
Hembusan angin begitu dingin menusuk kulit yang sebenarnya sudah tertutup dengan kain tebal. Hawa dinginnya begitu mampu menggerakkan tubuh yang mulai gemetar, bahkan hembusan nafas juga terlihat keluar asap putih karena begitu kedinginan.
Dengan motor yang sudah berhenti di pertigaan jalan Febri juga Salman turun, mereka duduk sejenak di pos kamling sebelum maghrib tiba.
Tak lama keduanya mendengar suara azan dan setelah itu mereka berdua pergi menuju masjid untuk shalat berjamaah.
"Kita shalat aja dulu, nanti kita ke sini lagi," Ajak Salman.
"Hem..." Febri mengangguk tak semangat, seharusnya dia duduk-duduk dan istirahat di tempat kerjanya tetapi kali ini gara-gara Salman dia harus merasakan dinginnya malam di desa berhantu baginya.
Febri mengikuti Salman menuju masjid. Setelah keduanya sampai di masjid suara Iqamah langsung terdengar. Salman maupun Febri juga langsung buru-buru untuk mengambil wudhu karena mereka juga tidak mau ketinggalan shalat berjamaah.
\*\*\*\*
"Alhamdulillah," Begitu lega Salman sekarang setelah selesai menjalankan kewajibannya atas sang Tuhan.
Salman menoleh, dia berhenti karena menunggu Febri yang belum juga keluar dari masjid. Jika semakin lama lagi maka harapan untuk bisa melihat makhluk itu pasti tidak akan terwujud untuk sekarang.
Salman terus menoleh dan kali ini Febri sudah muncul dari dalam masjid dengan wajah datarnya.
"Cepat Feb, kita tidak punya banyak waktu lagi," Salman sudah tidak sabaran, dia ingin secepatnya melihat pocong yang selama ini menjadi ketakutan untuk semua orang di desa.
"Iya iya! Bawel kali sih kamu kayak cewek saja," gerutu Febri.
Meski menggerutu tetapi Febri tetap mengikuti Salman yang sudah lebih dulu berjalan. Febri juga sedikit berlari kecil supaya bisa mengejar dan menyamakan langkah Salman kalau tidak dia pasti akan jauh di belakangnya, bagaimana kalau sampai makhluk itu datang dan berjalan di belakangnya.
"Hih.. " Febri celingukan sembari melangkah, bulu kuduknya juga sudah langsung berjajar rapi saat dia mengingat akan bayangan makhluk yang biasanya tak kasat mata tetapi tidak untuk makhluk itu yang selalu dapat di lihat oleh mata-mata telanjang bahkan orang yang sama sekali tidak memiliki keahlian khusus dengan mata batin pun bisa melihatnya.
"Salman, tungguin ngapa sih! Jalan cepat banget kek di kejar macam," ucap Febri.
Salman tetap diam, tak menanggapi apa yang Febri katakan. Salman sudah tidak sabar untuk bisa sampai di tempat dimana makhluk itu akan selalu muncul.
Sampai di tempat yang tadi Salman langsung diam menunggu, matanya terus memandangi ke segala arah siapa tau dia dapat melihat makhluk itu kali ini.
__ADS_1
Salman duduk menunggu yang langsung di susul oleh Febri yang juga sama, dia duduk di sebelah Salman dengan nafas yang ngos-ngosan.
Kuk... Kuk... Kuk...
Suara burung hantu yang kembali terdengar, burung yang tidur di siang hari dan akan terbangun untuk mencari mangsa di saat malam hari.
kedua tangan Febri saling memijat lengannya, dia mulai merasakan dingin yang sangat luar biasa.
"Salman, kok udaranya jadi dingin banget kayak gini ya? Apakah dia akan benar-benar keluar kali ini?" Febri sudah merinding takut. Dia ingin menjadi berani seperti Salman tetapi itu rasanya sangat susah, dia tidak seberani Salman dalam urusan hal-hal gaib seperti ini.
Tidak seperti Febri yang sudah mulai ketakutan tapi Salman masih terlihat biasa-biasa saja. Dia tetap acuh ya meski dia sendiri juga merasa dingin tetapi itu sama sekali tidak mempengaruhi keinginannya.
"Kamu takut?" mata Salman melirik dan sahabatnya itu menggeleng tak mau mengakuinya.
"Oh, syukurlah kalau begitu," Salman kembali melihat arah tadi, dia sama sekali tidak mau terlewat meski hanya satu detik saja.
