Tenang," jawab Salman.


Salman tersenyum seraya menyentuh bahu Febri dan mereka mulai melangkah bersama menuju motor Febri.


Motor melaju pelan berangkat ke rumah koh Fei yang tak begitu jauh. Tapi akan lebih cepat jika mengendari motor kan?


Tak ada perasaan apapun saat keberangkatan mereka. Cuaca terang berbintang, juga udara yang tak begitu dingin.


Tak lama motor berhenti di depan rumah koh Fei, semua tetangga sudah berdatangan. Sebagai sudah duduk di tempat yang sudah di siapkan tapi masih banyak juga yang baru masuk pekarangan rumah.


Kedatangan Salman tentu di sambut baik oleh keluarga koh Fei, bahkan ada Deri juga Anton yang juga ada di depan.


"Sabar ya, An." ucap Salman.


"Hem," Anton mengangguk. Baginya Salman bukan hanya sahabat atau saudara angkat tapi Salman benar-benar seperti saudara sendiri. Saudara kandung.


"Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang, Sal," ucap Anton.


Sementara Deri tersenyum senang karena Salman tetap datang untuk ikut mendoakan ibunya.


"Terima kasih, Sal," bukan hanya Anton tapi Deri juga mengatakan hal yang sama. Tentu mereka berdua sangat berterima kasih atas kedatangan Salman dengan Febri sahabatnya.


"Sama-sama, Bang. Hanya ini yang bisa Salman lakukan untuk ibu," seulas senyum keluar dari bibir Salman.

__ADS_1


Setelah berbincang sebentar di depan rumah Salman juga Febri masuk dan di sana dia mereka bertemu dengan koh Fei yang masih terlihat sedih.


Jelas lah, suami mana yang tidak akan bersedih saat di tinggal oleh orang terkasih untuk selamanya. Begitu juga dengan koh Fei kan?


Salman mendekat, menyalami koh Fei yang kini berusaha tersenyum meski terasa sangat berat.


"Sabar ya, Pak. Harus ikhlas," ucap Salman.


"Hem, terima kasih," anggukan kecil koh Fei berikan.


Senyum yang sangat berat Salman lihat jelas dari koh Fei, sesekali dia juga melamun. Mungkin dia masih memikirkan bu Yun yang baru saja tiada. Semua kenangan pasti akan selalu tersimpan rapat di hatinya.


Setelah semua orang sudah datang doa di mulai dan di pimpin oleh ustadz desa. Sama-sama mereka mengirim doa untuk bu Yun.


Seperti itulah kebiasaan di sana setelah ada orang yang tidak. Biasanya akan berlangsung selama tiga hari tapi ada yang samo tujuh hari. Dan setelahnya berlanjut di hari ke empat puluh dan ke seratus dan seterusnya.


...****************...


Sebenarnya ada yang aneh sih, Salman yang biasanya begadang sampai tengah malam dan saat itu mengantuk di jam setengah sembilan.


Tapi tak di ambil pusing oleh Salman karena dia berpikir mungkin itu terjadi karena kelelahan.


Tak terfikir ada yang aneh di benak Salman, di pagi hari dia juga Febri bekerja sama seperti biasanya. Namun, di saat Salman bekerja ada salah satu teman yang bercerita kalau ada sepasang pocong yang berkeliaran.


Bukan hanya satu lagi, tapi dua. Tentunya dengan wujud yang sama sangat menyeramkan dengan mata menyala dan berwarna merah.


"Kalian tau nggak, katanya ada orang yang melihat sepasang pocong yang berkeliaran semalam."


"Sepasang," imbuhnya menegaskan.

__ADS_1


"Kapan, aku tidak melihatnya, padahal aku juga Salman dari kampung sebelah semalam untuk ke koh Fei," Febri menjawab.


"Iya kan, Sal?" imbuh Febri bertanya.


Salman tidak menjawab dia hanya tersenyum saja. Itu sudah menjadi jawaban untuk semuanya.


"Mana aku tau, ya mungkin mereka tidak mau menemui mu kamu kan suka bau keringat," ledek nya pada Febri.


"Kecut kau!" kesal Febri.


"Hahaha, kan emang benar toh!" tawanya menggelegar.


Salman terus diam, lagian dia tidak tau kejadian yang sebenarnya seperti apa. Kalau dia tau pun juga tidak mungkin dia akan bercerita.


"Hih, kok sekarang lebih ngeri ya. Dua loh, hii!" Febri sudah langsung bergidik padahal ini juga dalam posisi terang benderang dan tak mungkin kan tuh pocong akan nongol.


"Di belakang mu, Feb!" teriak Ilyas.


"Haaa!" Febri langsung melompat dan minta gendong Doni. Jelas itu menjadi bahan tertawaan untuk semuanya.


Sok berani nyatanya Febri sangat takut berat.


"Apa sih, Feb. Di belakang mu kan hanya Salman." ucap Doni.


Hahaha....


Semuanya tertawa terbahak-bahak melihat ketakutannya Febri.


"Dasar kecut semua kalian!" kesal dan semakin kesal si Febri dia langsung turun dari Doni tapi tetap saja menjadi tertawaan.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2