Febri juga sesekali melirik dia sebenarnya takut tetapi dia juga sangat penasaran. Sebenarnya seperti apa makhluk itu, apakah menyeramkan atau sebaliknya imut dan unyu-unyu gitu ya.
"Keliling bagaimana maksudnya?" wajah Febri sudah terlihat berbeda dari sebelumnya yang sedikit tenang tapi sekarang dia terlihat jelas kalau dia takut, "nggak ah! Kita nunggu saja di sini. Siapa tau nanti tuh makhluk penasaran nongol di mari," imbuhnya yang sudah langsung paham dengan apa yang Salman inginkan.
"Ayolah, Febri. Sekalian kita lihat-lihat keadaan desa ini kan?" kekeh Salman membujuk.
"Gue itu bingung deh sama kamu, Sal. Kamu itu begitu getol pengen liat makhluk itu untuk apa sih! Jangan bilang ini adalah salah satu efek dari jomblo kelamaan," ujar Febri asal tebak.
"Ya mungkin kamu pengen tau itu makhluk cantik, seksi atau sebaliknya. Nggak dapat cewek cakep makanya lo penasaran sama pocong itu. Kamu nggak niat jadiin dia gebetan kan?"
"Huss! Sembarangan kalau ngomong. Aku bukan pemuja jin dan sejenisnya ya, aku masih waras masih punya akal sehat!" tak terima Salman dikatain seperti itu oleh Febri hingga akhirnya Salman beranjak dan mulai berjalan meninggalkan Febri.
"Lah, kok gue di tinggal. Sal... Salman..! Tunggu!" teriak Febri. Dengan gerak cepat Febri beranjak dia juga langsung berlari mengejar Salman yang meninggalkannya.
Kak... Kak... Kak...
Suara dari burung gagak membuat Febri mendongak untuk melihat, meski di malam gelap Febri bisa melihat dengan jelas kalau gagak itu terus berputar-putar di atas salah satu rumah di desa itu.
__ADS_1
"Kenapa gagak itu ada di atas rumah orang tua angkat Salman?" Febri terlihat begitu bingung, dari kata-kata yang pernah dia dengar kalau burung gagak membawa hal yang tidak baik, apakah itu benar?
"Sal.. Salman...!" Febri memanggil Salman dia ingin sekali mengatakan itu kepadanya, memberitahu apa yang telah dia lihat.
"Loh, Salman di mana?" Febri terus menoleh, matanya menerawang jauh dan ke segala penjuru bahkan Febri juga berkali-kali berputar-putar untuk mencari Salman tetapi temannya itu tidak terlihat lagi, "Salman... Salman...!" teriaknya berulang-ulang.
"Astaga, sepertinya gue di tinggal nih," Febri sudah merinding, tengkuknya juga sudah mulai tebal juga panas.
"Sialan nih Salman," gerutunya.
Kak... Kak... Kak....
Burung gagak yang kini bertengger di atas atap rumah Koh Fei membuat Febri semakin tak karuan, burung gagak datang karena memberikan isyarat bahwa ada makhluk tak kasat mata juga datang dan itu sangat di percayai oleh Febri.
Tak tak tak...
"Itu suara apa lagi sih," Bulu kuduk Febri semakin tegak berdiri, suaranya juga sudah terdengar gemetar tak seperti awal tadi.
Krek.. Krek... Krek...
Suara yang di hasilkan dari gesekan pagar menambah alunan yang semakin ramai dalam keheningan, bersamaan dengan angin yang berhembus juga dengan kabut yang datang.
"I-ini kenapa? Benarkah dia akan datang?" Jantung Febri berdetak tak karuan, tetapi kakinya terasa sangat susah untuk di gerakan Febri hanya berdiri dalam ketakutan tanpa bisa bergerak kemana-mana seolah ada yang menahan kakinya.
"Mbah, jangan ganggu Febri ya. Febri hanya di ajak temen kok," ucapannya sudah gugup takut.
Mungkin ada kesalahan besar yang dia lakukan kali ini, yaitu kenapa dia harus ikut dengan Salman yang sekarang malah entah berantah dimana keberadaannya.
"Salman.. Salman..." Suara Febri semakin keder dia juga sudah menutup mata karena tak mau sampai melihat hal yang tidak mau dia lihat.
"Feb..." Suara bisikan terdengar di telinganya, memanggil namanya di barengi hembusan yang masuk ke indera pendengaran.
"Salman..." ingin sekali Febri menangis, tapi tidak laki dong kalau dia menangis. Takut dan gemetaran saja itu sudah terlalu, bagaimana kalau menangis?
__ADS_1
~~~¥¥~~~
Bersambung....